Sayang, maaf. Aku tidak bisa pulang cepat, kau tau beberapa anak asuhan SM akan debut dan aku harus mengatur semuanya dengan baik. Maaf. (╥﹏╥)
Aku menghela nafas dan langsung membalas pesan tersebut. Sudah menjadi resiko untukku menerima pekerjaannya sebagai produser senior SM Ent. Tapi aku tidak menyangka akan menjadi sehampa ini.
Bukankah memang sudah hampa sejak awal? Suara batinku.
Yah, memang sudah sejak awal. Pernikahan ini sudah berjalan tiga bulan, tapi aku tidak terlalu merasa atau mungkin tidak merasakan perasaan meletup yang biasanya pasangan lain rasakan.
Bukan salahku. Sejak awal aku memang tidak berharap lebih padanya. Aku hanya merasa jika Tuhan berkehendak, setidaknya sedikit menginginkan dia untuk melengkapi ku itu sudah cukup.
Lagipula aku tidak akan pernah menang jika dia masih tenggelam dengan masa lalu dan selalu menolakku untuk membantunya berenang ke permukaan untuk menatap hal lain.
Line!
Aku menatap layar ponsel yang menampilkan pop-up pesan dari sahabatku.
Sibuk? Aku membutuhkan teman untuk menghabiskan me time.
Dahiku berkerut sesaat dan langsung menekan tombol 'jawab'.
Bukankah me time waktu untuk menghabiskan dengan dirimu sendiri. Menikmati waktu seorang diri.
Oh, ayolah. Aku tidak bisa seperti itu. 30 menit aku bertahan dan ku yakin aku bisa gila karena tidak bisa berbicara.
Kirimkan alamatnya. Aku akan segera kesana.
Setelah menerima lokasi tempat sahabat ku berada, aku segera berganti pakaian dan mengunci semua pintu dan jendela. Setidaknya, menghabiskan waktu dengan sahabatku lebih baik daripada aku terkurung dipikiranku sendiri saat menonton drama.
💍💍💍
"Ku pikir kau lebih bahagia dari sebelumnya setelah menikah dengannya, tapi kenapa ekspresi mu tetap sama? Datar dan dingin." ucap Hyejin saat aku duduk di depannya.
"Menikah hanya merubah statusku bukan sifatku."
"Hahaha!" Hyejin terbahak mendengar balasanku. "Lucu sekali. Itulah Shinyeong yang ku kenal."
Aku diam dan memilih menikmati pesananku. Ditemani suara Hyejin yang mendominasi dengan berbagai topik pembicaraan.
"Yeong, ini mungkin terdengar tidak sopan, tapi apa kau baik-baik saja?"
Aku menarik nafas dan menghembuskannya. "Aku tidak tahu. Rasanya seperti tinggal bersama teman. Dia memang melakukan tugas sebagai suami dengan baik, tapi perasaannya padaku terasa seperti seorang teman. Menurutmu, kenapa dia memilihku?"
"Seharusnya kau tanya pada suamimu, bukan padaku." Hyejin menjawab. "Kau sukses membuat angkatan kita heboh karena kau menikahi dia."
Kau beruntung. Kau mendapatkan jackpot. Kau begini. Kau begitu. Aku memutar bola mata mendengar kalimat yang selalu diulang sejak pertama kali menikah dengannya. Mungkin memang harus ku tanyakan padanya nanti saat pulang, atau tanyakan sekarang?
Aku mengambil ponselku dan mencari id suamiku.
Oppa, kenapa kau memilihku untuk menjadi istrimu?
Kirim.
Ya. Tidak.
Aku menekan tombol 'Ya' dan langsung menekan tombol power untuk mematikan daya. Tidak ingin melihat jawaban apapun darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lonely ✔️
FanfictionAku tidak pernah sengaja menginginkanmu, meski bersamamu adalah cara melengkapiku - Shinyeong © Ryn | September 2019
