- Hyewony story-
Dulu aku mempunyai masa lalu yang indah pada masa diriku mulai beranjak dewasa. Aku bisa tersenyum, tertawa dan sedih bersamaan hanya karena satu orang, satu orang yang mampu membuatku selalu teringat dimanapun dan kapanpun. Dia adalah-
Biar aku bercerita mulai sekarang siapa dia itu.
" Wonyoung!!"
" Iya bunda?"
Wonyoung berjalan mendekati ibunya yang sedang berdiri di ambang pintu.
" Kamu lagi ngapain?" Tanyanya sambil mengusap kepala Wonyoung lembut. Wonyoung tersenyum tipis lalu mengeleng pelan.
" Lagi ngeliat aja, bun.."
" Ngeliat apa?" Ibunya mengerutkan keningnya karena bingung.
" Orang.."
" Hmm?"
" Ngak, kok. Bukan siapa-siapa.." Wonyoung. Ibunya mengeleng pelan lalu mengajak pergi Wonyoung kedalam rumahnya. Saat akan memasuki rumahnya ia sempat menengok kearah belakang, lalu ia tersenyum tipis.
" Lain kali Wony mau kenalan bisa ngak, ya??"
......
Wonyoung mengambil tas ransel nya yang bergambar kelinci, di usianya yang sudah menginjak 17 tahun ia masih menyukai hal yang berbau lebih kekanakan. Menurut Wonyoung sendiri dia emang masih anak-anak kok.
Iyain.
" Wony, kamu berangkat bareng kakak kamu, ya?" Ibunya sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja. Wonyoung yang masih lahap memakan rotinya mengangguk. Ibunya tersenyum lalu mengecup kening Wonyoung lembut.
" Kalau kamu pulang sekolah nanti hubungi kakak kamu aja, ya.."
" Iya, bun.." Wonyoung tersenyum sambil mengunyah rotinya.
Setelah ibunya pergi lebih dulu untuk berangkat bekerja. Wonyoung masih menunggu kakaknya yang masih belum keluar kamarnya sedari tadi.
" Kakak, Wonyoung ngak mau telat lagi loh!!" Wonyoung berteriak dengan raut kesalnya. Ia kesal jika harus menunggu kakaknya itu yang sangat lama dalam berdandan untuk pergi ke sekolahnya.
" Bentar, lagi masang gincu dulu!" Teriak sang kakak dari dalam kamarnya. Wonyoung mendesah pelan lalu melihat jam di pergelangan tangannya. Sambil menunggu sang kakak yang belum muncul, ia pergi untuk sekedar melihat pemandangan di depan rumahnya.
Pemandangan yang berbeda dari yang lain.
" Ah!" Ia sedikit terkejut karena pemandangan yang ia lihat kini sedang mengarahkan atensinya kearah dia. Pemandangan di depanya itu menatapnya lama, lalu ia tersenyum tipis kearah Wonyoung meskipun hanya sebentar itu sudah membuat Wonyoung merasakan kalau pipinya kini seperti terbakar.
" Subhanallah..."
" DEK KUY CEPET!" kakaknya sudah memakai helmnya bersiap mengeluarkan mitir dalam garasi. Wonyoung langsung tersentak lalu berjalan untuk mengambil helmya yang sama bergambar kelinci di meja depan rumahnya.
" Seharusnya kakak yang cepet, Wonyoung udah mulai tadi nunggu kakak lama banget!" Wonyoung mulai menaiki motor milik kakaknya itu.
" Iya, iya bawel!"
......
Disaat kelasnya sedaritadi jamkos, Wonyoung memilih berdiam di bangkunya untuk membaca buku-buku pelajaran yang ia bawa. Daripada rame mending belajar biar masa depan cerah, gitu katanya dedek Wony.
