Kyuhyun sedang membuka setiap file yang tersimpan di kamera miliknya, dengan laptop yang tersambung ke televisi. Beberapa file membuatnya tersenyum dan tertawa, sebelum matanya melihat file bernama Yeong. Merasa penasaran dengan isi filenya, Kyuhyun pun menekan ikon file dua kali dimana file tersebut berisi video Shinyeong yang sedang bermonolog. Ia menekan video pertama dan matanya mulai fokus ke arah televisi.
Lima detik pertama hanya memperlihatkan Shinyeong yang menatap kamera sebelum akhirnya tersenyum tipis.
Halo, kamu Kim Shinyeong. Iya, kamu. Diriku sendiri. Sebenarnya aku nggak tahu mau ngapain, tapi aku nggak tahu lagi harus bagaimana.
Jeda lagi selama lima detik karena Shinyeong menarik nafas dalam berulang kali. Kali ini dia tidak melihat kamera.
Hei, kamu. Diriku sendiri. Terima kasih sudah bertahan selama ini. Terima kasih sudah menjadi kuat selama 26 tahun hidupmu. Kamu pasti cukup terkejut karena mampu bertahan selama ini. Tumbuh bersama luka batin yang tidak kunjung sembuh.
Dear, aku. Bolehkah aku jujur kalau rasanya aku sudah ingin berhenti? Semua ini terasa sangat menyiksa. Mungkin aku harus menceritakan bibit awal mula kenapa aku seperti ini. Ya, mungkin next time akan ku katakan. Sampai jumpa, bye bye.
Dan video pertama pun berakhir begitu saja. Kyuhyun langsung menekan video kedua.
Hei, kamu. Diriku sendiri. Apa yang akan kita katakan hari ini, oh! Aku punya hutang penjelasan, ya. Baiklah, akan ku ceritakan sekarang. Semoga tidak membosankan.
Semua di mulai dari Shinyeong kecil yang tumbuh dengan asuhan toxic. Yaps, kamu tidak salah, kok. Orangtua Shinyeong itu tipe toxic. Loh? Kenapa kamu bisa nilai begitu? Itu tidak sopan. Mereka orangtuamu juga.
Oh, ayolah. Memangnya penyebab luka batin yang tidak bisa sembuh itu apa? Salah satu yang terfatal itu karena dia punya inner-child yang masih melekat dalam pikirannya. Jadi, semacam semua luka yang dia alami itu dikunci dalam sebuah kotak yang digembok rapat tapi, suatu saat gembok itu akan terbuka dan semua ingatan itu satu persatu muncul.
Jeda sejenak karena Shinyeong menarik nafasnya dalam. Matanya perlahan memerah dan bibirnya bergetar pelan.
Mereka bilang aku tidak berguna, mereka selalu berlaku kasar kepadaku padahal mereka tahu aku tipe anak yang keras. Bahkan aku sering mendapat pukulan. Dulu mungkin aku bisa melupakannya begitu saja, tapi sekarang? Tidak.
Kalian bisa bayangkan bagaimana sosok laki-laki yang seharusnya menjadi idola bagi anak perempuannya, raja di hatinya, pahlawan yang akan selalu melindunginya. Malah menjadi orang pertama yang menyakitinya, menjatuhkan mentalnya, menghancurkan harga diri anaknya.
Itulah yang membuatku tidak bisa percaya pada laki-laki dan takut untuk menikah. (Shinyeong tertawa lirih) kalau Kyuhyun melihat ini, ku yakin dia pasti akan mengejekku.
Aku juga selalu di-bully. Lengkap sekali penderitaan ku, sudah di rumah penuh luka, lingkungan luar pun tidak membuatku aman. Rasanya aku ingin mati saja.
Dan video pun berhenti. Kyuhyun langsung menekan video ketiga sampai kelima sekaligus dan memutarnya.
Hei, kamu. Diriku sendiri. Ya ampun, apa kemarin kamu baru saja ingin mati? Cih, kekanakan jalan pikiranmu pendek. Kenapa kau tidak dekat dengan Tuhan saja. Blablabla.
Ugh! Cukup. Aku memang butuh Tuhan tapi aku juga manusia dimana butuh dukungan moral secara langsung. Dirangkul dan disemangati. Meski itu hanya mimpi, hahahaha.
Aku selalu berusaha sebaik mungkin. Sebisa yang ku mampu, termasuk menjadikan Kyuhyun sebagai imun moodbooster-ku.
Kalau dipikir lagi, sepertinya memang selucu itu aku bisa menikah dengan Kyuhyun. Bahagia? Sangat. Sayangnya aku tidak bisa dekat dengannya. Ada dinding tipis tak kasat mata yang memberi kami jarak.
