Chuuya melambai dan tersenyum. Sekarang ini dia sedang melakukan video call dengan Reina. Reina bercerita jika dirinya dan Dazai bermain pesta minum teh dan bagaimana dia sangat senang bermain dengan Atsushi dan Kyoka. Tanizaki bersaudara juga sangat baik padanya. Chuuya ingin sekali segera pulang untuk dapat bermain bersama dengan gadis kecilnya.
"Mama cepat pulang." Itu kata Reina sebelum dia menutup panggilan video mereka.
Chuuya ingin sekali ini cepat selesai!
.
.
Dazai baru saja selesai memandikan Reina dan berniat untuk membuat sarapan bagi Reina. Chuuya sudah menyiapkan apa saja yang Dazai butuhkan untuk membuat sarapan bagi Reina. Bahkan dia meninggalkan banyak catatan dimana-mana. Di pintu kulkas, di pintu kamar, di pintu kamar mandi dan masih banyak lagi. Semua itu membuat Dazai terkekeh geli.
Lalu Chuuya menelpon dan berkata dia ingin melihat wajah Reina. Karena itu ponsel Dazai berakhir di tangan anak berambut hitam itu. lalu ketika Chuuya mengakhir panggilannya, Reina hanya bisa dengan sedih menatap ponsel yang kini layarnya berubah hitam.
"Reirei jangan sedih.. Mama akan segera pulang." Hibur Dazai pada anak itu. Reina tersenyum kecil. Dia menyerahkan ponsel Dazai pada pemiliknya dan mulai memainkan bonekanya.
Dazai melirik kembali ke arah Reina yang sedang memainkan boneka nya. Dia menutup matanya ketika mengingat fakta mengenai Reina. Dazai menghela nafas. Ini sangat tidak baik.
Dazai kembali memasang senyum palsu miliknya dan beranjak untuk membuat sarapan bagi mereka berdua.
.
.
"Papa tidak kerja?" tanya Reina ketika melihat Dazai menyantai di depan tv dan bukannya bekerja.
"ReiRei.. Papa sedang ingin menemani ReiRei bermain~" ujar Dazai dan Reina mengangguk dengan wajah polosnya. Dazai tersenyum gemas pada Reina. Reina adalah anak yang sangat lucu sayang sekali jati dirinya tidak selucu penampilannya. Penampilannya benar-benar menipu mata. Pada kenyataannya, Reina lebih mengerikan dari yang bisa mereka bayangkan.
Dazai menutup matanya dan memikirkan berbagai hal yang bisa dia lakukan untuk mencegah kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Reina dan Chuuya. Dazai tahu jika Chuuya sangat mencintai anak ini dan memisahkannya dari Chuuya bukan lah jawaban yang tepat. Tapi, membiarkannya bersama Chuuya juga bukan lah hal yang tepat. Chuuya bisa terluka atau terbunuh jika semua ini dibiarkan. Dan Dazai tahu jika ada kelompok yang sedang mencari-cari Reina.
"Jika saja aku tahu kekuatan anak itu.." dan dari mana dia berasal- gumam Dazai tak sadar jika Reina mendengarkannya dan menatapnya dengan ragu.
"Papa.." Reina menarik celana Dazai. Dazai membuka matanya dan menatap Reina yang wajahnya terlihat ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa. apa yang dipikirkan Reina?
"Kenapa ReiRei?"
"Rei.. Rei.. Rei bisa terbang." Reina terlihat seakan dia mengatakan rahasia terbesarnya. Dazai menyernyit lalu mengambil Reina dan meletakkannya di pangkuannya. Dia tersenyum pada Reina. Entah senyum palsu atau asli. Mungkin saja dia menganggap omongan Reina hanya lah lelucon atau anak itu hanya asal bicara.
"Benarkah?"
Reina merasa jika pemuda yang dia panggil Papa itu tidak percaya. Jadi, dia turun dari pangkuan Dazai dan berjalan menjauhi Dazai. Manik hazel Dazai setia mengikuti langkah kaki mungil Reina. Reina berhenti sekitar 10 kaki dari Dazai dan perlahan-lahan tubuhnya mulai terangkat sedikit demi sedikit. Mata Dazai terbelalak terkejut. Dia segera melompat dari duduknya dan berjalan menuju Reina yang sudah melayang-layang di udara.
YOU ARE READING
Mommy Chuuya
FanfictionSummary : Chuuya jatuh cinta pada anak yang dia temukan saat dia terluka dan memutuskan untuk membesarkannya seperti miliknya sendiri. Bisakah Chuuya membesarkan anak itu? dan masalah apa saja yang akan menghampiri Chuuya bersama dengan si anak?
