[COMPLETED]
"Kita adalah dua bintang dari rasi berbeda yang sayangnya memiliki luka yang sama."
-Lunaria
Kisah tentang Luna yang diam-diam memiliki ketakutan terhadap hujan, sejak kehilangan menyakitkan yang me...
"Sejatinya, rindu itu selalu ada. Meski ketakutan lebih menguasai diriku saat kehadiranmu tak nyata."
-Lunaria Giovanni Adara
🌻
Luna masih berusaha menghubungi Tania saat ia turun dari motor ojek online yang mengantarkannya dan berjalan menyusuri halaman utama rumah sakit yang super luas itu. Setelah percobaan kedua, barulah panggilan itu menghubungkannya dengan suara Tania.
“Tania, Kak Angkasa dirawat di rumah sakit,” ucap Luna begitu suara Tania terdengar. Luna dapat mendengar saat ini Tania sedang berbicara dengan Miranda dan Aksel.
“Kita kan mau liburan, kenapa harus ke rumahsakit?”
Itu adalah suara Arsen. Luna dapat mendengar suara pria itu yang nampak kesal karena Tania terus merengek minta bertemu Angkasa.
“Tapi, Yah---“
“Kamu pilih ayah atau dia?”
Cukup. Luna sudah tidak berminat mendengarkan drama kekanak-kanakan lewat sambungan teleponnya itu. Ia sudah cukup kesal dengan Arsen mengingat kejadian pagi tadi. Segera saja Luna menyusuri gedung rumah sakit dan menghubungi Bi Asri yang memang memberikan kabar bahwa ia sedang berada di depan ruangan Angkasa.
“Bi?”
Luna berhamburan ke arah Bi Asri dan menyalami wanita itu layaknya ibunya sendiri. Wanita itu menatap Luna dengan tatapan iba, apalagi melihat mata sembab gadis itu, ia menyesal harus meninggalkan rumah Luna, seandainya saja ia tidak sakit, tentu ia yang akan menemani Luna.
“Mana Kak Angkasa?” tanya Luna sambil menatap pintu di depannya.
Bi Asri menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya, Bi Asri tidak terlalu yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia rasa ia harus memberi tahu Luna.
“Tadi pas bibi lewat, pintu ini terbuka karena ada cewek masuk, seumuran Mbak Luna lah kira-kira, terus bibi lihat ke dalem, ternyata Mas Angkasa. Bibi mau masuk tapi nggak enak.”
“Ada cewek?” Pertanyaan Luna terdengar seperti sebuah kalimat kekecewaan. Setelah empat hari menghilang, ternyata Angkasa bersama seorang perempuan?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Luna membuka pintu kamar tersebut dan tubuhnya bergetar saat di depannya terpampang sebuah pemandangan yang tak pernah ia duga. Ayu sedang memeluk tubuh Angkasa yang berbaring. Seketika Luna menutup pintu dan pergi meninggalkan Bi Asri yang sejak tadi berdiri di depan pintu.
Empat hari menghilang. Empat hari Luna bagai kehilangan arahnya. Tapi hari ini, rasanya Luna ingin Angkasa menghilang saja selamanya. Mengapa malam itu Angkasa harus mengatakan hal yang membuat Luna berpikir bahwa Angkasa memiliki rasa padanya? Sementara sekarang ia memilih bersama seseorang yang bukan dia? Mengapa Angkasa harus selalu ada untuk Luna sedangkan sekarang, yang ada di samping Angkasa bukan Luna?