BAB 4: BERDIAM DIRI LALU BANGKIT PADA AKHIRNYA

90 5 0
                                    

Kami semua pun pulang.

Saat salim-salim-an dengan kakak PPI, tidak ada pandangan khusus untukku. Ah, mungkin karena ada yang lebih hebat dariku. Mungkin ada yang menjadi bulan dan aku hanya bintang kecil.

"Jadi, kita ini lolos ke tingkat seleksi nasional ya? Kita ini nasional ya?" Tanyaku pada Mauliy.

"Iya, La." Jawabnya.

Aku pun tiba dirumah dengan selamat. Selamat dalam artian kondisi hati dan mata yang baik-baik saja. Tapi, kubawa pulang rasa dilema.

Dalam jangka waktu yang singkat, aku harus latihan, mempersiapkan diri sebaik mungkin..

Setelah beberes diri. Mengganti baju.
Perutku berbunyi. Ketakutan juga kegugupan menguras baik tenagaku tadi. Sampai akhirnya aku sadar perutku sedang keroncongan.

Aku keluar kamar untuk mencari masakan makanan apa yang sudah tersedia di atas meja makan.

"Bagaimana nak?"
Tanya kakekku yang cukup mengejutkanku.

Ah, harus kujawab apa? Dengan perasaan apa aku mengutarakan ini? Senangkah? Sedihkah? Tidak. Tidak harus kucerita dulu.

"Bagaimana apa?" Tanyaku sedikit acuh.
"Iya.. itu nak. Hasilnya?"

Pertanyaan ulang ini membuatku geram.
"Apa?? Hasil apa? Bagaimana apa?"
Selamat... emosiku tidak ku kontrol lagi.

"Apa-apaan anak ini... tidak ada perubahan"

Sial. Perkataan itu terdengar lagi. Ku hentikan langkah kaki ku yang sebenarnya menuju kamar mandi. Menarik nafas lalu berbalik dengan nada rendah.

"Hasil apa? Hasil apa.." lalu ku masuk kamar mandi dan menutup pintu perlahan.

Setelah membersihkan diri di kamar mandi, tujuan asliku adalah melihat makanan. Dan ternyata sudah dipersiapkan nenekku diatas meja dekat ruang tengah. Ya, tempat andalanku. Makan sambil menonton youtube Raditya Dika itu sangat menyenangkan.

Nenekku datang kesebelahku untuk mengambil beberapa kain dan piring yang ada diatas meja yang sedang kupakai.

"Nek, saya masuklah tiga besar..." dengan nada rendah. Awalnya sih agar tidak ditahu saja. Tapi, didengar juga akhirnya.

"Begitu, nak? Alhamdulillah.."

Hmmm.. ternyata tidak seheboh yang kukira. Nenek dan kakekku ini orangnya heboh kalau cucunya apalagi diriku dan adikku yang berhasil kalau mencapai sesuatu. Dan terkadang aku suka lucu. Aku hanya rasa malu-malu kucing saja kalau mereka yang kegirangan. Jujur kadang kalau kuberhasil diriku biasa saja. Walau kadang sering terlalu excited sih. Aku bersyukur sajalah.

"Alhamdulillah itu." Balas kakekku.

Ah, akhirnya tidak seperti tadi keadaannya.

"Ya, tapi harus berjuang untuk cari dua besar." Jelasku yang sebenarnya ingin memberitahu mereka. Aku belum selesai.

"Yasudah. Berusaha. Nanti kakek juga mengurus disana. Seringlah berlatih." Jelas Kakek dan Nenekku yang hampir bersamaan.

Kucoba tenang. Sudah bisa tenang lalu ku lanjut menghabiskan makananku dengan lahap.

Setelah selesai makan, kegiatan yang paling kusuka adalah bersemedi dikamar. Hahaha. Tidak-tidak, maksudku berdiam diri dikamar. Bagiku, kamarku adalah segalanya. Istana yang istimewa bisa ku bilang begitu.

Tidak besar. Terbilang kamar yang cukup kecil. Tapi, dengan diriku sendiri isinya lalu jika sudah kuputar musik kesukaanku. Aku terasa senang sekali. Kamar itu jadi luas rasanya.

Masuk kamar lalu mengunci pintu. Kuputar nada nada mellow agar lamunanku terasa nyata.

"Apa aku bisa? Ah, tidak. Aku pasti bisa."
"Kalau aku gagal? Tapi, tunggu.. apa aku akan gagal?"
"Hmmm.. sulit rasanya membayangkan apa yang terjadi berdasarkan kemampuanku saja."
"Harus segera tahu apa yang terjadi dilapangan nanti."

...

"Tunggu? Seleksinya kapan yak?"
"Harus latihan apa kalau begini? Seleksinya kapan?
Senang benar, ya.. suka mendadak-mendadak begini."

Aku tersadar dengan lamunanku karena gadget-ku berbunyi.
Ah, mager rasanya.. Sudah enak baring-baring harus bangkit dan meraihnya di meja belajar.

LINE: Pesan Masuk dari Mauliy

Ku mengangkat alisku sebelah,
"Ada apa, ya?"

MAULIY

"Lala?"
"Tesss"
"P"
"P"
"P"

"Ya? Ada apa, liy??"

Isi pesan Lily singkatnya menanyakan tentang pengeluaran dari kami ber-tiga. Diselingi bercanda yang receh.

Selesai membalas pesannya.

Aku terdiam untuk beberapa saat.

Ku memikirkan olahraga jenis apa yang akan ku lakukan, materi apa saja yang harus ku pelajari.

Siap Fisik Mental diperlukan sekali saat ini.

Mengaku Paskibraka!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang