"CHUUYAAAAAAA!!!~ "
"Ya ampun Dazai san, bisakah kau pelankan suaramu?"
"Maaf hehe."
"Haishhh.. yasudah, lanjutkan saja."
"..."
"CHUUYAAAAAAA!!!~ SUDAH LAMA YA TIDAK BERTEMU! SEDANG APA SIH? SEPERTINYA BAHAGIA SEKALI~???"
.
.
.
.
.
Aku melihatnya
Ia mengingatkanku pada surai, tawa, dan sosoknya yang hangat.
Golden retriever berlarian.
Aku masih ingat, dipesisir pantai itu kau bilang "Bisakah aku memilikinya barangkali satu saja" Menunjuk salah satu paling gemuk di antaranya, sembari merengut dengan kedua alismu bertaut.. (terenyuh).
Aku bilang "Aku bisa jadi anjingmu kalau kau mau" Sambil merangkulmu tenang.
Namun "Tidak, terima kasih. Pada kenyataanya aku yang sudah lebih dulu menjadi anjingmu" Sangkalmu. "Karna aku akan selalu setia disampingmu" Kemudian memandangku lembut sambil tersenyum.
Begitu sampai gemuruh pantai menyapu tepian. Hanyut mengalir bersama kita yang saling menyungging senyum.
Berfikir, bagaimana jikalau tepian itu harus terkikis untuk kembali dalam rasa yang tak sama. Pada akhirnya, memandang lurus lekung buana.
Aku melihatnya
Ia adalah senja.
Dan aku
Aku benci senja.
.
.
.
.
.
"Aihhh kau malah pura-pura tuli, tidak seperti biasanya, tidak asik ah."
.
.
.
.
.
Angin mendesis pelan, burung berkicau rendah, langit menangis gerimis. Suara alam berbisik dimana-mana.
Lantas bagaimana dengan suaramu?
Alih alih berbisik kau malah berteriak berisik seperti terompet reyot ditelinga, namun selalu berhasil membuatku tersenyum, bahkan tertawa.
Kau bilang "Berhentilah menggangguku dan enyahlah". Tapi saat aku terluka, kau malah menjadi orang pertama yang tergopoh-gopoh datang menanyakan "Apakah kau baik-baik saja?" Padaku, meskipun kondisimu sendiri sedang tidak baik baik saja.
Aku suka raut cemas yang tersirat jelas pada parasmu yang amat indah, dengan alibi bahwa aku tidak boleh dulu mati ditangan orang lain terkecuali dirimu sendiri.
Bagiku yang memang telah menantikan kematian sejak kepala satu, kau adalah sosok yang tiba-tiba hadir menggiring 'api', 'air', 'angin', dan 'tanah'. Sementara itu, aku telah terseret jatuh kedalamnya, bagaikan dilanda sebuah bencana alam.
Aku juga yakin, kau terlahir memang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu dan merubah hidupku. Umpama sebuah kunci kesadaran dari surga, yang membuka gembok neraka pada jiwa ini.
.
.
.
.
.
"Chuuya san, kami datang menjengukmu. Bagaimana keadaanmu hari ini? hmm kuharap lebih baik dari biasanya, betul begitu.. ahaha tentu saja!."
.
.
.
.
.
Kau terlihat tenang seakan tau segalanya.
Sementara itu, aku dengan tidak sabarnya menunggu waktu berlalu untuk sesuatu yang telah mantap ku rencanakan.
Suatu hari kau berkata "Pondasi, takdir, dan kenangan" tanpa aku bisa tau apa arti dari kata-katamu itu sebenarnya.
Sekotak cincin berlian, yang telah ku siapkan untukmu sebagai kejutan. Setelah sadar aku memiliki perasaan yang amat mendalam terhadapmu.
.
.
.
.
.
"Kau tau Chuuya san? sepertinya Dazai san sangat merindukanmu~ dia sampai-sampai mebawakanmu sebuah kejutan."
"Atsu.."
"Dazai san memaksa mengajakku kemari.."
"Atsush.."
"Padahal kalau dipikir-pikir baru kemarin dia kesini hehe. Oh iya kami juga membawa sesuatu yang haruuummmm~ sekali~"
"Atsushi!"
"Dazai san yang pilih dan bel.."
"ATSUSHI DENGARKAN AKU!"
"Apa! Ada apa lagi Dazai san?"
"Sudah. kita pulang saja."
"Sekarang?" Dengan nada frustasi dan iba sekaligus heran, kenapa tiap kali ke tempat ini Senpai nya itu selalu seakan menggagalkan mutlak seluruh ketegaran yang telah dibangunnya.
Kini Atsushi memandang sangsi raut Dazai yang kian tanpa asa, tatapan matanya meredup dan kosong. Berbeda sekali dengan saat ia masih berteriak girang sepersekian detik lalu.
"Tapi kenapa Dazai san?" Kemudian dengan intonasi merendah menantikan jawaban pada orang yang tak kunjung bergeming dan nampak berbalik, demi menyembunyikan isaknya.
Karna tentu saja.
Tak mungkin kau tak tau kan.
"Tidak akan ada gunanya berbicara dengan sebuah batu nisan" Pun menjawab sambil melenggang pergi:).
KAMU SEDANG MEMBACA
Maybe For Impossible
De TodoCaracter by Asagiri kafka!!! Bungou stray dogs Colour fantasy(soukoku) Aku bisa menuntunmu saat kau tersesat. Aku bisa memelukmu saat kau bersedih. Aku bisa bertahan menunggumu berubah. Aku bisa mengalah menghadapi egomu. Aku bisa memalsukan senyumk...
