Tarik nafas dulu. Huft haaah...
Sorry telat banget, perkuliahan mulai aktif, liburan udah berakhir sedih dah gue kaum rebahan ingin protes. Semester 5 ternyata ajaib guys... padet-padet lah jadwal gue.
****
Mata yang terpejam menunjukan rangkaian lentikan bulu mata teranyam rapi menawan, dengkuran halus mengalun teratur dari bibir pucatnya, dada bidangnya turun naik menujukan bagaimana diafragrama bekerja. Sangat lelap, setengah wajahnya menyusup diantara bantalan sofa.
Ditilik dari sudut manapun, wajah Alesto sudah mengalami perubahan pesat pun dengan suaranya, tidak perlu bertanya karena seperti yang Al pernah katakan dalam satu menit terdapat bla bla perubahan, apalah yang jelas Indira lupa. Tapi waktu sesingkat satu menit dunia saja bisa berubah begitupun Alesto meski proporsi tubuhnya sangat berbeda jauh dari dulu yang tipis sedangkan sekarang atletis, Alesto tetaplah Alesto. Manamungkin jadi algojali, yekan yang benar saja.
Bola mata itu terbuka, bulu matanya seperti berkibar seketika.
Indira tersentak mundur hampir terjungkal dadanya bertaluan keras seperti baru saja mengintip pria mandi lalu kepergok orang tua, mengenaskan.
"Ngapain lo?" Suaranya serak menyerukan protes.
"Eh, gue mau ngajak makan" berusaha Indira menetralkan gugupnya "cepetan, udah siang gue mau ke kampus bang Raffa mau kerja" kilahnya dengan datar berharap bisa membungkus kegugupan.
Al terduduk dengan rambut berantakan seperti terseok angin, tapi tetap saja berantakan bagi seorang Alesto tidak mampu mengurangi ketampanannya. Yang ada wajah kuyu itu membuat gemas orang. Al menyingkap selimbut yang entah kapan sudah menggelung tubuhnya, tidak penting juga siapa yang melakukan itu.
Kaki jenjang Al melangkah kedapur, meraih kulkas membuka pintunya dan langsung menenggak air dingin. Dirasa kerongkongannya teramat kering dan kini terbasuh sudah. Al melarikan ekor matanya disana Raffa sedang berjibaku dengan cetakan waffle. Pria dewasa itu nampak menggelung kemeja putihnya sampai siku sehingga menampakan tato yang tersambung sampai pergelangan.
Seperti keluarga yang kompak Indira menyodorkannya piring, Raffa menuangkan waffle diatasnya, setelah sosis dan telurnya matang Indira hanya membantu mengangkatnya, sekadar info saja anak perawan satu ini sangat buruk dengan tugas dapur sedangkan Raffa kebalikannya makanya dia bekerja di toko kue nampaknya dia sangat suka mengolah bahan masakan.
"Ada sereal?" Tanya Al setelah satu piring berisi waffel, sosi dan telur tersodor padanya.
"Ada di cabinet" ujar Raffa
"Biar gue bikinin" Indira beranjak dari kursinya. Raffa melihatnya aneh.
Indira menuangkan sereal sedangkan Al sudah disampingnya memegang susu yang diambilnya dari kulkas, Indira berdehem saat Al sedikit berdempet padanya. Mungkin bersebalahan dengan si dungu ini membuat atmosfer sedikit gerah tidak mengenakan.
"Cobain" perintah Al
"Kan buat lo, kenapa gue yang makan"
"Siapa tahu lo masukin sesuatu kedalamnya, sesuai yang pernah lo bilang dulu"
"Ck, kita buat sama-sama mana bisa gue masukin sianida kesini, ngaco lo"
"Makan aja susah amat"
"Al ini masih pagi, jangan ngajak ribut"
"Gak berani huh?" Al menaikan alisnya, sebelah bibirnya sedikit terangkat, menantang. Sendoknya menggantung diudara.
Dengan kesal Indira memajukan mulutnya, memasukan paksa suapan itu. Jengkel sudah dengan kelakuan Al, jika bukan Raffa yang memaksanya mengajak Al makan mana mau ia satu meja dengan penjahat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SPOGULIS
RomanceTeror menyalip wajahnya. Semua semakin memburuk. Hidungnya mengkerut menahan bau alkohol yang sejak tadi menguar kuat dari mulut mereka. Diseret paksa badannya ringkih, kaki mulusnya tergores oleh beberapa benda keras dan tajam entah batu atau apala...
