Amazon di Kepala Seorang Anak

36 6 0
                                    


Juli berjalan di selasar lantai satu. Sebelah tangannya membawa setumpuk buku yang dijilid sendiri, sebelah lainnya sibuk menggeser layar gawai. Mungkin untuk memilih buku audio, karena kabel earphone tampak mengintip dari balik kerah kemeja.

Dia berjalan dengan hati-hati, tapi setiap langkahnya pasti dan tidak mengira-ngira. Kacamata semi hitam yang dia pakai, malah membuatnya semakin menarik untuk dilihat. Orang-orang yang tidak mengenalnya, akan mengira dia anak SMA banyak gaya dan bertingkah. Padahal tidak. Dia begitu karena dia buta. Low vision parah. Dia Cuma bisa membedakan malam dan siang. Terang dan gelap. Selebihnya kabur.

Meskipun begitu, tidak pernah ada yang bisa menghalangi langkah Juli yang serba pasti. Di antara lautan manusia yang hanyut ini, mungkin dia adalah salah satu dari sedikit yang memiliki pegangan dan kekuatan untuk melawan arus. Melawan dogma bahwa orang cacat sebaiknya duduk diam di rumah.

Juli tidak melakukan itu. Dia hanya membuktikan bahwa dia bisa. Imajinasi anak itu liar, seliar Amazon di belantara Amerika. Penuh misteri dan hal-hal yang tidak bisa kau bayangkan bakal ada.

Kemudian langkah Juli terhenti ketika sesuatu menyentuh ujung belakang sepatunya. Bibirnya membentuk senyuman manis.

"Enggak usah begini. Aku tahu itu kamu, De."

Desember merengut, "Pura-pura enggak tahu, kek."

"Males."

"Kenapa males?"

"Kalau pura-pura enggak tahu, artinya aku pura-pura bodoh. Nanti kelamaan aku jadi bodoh beneran."

Desember memajukan kursi rodanya, diikuti oleh langkah Juli. Selasar itu tidak lebar, sehingga mereka memborong jalan dengan cuek. Tanpa mempedulikan orang-orang yang mau berlalu lalang juga menatap dengan sinis.

"Kamu dengerin apa?" tanya Desember sambil memutar roda kursinya dengan tangan.

"Film."

"Film?" Desember berkerut, "biasanya orang dengerin musik atau buku audio. Kenapa kamu malah mendengarkan film?"

"Karena yang aku bisa cuma mendengarkan. Aku enggak bisa nonton."

"Memangnya kamu bisa ngerti?"

Julian tertawa geli mendengar pertanyaan konyol dari Desember.

"Selama aku punya imajinasi, apa sih, yang enggak bisa kumengerti?"

Desember diam sebentar, lalu menyambung dengan suara lirih bercampur putus asa, "Tuhan. Memang kamu bisa mengerti Dia?"

Julian mengeluh dalam hati. Pembicaraan itu berubah menjadi serius tanpa bisa ia cegah. Seharusnya ia tahu. Karena orang yang dia ajak bicara adalah Desember, yang sejak ia kenal, tidak pernah benar-benar bercanda ketika bicara. Desember selalu serius. Dan bagi Julian, keseriusan Desember adalah kemalangan bagi perempuan itu sendiri.

"Aku bisa mengerti Tuhan karena aku ciptaanNya. Meskipun enggak sepenuhnya, tapi aku tahu kalau Dia selalu membuat garis takdir yang terbaik untuk semua ciptaanNya."

"Kalau begitu, kenapa Tuhan diam saja ketika iblis melawan perintahnya? Mengapa Dia pura-pura tidak tahu ketika banyak orang mati ditindas di dunia ini?"

"De." Ada nada memperingatkan dalam suara Julian yang bergetar, "Tuhan tahu, tapi Dia menunggu. Kamu cuma manusia, kamu enggak akan bisa paham cara Tuhan jika kamu berpikir tanpa iman."

Laju roda kursi Desember memelan tepat di depan kelas kami. Demikian juga langkah kaki Julian.

"Kamu gak bisa mengerti Tuhan karena kamu bukan Tuhan. Kamu manusia. Jadi jangan nyalahin Tuhan atas apa yang terjadi pada dirimu sekarang. paham, De?"

Juli itu panas. Puncak musim panas. Tetapi Juli tidak tajam. Dia memeluk orang-orang dengan erat. Dia tidak membakar. Panasnya Juli, itu tidak panas.

"Sorry," Desember bergumam, "Aku kelewatan, ya?"

"Sedikit. Tapi, kapan manusia enggak pernah kelewatan?"

Desember mengulum senyum, "Kapan?"

"Kalau dia udah ngerti. Kebanyakan manusia zaman sekarang ini, kan tidak mengerti."

"Kamu sendiri sudah mengerti?"

"Aku rasa aku bisa ngerti. Sedikit sekali, tapi aku ngerti. Karena aku sadar kalau aku manusia yang masih butuh Tuhan."

"Oke, enough." Desember kewalahan, "Kamu mau ngapain bawa bundel sebanyak itu?"

"Ini? ini makalahku, baru selesai cetak. Oh ya, De. Coba tebak?"

"Apa?"

"Aku dapet kiriman komputer braile kemarin. Dari donaturku."

Desember menggumam tidak jelas tentang bahwa dia tidak mengerti apa bedanya komputer braile dengan komputer biasa. Julian tertawa.

"Bedanya Putri Desember, kalau komputer braile itu ada titik-titik menonjol yang membentuk huruf braile."

"Masa sih?"

Julian mengangguk, "Makanya agak mahal. Untungnya donaturku baik banget."

"Kamu pintar, sih. Jadi mereka merasa gak akan sia-sia tanam saham ke kamu."

"Tanam saham apaan. Kamu ini nyamakan kebaikan orang sama bisnis. Kayak enggak ada lagi orang ikhlas di dunia ini."

"Memang ada?"

"Apanya?"

"Orang ikhlas di dunia ini?"

"Duh, mulai lagi," gerutu Julian bosan. "Bahas masalah beginian sama kamu De, enggak akan ada habisnya. Udah ah, aku mau ke ruang guru dulu. Takutnya enggak diterima ini makalah."

Dan Julian melangkah meninggalkan Desember yang masih duduk rapi di kursi rodanya. Samar-samar, Julian bisa dengar roda kursi yang berputar. Mungkin masuk ke kelas.

Hujan rasa, saat itu Juli berpikir betapa susahnya seseorang menerima hal-hal baru dalam hidupnya. Bahkan jika itu sesuatu yang bikin senang, tetap sulit buat diterima. Apalagi yang bikin sedih seperti yang dialami oleh Desember. Dalam usia muda.

Julian berbalik dan berlari sampai ke pintu kelas.

"De," panggilnya. Desember menoleh. "Aku adalah orang ikhlas di dunia ini untuk jadi temanmu. Bagiku, kamu bisa jalan atau enggak itu sama aja. Pribadi dan pikiranmu yang dalam adalah hal yang paling aku hargai. Jadi tenang aja."

Juli itu hangat dan mampu memeluk semua orang dengan kehangatannya. Juli itu musim panas yang ditunggu-tunggu pantai supaya pasirnya terpijak lagi oleh kaki-kaki beraroma kebahagiaan. Juli itu matahari yang menonjolkan keindahan laut waktu menjilati bibirnya.

Dan selama ada Juli, kurasa semua hal dalam hidup Desember akan baik-baik saja.

Karena kehangatan Juli bisa mengimbangi kedinginan Desember.

Juli ..., bulan yang mungkin dirindukan Desember basah.

***

AksaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang