1 [apa itu kau]

178 15 0
                                        

Seperti kata youtuber yang selalu mengatakan like and subscribe.
Disini juga
Jangan lupa vote dan komen.

*****

Langkah kaki tergesa menyusuri koridor kampus. Satu tangan memegang ransel satu sisanya memegang jas leb. Rambutnya tidak tertata dengan benar, berkat ojek online yang dia gunakan berlaga ala Rossi. Bukan salahnya tapi waktu yang membuat gadis itu berkata lebih cepat kepada pengemudi. Pagi ini jalanan macet parah di tambah bangun kesiangan, komplit sudah padahal pagi ini langsung ujian praktek.

"Ra, anjir kaget gue. Gue kira lo gak bakal datang"

"Ma na mungkin... huh... huh... gue--"

"Nafas dulu bu, entar lo mati"

"Capek..."

"Bagus lo datang 15 menit sebelum di mulai. Anak-anak udah pada ngumpul sibuk sama hafalan masing-masing"

"Gue kesiangan. Bodo amat sama hafalan, otak gue kosong kaya ember yang airnya baru tumpah"

"Ck, kebiasaan lo oon. Mana paper lo, gue mau bandingin sama yang gue"

"Paper?"

"Iyalalah itu syarat buat ikut ujian praktek sekarang"

"Mampus. Ketinggalan di meja belajar gue" gadis berambut panjang sebahu itu menepuk jidat. Wajahnya meringis takut.

"Ra jangan bercanda kita cuman ada waktu 10 menit sebelum di mulai"

Indira berfikir keras. Seandainya dia pulang sama aja dengan bunuh diri. Print ulang juga tidak akan cukup waktu. Dosen yang satu ini ketat masalah waktu. Dan sekarang teman-temannya hampir semua sudah berkumpul di depan pintu lab.

Tuk

Sesuatu menimpa kepalanya. Indira berdecak "apasih lo-"

"Paper lo"

Lelaki jangkung itu menempelkan tugas Indira ke dadanya. Lelaki itu berkaos hitam dan jeans selutut. yang lebih menyita perhatiannya adalah karena otot bisep yang di penuhi tato.

"Demi tuhan bang, baru kali ini lo hidup ada gunanya"

"Gue bakalan selalu jadi pahlawan lo"

"Gue beliin sepatu entar"

"Hemm.. dan sekarang lo bisa lepasin gue?"

"Ehehee..." Indira refleks menjauh. Tanpa sadar tatapan semua teman kelasnya sudah merongronginya. Padahal ia hanya refleks dan begitu senang hingga memeluk Raffa.

"Makasih bang. Udah sana lo kerja lagi, toko kue papa harus di bersiin"

Raffa mendengus "udah gak butuh aja gue di usir"

"Gak gitu bang, percuma lu di sini gue mau masuk, bentar lagi di mulai. Doain gue ya"

"Okedeh, gue cabut ya. ada yang pesen Royal Wedding Cake gue bakalan sibuk. Semoga lo lupain semua yang udah lo hapal"

"Itu bukan doa. Udah ah sana, disini cuman mencemari udara. Hus-hus!" Indira mendorong punggung Raffa menjauh.

Indira melambaikan tangannya, Raffa membalasnya di bawah tangga. Senyum Indira cerah sekarang. Pasti orang tuanya yang meminta Raffa mengirimkan tugasnya. Beruntung sekali ia hari ini.

Kasak-kusuk di sana coba Indira tidak dengar. Gosip murahan yang kini sedang mereka santap tidak membuat Indira tertarik. Padahal hidup mereka tidak lebih menyedihkan dari hidupnya.

"Ra, jangan dengerin mereka" Frasa datang di sampingnya.

"Gue gak tertarik sama gosip murahan mereka tentang gue"

SPOGULISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang