Melody tak lepas menggenggam lengan kananku. Sesekali turun menggenggam jemari, sembari mengusap pungung tanganku. Aku tahu, waktu seperti inilah yang paling menyiksanya. Siksaan yang tak ada nikmatnya. Siksaan ketika tahu sebentar lagi kekasihnya bertolak meninggalkannya sementara waktu. Waktu yang panjang tentunya.
"Aku tidurnya sendiri lagi, sayang," bisiknya.
Menggelayut dilengan tangan.
"Hemmm..iyah. Aku datang pun nyaris tak ada tidur kita," balasku dengan nada lucu.
"Ngapain juga coba jauh-jauh ke sini kalau hanya buat tidur ?"
Menahan tawa, kutepuk lembut pipi kirinya yang empuk.
"Iyah...iyah. Kalau mau tidur, mending di Manado yah ?" timpalku.
"Kalau aku ke Manado, kamu gak kuberi tidur pun,". Aku tertawa kecil.
Melody di usianya yang semakin matang, semakin matang pula berahinya. Libidonya seakan tak pernah melemah. Bahkan selama hampir sepekan di Batam, kami tak hanya kurang tidur. Tapi juga kurang makan. Semua karena berahi yang semakin hari semakin memuncak dan seolah tak pernah terpuaskan. Aku menikmatinya, seperti dia menikmatinya.
"Sayang, apa gak bisa kamu cutinya ditambah lagi ?" katanya setengah berbisik?
Kutarik nafas panjang dan menghelanya perlahan.
"Kalau bisa, udah minta tambah aku. Tak ada yang lebih membahagiakan selain berlama-lama dengan kamu, Melodyku," balasku.
Kurapikan lembut rambut-rambut kecil yang menutupi keningnya.
Ah, andai jarak antara Manado dan Batam tak menguras waktu, aku rela setiap hari bolak balik menemui kekasihku. Menuntaskan rindu yang terus memuncak. Membayar hasrat yang terus dan terus menuntut dituntaskan. Memenuhi seluruh keinginan berahi yang tak pernah letih. Bercinta dan terus bercinta, hingga kami benar-benar kehabisan tenaga, seperti pagi jelang siang, tadi.
"Sayang..."Aku menoleh ke arah kekasihku.
"Hemmm...iyah. Ini ada deket kamu," balasku sedikit tergagap.
"Kamu gak mau gitu, temenin aku ke toilet ? Masih sejam lagi loh," katanya membalas tatapanku.
Tatapan sendu yang sangat aku hafal. Tatapan penuh keinginan. Tatapan penuh hasrat. Tatapan yang berharap untuk dituntaskan.
"Mau pipis beneran apa pipis enak ?" godaku.
"Iiissshhh..Masih tanya pun. Masih ada sejam loh. Aku pengen," katanya merengek.
Dibetulkannya duduknya. Agak manyum dan kepala menunduk menatap lantai ruang tunggu.
Itu senjata ampuh Melody. Pasang wajah manyun ketika ada sesuatu yang diinginkannya.
Dan aku ? Jangankan mengatakan tidak, memberi gerakan menolakpun tak kuasa. Karena seperti kekasihku, bagiku waktu adalah bercinta.
"Yah udah, sini aku temenin. Tapi mesti tau loh, ini bandara," kataku akhirnya, sembari berdiri dari duduk. Kuulurkan tangan, membantunya berdiri dari duduknya.
"Iyah, tau kok ini bandara. Ntar gigit lengan kamu aja kalau dapet," katanya merajuk, sunggingan senyum menggelantung.
Lihatlah betapa gilanya hasratku dan kekasihku. Berahi kami bahkan tak kenal waktu dan tempat. Resiko long distance relationship. Dan rasanya siapapun akan seperti itu. Gila dan tak terkendali.
Dan dengan langkah sedikit terburu-buru, kami melangkah meninggalkan ruang tunggu yang khusus untuk pengantar calon penumpang, menuju kawasan pipis.
"Berdoalah toiletnya bersih, cleaning servicenya istirahat dan yang gak ada yang kebelet," bisikku.
Melody menutup mulutnya menahan tawa yang kutahu bisa meledak dan tentu akan menarik perhatian pengunjung lainnya.
"Aku malah berharap waktu berhenti dan semua mematung sampai kita tuntas, sayang," kata Melody sekenanya.
Lihatlah betapa gilanya berahi. Bahkan mampu memunculkan khayalan yang tak masuk akal.
Dan yah ! Dewi Fortuna sepertinya memihak kami. Sepanjang koridor menuju toilet, cukup sunyi. Hanya terlihat beberapa yang lalu lalang. Alamat baik.
Alamat akan tuntas sebelum aku benar-benar meninggalkan kota ini. Meninggalkan kekasihku. Meninggalkan berahi yang harus menahan hasrat.Untuk kesekian kalinya, kekasihku melenguh mencapai puncaknya. Mengatur nafasnya hingga tak lagi tersengal. Lalu berkata, "Aku beruntung memiliki kamu, sayang."
NUNGGU...?????
TARAAAA... PART INI PALING MEMBAHAGIAKAN BUAT SAYA, KARENA TAK PERLU ADA YANG IKUT TERSENGALHAHAHAHAHA...
JANGAN LUPA NGOPI DAN TETAP BAHAGIA.
YANG NULIS LAGI "PUASA". YANG BACA, PADA CAKEP KARENA IKUT "PUASA"
KAPAN-KAPAN KETEMU LAGI YAH
KAMU SEDANG MEMBACA
C A N D U
ChickLitAroma terdasyat yang seakan tak pernah ada matinya, ketika hidungku mulai menyusuri lekuk-lekuk tubuh perempuanku. Mengalahkan candu apapun. Wangi. Bahkan saat nafas tersengal pun, tetap saja wangi tubuhnya bagai melambai seolah "nagih". *****
