Pukul 18.30, Arsel baru saja tiba di rumahnya hari ini ia ada latihan basket bersama Haje dkk, dan Arsel lah yang menjabat sebagai ketua karena memang Arsel ahli dalam bidang tersebut
Saat ia membuka pintu hal pertama yang ia lihat adalah raut kemarahan papanya dan Arsel pun sudah tau akan hal ini.
"Anak gak tau diri, kerjaannya keluyuran mau jadi apa ha kamu!"
"Aku ga keluyuran pa, aku ada latihan basket hari ini" jawab Arselbjujur
"Boong tuh pa, sekolah udah tutup dari tadi sore" saut Abin sembari menuruni tangga
"Oh udah berani bohong kamu ya" wajah kesal makin kentara di wajah Danu
Melihat itu Abin senyum penuh kemenangan
"Arsel ga boong pa, Arsel bener-bener latihan basket"
"Halah alasan, sini ikut saya!" Danu pun menyeret Aesel tanpa belas kasih menuju gudang
Tanpa basa-basi Danu melepaskan ikat pinggangnya dan mendaratkan ke tubuh Arsel tanpa ampun
Ctarrr
Ctarrr
Ctarrr
"Berhenti"
"Sakit pa, aku mohon berhenti"
Danu bahkan tidak menghiraukan raungan darah dagingnya sendiri dan terus melanjutkan aksinya.
Bahkan Bi Fatma yang kebetulan lewat tersentak mendengar kesakitan Arsel tak terasa air matanya luluh begitu saja, ingin rasanya ia menolong anak majikanya itu tapi ia sadar ia hanya pembantu disini.
Hingga majikanya kini keluar dari ruangan tersebut dengan api yang masih menyala-nyala di matanya.
"Gausah bantuin dia, bibi ngerti!" bi Fatma pun hanya mengangguk patuh
Lalu bagaimana dengan kondisi Arsel? Seragam yang awalnya putih bersih kini sudah memiliki corak baru yang tak lain adalah noda darah dari luka yang Arsel rasakan, cukup mengenaskan bukan?
Air mata yang ia tahan akhirnya luruh juga lama kelamaan menjadi sebuah isakan yang cukup memilukan.
Tidak ingin terlalu bersedih Arsel pun akhirnya bangkit dan berjalan tertatih menuju kamarnya.
"Ayolah Arsel bukanya udah biasa ya" monolognya
Saat Arsel hendak ke kamar, Arsyan baru saja keluar dari kamarnya dengan handuk di lehernya sepertinya dia selesai mandi.
Melihat Arsyan, Arsel sungguh merindukan adiknya sudah lama ia tidak mengobrol dengannya lantas dia tersenyum ternyata adiknya hidup dengan sehat selama ini meskipun tanpa penglihatan.
"Kak Arsel?" ucap Seungmin membuat Arsel tersentak
"Iya ini pasti parfum kak Arsel" ucap Arsyan sembari meraba-raba mencari keberadaan Arsel
Arsel menyeringit bagaimana Arsyn hafal dengan parfumnya, padahal ia tidak pernah memberitahunya. Melihat Arsyan yang kesusahan Arsel pun akhirnya memegang tangan Arsyan, setelah sekian lama akhirnya dia bisa merasakan kembali tangan lembut adiknya.
"Iya ini kakak" ucapnya sedikit menahan sakit bahkan ia sudah lemas sekarang
"Kak Arsel aku kangen kakak" Arsyan tanpa babibu langsung memeluk Arsel dengan erat sontak membuat Arsel sedikit meringis dan bahkan pelukan itu mampu membuat darahnya keluar lagi namun, tak mau membuang sia-sia kesempatan ini Arsel pun membalas pelukan adiknya tak kalah erat
"Kakak juga kangen Arsyan"
Setelah selesai dengan acara saling peluk, Arsel memutuskan untuk melepas pelukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARSEL
General FictionAku melindungimu tapi kalian menyiksaku Tidak apa ku anggap ini ajaran bagiku darimu Aku membisu karena melindungimu Sekali lagi tidak apa _______ Update sesuai mood hehe :v
