Aku sampai di tempat kontes. Sambil menarik-narik pakaian yang kurasa terlalu semi resmi membalut tubuhku yang jenjang ini , kurapihkan langkahku dengan teratur, aku berjalan pelan, rapat dan tidak terburu-buru. Melalui SMS yg kukirimkan untuk Chuuya, dari setiap kata yg dia tulis nampaknya dia tidak terlalu canggung.
Langkahku berjalan menuju kursi depan. Aku kemudian duduk di samping seorang laki-laki berambut Hitam. Laki-laki itu tersenyum singkat ke arahku, dia mengajakku berbincang-bincang beberapa saat mengenai perlombaan ini. Aku menjawab dengan pengetahuan yang kumiliki, pembicaraan kami berjalan cukup menyenangkan. Kami menyaksikan bersama satu per satu comic yg tampil. Kemudian, tiba saatnya Chuuya tampil menaiki panggung. Aku dan laki-laki di sebelahku sama-sama diam dan memperhatikan.
Suaranya mantap dan artikulasinya jelas. Aku bangga menyaksikannya tampil di atas panggung dengan baik. Materinya bahkan dibumbui sentuhan baru di sana-sini yang kemarin tidak dia tampilkan di depanku.
Audiensi meledak dalam tawa berkali-kali. Berdasarkan pengamatanku, dia mendapatkan suara tawa yg lebih riuh daripada peserta lainnya. Begitu dia selesai, suara tepuk tangan penonton membahana. Aku dan laki-laki di sampingku ikut bertepuk tangan. Aku sungguh menyukai penampilannya.
Dia sudah mejadi juara satu di hatiku.
"Menarik, ya, dia?" tanyaku kepada laki-laki di samping yg sejak tadi tertawa terbahak-bahak dan tetap terlihat cool.
"Lucu! Pecah banget! Sakit, tu, anak!"
Betapa bahagianya aku mendengar pendapatnya. Mata kami sama-sama berair karena terlalu kencang tertawa.
Setelah break yang diisi dengan penampilan sebuah grup musik? saat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Pengumuman pemenang. Aku berharap dialah yg jadi juara satu. Kebanggaan dia juga kebanggaanku.
Dia juara satu!!!
Aku hampir tak percaya saat mendengar namanya disebutkan. Aku bertepuk tangan kuat-kuat bersama semua penonton, termasuk laki-laki di sampingku. Kerja kerasnya berbulan-bulan ini terbayar. Kini dia mengambil alih gelar yg kuraih tahun lalu.
Dia diminta naik ke atas panggung. Di depan sana dia melambaikan tangannya ke arahku, tapi entah mengapa tatapan matanya tak mengarah padaku.
"Jadi, lo mau ngomong apa, nih? pidato dikitlah!" seru sang MC. Gerak geriknya lucu dan menyenangkan.
Wanita itu, wanita yang kucinta saat ini, masih memasang wajah tak percayanya atas kemenangan yg dia peroleh. "Gue mau bilang makasih sama orang yg sangat penting dalam hidup gue, sosok yang menyemangati gue, dan selalu rela mendengar cerita gue," Katanya.
"Wah, kayaknya boleh, tuh, dipanggil ke panggung orangnya! Orangnya dateng nggak?"
Dia mengangguk. "Namanya Fyodor. Dia pacar gue."
Telingaku berdenging. Aku tak mempercayai pendengaranku. Tubuhku lemas seketika. Aku tak tahu harus berbuat apa. laki-laki di sampingku melangkah ke depan panggung. Ya, laki-laki yg sejak tadi berbincang-bincang denganku. Ini rupanya yang dia maksud kemarin, menanggapi pertanyaanku saat kami berdua di apartemennya. Di depan sana, dia tak melihat ke arahku sedetikpun.
Aku terus duduk lemas di bangku. Seolah mati rasa, tak tahu harus berbuat apa. Mereka, di atas panggung, tersenyum senang. perempuan yang kucintai dan kekasihnya terlihat begitu mesrah. Dia menggenggam tangan Fyodor dan merangkul laki-laki itu, sehangat dan sedekat ketika dia merangkul, menyentuh, dan memelukku, karena dia sudah lebih dulu belajar merangkul, menyentuh, dan memeluk kekasihnya yang sekarang.
Perasaan ku campur aduk. Pengumuman pemenang selesai dan aku sudah ingin meninggalkan tempat menyebalkan ini. "Jahanam!", aku berteriak geram. Tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat namanya di layar ponsel, kuangkat panggilan itu ragu-ragu. Dia mengajakku untuk ke belakang panggung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maybe For Impossible
AléatoireCaracter by Asagiri kafka!!! Bungou stray dogs Colour fantasy(soukoku) Aku bisa menuntunmu saat kau tersesat. Aku bisa memelukmu saat kau bersedih. Aku bisa bertahan menunggumu berubah. Aku bisa mengalah menghadapi egomu. Aku bisa memalsukan senyumk...
