Beberapa minggu sudah berlalu, tapi tak ada yang berubah dari sikap kasar Taehyung, ia tetap saja marah untuk segala hal. Pasti ada saja yang salah di matanya.
Untung-untung hanya cacian yang dilontarkan menyayat hati. Terkadang keadaan fisikpun ikut disiksa seolah tak puas mencaci.
Kim Jisoo kini sudah sedikit terbiasa dengan keadaan begitu. Meski masih sering bertanya mengapa suaminya begini, namun sekarang sudah lebih berani memasang perisai di hati untuk setiap cacian Taehyung.
Hari ini, rumah keduanya tampak kedatangan tamu. Sebenarnya bukan tamu yang jauh sedang berkunjung, melainkan hanya seorang teman laki-laki Taehyung yang diajaknya bertandang. Untung-untung hari ini kerjaan di kantor tidak begitu banyak, alhasil bisa nonton liga kesayangan bertanding.
Klek
Pintu samping rumah terbuka, menampilkan sosok Jisoo yang baru saja datang. Sontak lelaki yang sedang duduk di bangku depan tv ikut menoleh. Disuguhkannya senyuman ramah pada gadis itu, dibalas senyum yang tak kalah ramah pula.
"Halo, maaf sebelumnya.. aku tak mengabarimu dulu untuk datang." tutur laki-laki itu setelah Jisoo berjalan ke arahnya.
"Ah tidak, tidak perlu minta izin." kekehan kecil Jisoo sampaikan sembari mengibaskan tangannya di udara.
"Kau kan temannya suamiku, jadi datanglah sesukamu." diakhiri senyum manis. Jisoo sudah tahu bahwa lelaki di depan ini adalah teman suaminya. Mengingat lelaki ini datang dan berceloteh panjang lebar saat resepsi pernikahannya.
"Ah maaf, kau tak disuguhkan makanan?" kosongnya meja di depan pemuda itu, membuat Jisoo berspekulasi jika sang tamu belum dijamu dengan baik.
"Haha, tidak perlu Jisoo-ssi.. Kalau aku ingin.. aku sendiri yang akan mengambilnya, hehe.."
"Ah, mana boleh begitu akan ku ambilkan.. eum.." Jisoo sempat mengingat siapa nama lelaki ini. Tapi ia memang pelupa.
"Jimin." sahut pria itu, sepertinya ia tahu wanita ini sedang memikirkan namanya.
"Ah iya Jimin!" gadis itu terlihat semringah. Ia tadi sedikit ingat, namun lupanya yang banyak.
"Aku ambilkan makanan sebentar." tak berlama-lama, Jisoo lalu bergegas ke arah dapur.
Setelah mendapat makanan di dapur, Jisoo kembali lagi menuju ruang keluarga. Jimin terlihat di posisi yang sama, ia masih duduk di kursi depan tv.
"Ah, maaf membuat menunggu." Jisoo dengan telaten menaruh dua toples makanan di tangannya dan sebotol minuman di atas meja.
"Ah, sebenarnya tak perlu repot Jisoo-ssi, aku jadi tak enak." Jimin ikut andil membantu menaruh.
"Jangan merasa begitu, santai saja." sanggah Jisoo ramah. Dibalas senyuman saja.
"Eum.., Kim Jisoo-ssi?"
"Ya? Ada apa?"
"Kau tampak baru pulang, sehabis dari mana kalau boleh tahu?" tanya Jimin ragu-ragu.
"Oh, aku habis dari butik. Seminggu lalu baru saja buka. Jika sempat, mampirlah. Di sana ada pakaian untuk pria juga."
"Haha, baiklah.. Aku akan mampir untuk mencoba." Jimin menggaruk kepala belakangnya sambil terkekeh pelan.
"Ah baiklah.. Aku tunggu."
Langkah kaki baru terdengar lantang mendekat, Jisoo dan Jimin tahu siapa pemiliknya.
Taehyung.
"Apa kau digoda oleh jalang ini?" tuding Taehyung terang-terangan saat baru saja sampai di arah kedua orang yang berbincang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAIR (√)
Romansa❀Sepenggal kalimat-kalimat sedehana untuk selesai membawa dendam yang begitu kental. Kesakitan, tangisan, rasa perih. Hanya itu yang manjur mengobati luka lama. Kenapa sangat sulit untuk bersatu bagi dua orang yang saling mencintai?❀ Quotes: ❝Jika...
