27

210 6 0
                                        

Saat suami dan Dani berbincang tentang pekerjaan, aku berpamitan dan ijin menumpang toiletnya.

Hal yang tak pernah kulakukan di manapun sebelumnya.

Lelaki itu menunjukkan letak toiletnya, sepertinya ia sengaja menyuruh salah seorang asisten rumah tangganya untuk menunjukkan di mana tempatnya.

Aku dituntun ke sebuah kamar khusus untuk tamu. Saat pintu dibuka, sebuah ranjang dan perabot bernuansa emas langsung menyambut hangat.

Sangat elegan dan menunjukkan tingkat sosial pemiliknya.

Selesai ke toilet aku melihat-lihat sebentar isi kamar. Ada dua tangkai anggrek mengisi vas bunga.

Aahh benar-benar Dani masih merawat perasaannya padaku sepertinya.

Jantungku terasa ada yang menikam dengan beberapa tusukan. Sakit dan perih berganti menyesakkan.

Aku berharap bisa bicara dengan lelaki itu walau sebentar saja.

Aku pun segera keluar dari kamar itu. Berharap bisa bertemu dan bicara walau sebentar dengan sang pemilik rumah.

"Sudah, Bu ke toiletnya?" Pertanyaan laki-laki mengagetkanku saat keluar dari kamar.

"Oh, eh, iya. Sudah."

"Kenapa jadi gugup, Bu!"

Segera aku menata hati. 'Ayo Ndari ini waktu yang kau tunggu. Cepat katakan pada lelaki itu.' Hatiku mendesak.

"Mas Hartoko," ucapku ragu.

Lelaki itu nampak kaget.

"Jadi kamu sudah tahu?"

"Ya bapak yang cerita padaku. Apa maksudmu dengan semua ini. Gimana kalau suamiku sampai tahu?" Aku hampir berteriak.

Segera kuredam emosiku.

"Kamu tetep cantik kalau marah, Ri. Aku kangen rona merah wajahmu."

"Mas ... jaga omongan kamu. Ingat, aku ini istri orang. Semua sudah jadi masa lalu."

"Tapi aku belum bisa melupakanmu sampai detik ini. Dan kamu tahu, aku sampai puncak seperti ini karena demi kamu!"

"Kamu gila, Mas. Gila!"

Aku pun segera membalikkan tubuh ingin segera meninggalkan lelaki itu. Namun saat mengayun satu langkah tangannya mencegah dengan menggapai tanganku.

"Maaf." Ia segera melepas pegangannya saat aku menoleh ke arah tangannya yang mencengkeram lenganku.

"Tolong mas, jangan ganggu pernikahanku. Aku sudah bahagia hari ini."

Ia pun melepasku pergi. Dengan sedikit gugup aku segera menuju suamiku yang masih duduk sendiri di ruang tamu.

"Kenapa lama sekali, Bu?"

Aku yang mendapatkan pertanyaan itu bingung dan tak mengerti mau menjawap apa.

"Eehhm i-iya, Mas. Tadi aku diantar bibi tadi berkeliling melihat rumah ini. Bagus ya mas rumahnya?" Terpaksa aku membohongi suamiku.

Tak lama pemilik rumah sudah keluar dengan pakaian rapi. Kemeja panjang warna putih, celana kain abu-abu dan jas masih ia sampirkan di lengan kiri.

"Sudah siap menuju lokasi proyeknya, Pak Pono?"

Suamiku pun menyambut dengan tawa ringan. Sedangkan aku hanya bisa menundukkan kepala agar tak bertatap mata baik dengan Dani maupun suamiku.

Lelaki Cungkring itu Suamiku (Complicated) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang