Warai to shitsubō:(1:)

882 43 0
                                        

Dia antara suara riuh penonton yang masih terhipnotis dengan penampilan comic sebelumnya, aku menghela napas karena takut keriuhan ini tak terulang saat dia tampil di atas panggung.

Aku berkali-kali menggigit jariku hingga kulit-kulit jariku terlihat keriput. Aku merapihkan posisi dudukku berharap rasa dingin yang tiba-tiba merasuki tulang ini bisa berhenti ketika kulihat dia maju ke atas panggung. Jaket baseball yg ku kenakan kembali ku rapatkan. Di sini tidak dingin, tetapi entah mengapa tubuhku malah berkeringat dingin.

Memang bukan aku yg tampil, tapi entah mengapa aku bisa merasakan demam panggung yang dia rasakan nanti. Aku berkali-kali melihat jam tanganku dan kuperhatikan setiap detik yg berjalan, berharap semua akan baik-baik saja, berharap latihan kami tak sia-sia selama beberapa bulan ini. Aku juga sangat berharap dia menimbulkan keributan yang positif, keributan yang membuat riuh penonton dengan punch line yg baik.

Saat MC memanggil namanya, seluruh penonton di auditorium gedung pusat Tokyo tak memperdengarkan suara tepuk tangan yang meriah. Dia memang masih baru dan ini adalah open mic pertamanya. Aku gemetar hebat, tak ada teriakan penonton yang menyerukan namanya seperti comic yg tampil sebelumnya tadi. Bulu kudukku merinding. Aku memegang erat plastik putih berisi Motomachi Mutekiro Furansugashi-ten khas Yokohama. Kuharap makanan ini bisa menjadi hadiah penghargaan karena dia pecah telur dalam open mic perdananya. Motomachi Mutekiro Furansugashi-ten ini kudapatkan dengan penuh perjuangan. Aku meminta temanku yg sabtu kemarin pulang ke Yokohama untuk membelikannya. Wanita yang sebentar lagi akan tampil itu pasti merindukan rumahnya. Wanita yang hingga kini kuanggap cahaya penunjuk itu pasti merindukan Yokohama. Ah seandainya kerinduanya pada kota Yokohama sekuat kerinduan dia terhadap diriku.

Aku memutar ulang memori kemarin, saat kami latihan. Setelah selesai, aku buru-buru berjalan ke Perpustakaan pusat UT untuk menemui dia. Kami biasa bertemu di lantai 2, di meja baca dekat jendela. Tempat itu kami pilih karena di antara ramainya perpustakaan UT tempat itulah yg paling tenang. Perpustakaan UT terdiri dari bangunan dengan banyak kaca, makanya diberi gelar Crystal of Knowledge. Saat malam hari tempat itu bersinar bagaikan kristal kelap-kelip yg menyediakan keindahan. Dari lantai dua, aku bisa melihat danau UT, megahnya kampus, hijaunya pohon-pohon di sekitar perpustakaan, dan romantisnya pasangan-pasangan yang malu-malu berteduh di bawah pohon dekat danau UT.

Hujan masih turun rintik rintik, aku bisa menikmati titik titik air hujan yang menempel dikaca jendela. Pohon hijau yg bergerak-gerak di luar terlihat menari dengan gerakan luwes, aku mencoba menikmati pemandangan itu, dan mencoba meredam rasa khawatir kepadanya. Aku menatap bangku di sampingku, bangku kosong yang tak di huni siapapun. Jemariku menggenggam cappucino yg tak lagi hangat.

Berkali-kali kuhubungi dia, tak ada jawaban. Aku sudah khawatir jika tubuhnya basah karena hujan. Setahuku dia sudah terkena demam semalam. Rasa khawatirku kemudian memuncak. Aku ingin meninggalkan tempatku menunggu, lalu menyusul dia ke kampusnya. Namun, terlalu bodoh jika kulakukan itu. Kucoba untuk bersabar menunggu, hingga akhirnya memang dia datang dengan wajah kelelahan, juga dengan baju kebasahan. Tapi, gaun putih yang dia gunakan membuat dia tetap terlihat cantik.

"Hari ini kita nggak perlu latihan dulu, deh. Kamu kehujanan." Aku tak bisa menyembunyikan rasa gelisahku. "Kamu masih sakit, kan? Semalam kamu demam, kan?"

Dia menatapku dengan pancaran mata yg tak sepenuhnya sehat. "Ini udah baikan, kok, badannya. Kita latihan aja, ya?"

"Kalau badannya udah mulai baikan, muka kamu nggak kusut kaya sekarang."

"Sekarang lihat deh, muka aku nggak kusut lagi kan?" Dia mendekatkan wajahnya ke depan mataku. "Kemarin kan kita nggak sempet ketemu, masa sekarang ketemuannya juga cuma sebentar? Aku kangen. Kita latihan aja, ya.!"

Maybe For ImpossibleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang