Aku benar-benar harus istirahat total hari ini. Setelah kejadian aku pingsan kemarin, Mas Pono membawaku ke RS. Dokternya bilang aku sedang mengalami kelelahan dan tensiku ngedrop. Harus dirawat intensif.
Syukur, Mas Pono hanya mengira aku kelelahan setelah pulang dari merawat bapak.
Ia tak curiga sedikit pun tentang kegalauan dan kekacauan hati yang kurasakan akhir-akhir ini karena ulah koleganya itu.
"Ah, semoga saja kamu tak kan pernah tahu hal ini, Mas. Aku tak ingin menyakit hati bapakku."
Suara ketokan pintu terdengar dari luar. Perlahan pintu terbuka dan masuk seorang lelaki membawa sekeranjang buah. Mas Hartoko. Ia datang sendirian. Dan itu membuatku sangat takut. Aku tak mau suamiku memergoki kami berbicara berdua.
"Mas, kenapa masih nekad menemuiku. Gimana kalau suamiku tahu hal ini!"
"Tenang saja, Ri. Aku tahu suamimu sedang di mana. Kamu gak usah khawatir begitu. Aku datang ingin melihatmu baik-baik saja."
"Tapi, Mas ...."
"Sssttt ... jangan bicara lagi." Jari lelaki itu menempel di bibirku. Aku pun terdiam.
"Ndari maafkan aku. Kehadiranku telah membuatmu seperti ini. Aku mengakui belum bisa menghilangkan bayangan dan cintamu dari hati, tapi aku gak mau egois. Aku akan melepasmu demi kebahagiaanmu."
Kepala lelaki yang duduk di sebelahku ini tertunduk.
Belum sempat aku menjawab, pintu sudah terbuka dari luar.
Aku benar-benar kaget dan tak menyangka kalau itu suamiku. Pun lelaki yang sedang menundukkan kepala di samping ranjangku. Ia terlihat kaget dan canggung. Namun ia pandai merubah sikap.
"Loh ada Pak Dani. Sejak kapan? Kok gak ngabari saya dulu."
"Maaf pak. Tadinya saya mau langsung menuju proyek saat telp Pak Pono dan bilang ada di tempat proyek, tapi karena saya lewat sini jadi keingat untuk besuk istri bapak. Maafkan saya, Pak."
"Ooh" jari suamiku menggaruk kepalanya yang masih tersisir rapi rambutnya.
Jangan-jangan dia curiga dengan kedekatan kami. Sewaktu ia masuk, Dani sedang duduk di kursi dekat pembaringan dan bukan di sofa untuk tamu.
Tak lama kemudian Dani pun berpamitan pada kami. Nampak ragu saat menyalamiku. Matanya lekat seolah menembus batas penglihatanku. Ada tatapan berat saat mata kami beradu.
**
Tiga hari aku berbaring di rumah sakit rasanya sudah membuatku cukup lelah. Aku diijinkan pulang hari ini.
Terpaksa aku pulang dengan sopir karna Mas Pono sedang keluar kota. Mendadak ada yang harus ia urusi di Semarang.
"Ndari." Panggilan dari belakang membuatku memutar tubuh untuk melihat sumber suara.
Sopirku yang melihat Dani sedikit berlari mengejar langsung berpamitan ke mobil lebih dahulu.
"Kamu lagi, Mas. Bagaimana kalau sopir suamiku mengadu?"
"Kamu tenang saja. Aku bisa atasi semuanya. Ndari aku datang hanya ingin berpamitan padamu. Mungkin mulai saat ini kita gak akan pernah beretemu lagi. Aku akan membebaskan cintamu di tertawan di hatiku. Berbahagialah bersama suami dan anakmu. Mungkin dengan ini aku akan bisa melupakanmu."
"Tapi bagaimana dengan proyekmu?"
"Aku sudah serahkan semuanya pada suamimu. Anggap itu kenang-kenangan dariku untukmu. Kau akan selalu ingat bahwa aku pernah ada dalam hidupmu ketika kamu melihat nama perusahaan itu."
"Boleh aku bersalaman terakhir kalinya denganmu?"
Spontan aku pun menjulurkan tangan yang ia sambut dengan tangannya. Aku bisa merasakan kehangatan tangannya yang mengaliri darahku.
Tangan yang dulu sering membelai lembut rambutku. Tangan yang selalu membawakan makanan kesukaanku. Aah ... masih sangat terasa dan sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki Cungkring itu Suamiku (Complicated)
General FictionPono adalah seorang pengusaha sukses di bidang furniture. Hasil produksi yang dihasilkan perusahaannya telah memenuhi seantero sudut Indonesia, bahkan beberapa negara tetangga. lelaki kurus yang hobi mengumpulkan barang antik itu akhirnya bertemu s...