Dia, Cho Kyuhyun. Suamiku. Masih menaruh hati pada mantan kekasihnya. Seo Jeongyeon. Kalian tahu apa yang lucu? Aku kembali disakiti oleh laki-laki yang ku sayang untuk kedua kalinya. Aku membenci tapi juga mencintai ayahku. Aku tidak membenci Kyuhyun tapi aku menyayanginya. Ya ampun, bodohnya aku.
Video ketiga selesai.
Heiyo, what's up! Ahh, seharusnya aku tidak boleh bahagia aku baru saja kehilangan anakku. Tapi aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Suamiku jauh dariku, dia juga tidak bisa dihubungi. Aku tidak mau menghubungi orangtuaku, karena kalimat beracun mereka hanya membuatku tambah sakit. Mertuaku? Tidak, aku tidak sedekat itu dan aku masih takut untuk dekat dengan mereka.
Kyu, bolehkah aku memintamu untuk menceraikanku? Ku rasa boleh. Kau pasti akan sangat senang saat berpisah denganku dan menikahi dia. Aku tidak bisa menjaganya saat kecelakaan itu terjadi.
Dan... Aku sudah cacat, jadi ku pikir semuanya harus diakhiri secepatnya—
Ting nong... Ting nong...
Kyuhyun mem-pause video dan berjalan menuju pintu depan saat mendengar bel rumahnya terdengar.
💍💍💍
Aku berjalan diantara orang-orang yang sedang berjalan cepat. Beberapa dari mereka bahkan meminta maaf karena tidak sengaja menabrak ku. Pikiranku seperti kosong dan tidak menentu. Bercampur antara pikiran negatif dan positif.
Setiap melihat ke arah jalan raya dimana kendaraan berjalan cepat membuatku penasaran bagaimana rasanya beradu dengan salah satu dari benda itu. Bagaimana rasanya tubuhku terbang dan menari dengan angin, lalu jatuh dengan keras.
Aku menghela nafas memikirkannya dan mengusap kedua lengan bersamaan. Aku takut bunuh diri karena sakit yang harus ku alami lebih dulu, tapi aku juga ingin mati karena aku sudah benar-benar lelah. Aku sepengecut itu.
Aku kembali melangkah dan membiarkan kemana langkah kakiku memimpin. Hingga aku berhenti di depan makam yang cukup sering ku kunjungi.
"Wah, aku kembali kesini. Hai, apa kabar? Apa kau sudah tumbuh menjadi bayi yang lucu disana? Mungkin usiamu sudah empat bulan sekarang—" aku tersenyum tipis, "Jika kau masih hidup. Maaf, aku tidak membawa bunga hari ini karena memang aku tidak berniat berkunjung sekarang. Sampai jumpa lagi, Nak."
Dan begitu saja. Aku langsung memutar tubuhku dan berjalan cepat untuk menjauh dari tempat tersebut. Rasanya seperti di iris-iris dengan tipis setiap aku kemari.
💍💍💍
Hai, kamu, diriku sendiri. Ini video ke berapa, ya? Aku lupa. Mungkin lebih dari sepuluh? Hehe.
Sejak kemarin aku terus mengeluh tentang hidupku, ya. Aku juga tidak ingin begitu, pasti membosankan mendengar keluhan orang sepertiku. Mengeluh bahwa aku tidak bisa menerima pernikahan dengan orang yang bagiku sangat sempurna.
Kyuhyun menghela nafas dan menarik selembar tisu untuk mengusap air matanya.
Bagi sebagian orang, aku terlalu paranoid. Bagiku, mereka hanya penambah luka. Mereka tidak tahu bagaimana tumbuh dalam keluarga yang toxic. Tumbuh dari bully an. Huft, ya mereka tidak akan tahu. Karena mereka ya mereka, aku ya aku.
Kyu, aku tahu Jeongyeon adalah adik tirimu. Kau sayang padanya. Aku juga tahu, kau sayang padaku. Mencoba mendekatiku dengam caramu sendiri. Sayangnya aku tidak bisa kau dekati. Aku masih sangat sangat takut. Maaf, aku mungkin membuatmu sedih dan bingung.
Aku memaksamu memilih, antara adikmu denganku. Aku tahu kau tidak bisa melakukannya. Jeongyeon anak terbuang, tidak dianggap. Aku anak kandung yang juga terbuang. Rumit ya? Hehe.
Line!
Kyuhyun mem-pause video dan mengambil ponselnya. Tidak butuh waktu lama, dia langsung beranjak dari duduknya. Menyambar kunci mobil dan jaket, menyalakan mesin mobil untuk menuju lokasi orang yang dicarinya selama enam bulan terakhir.
*******
Lama tak berjumpa, bagaimana kabarnya kalian semua??
Aku harap kalian nggak lupa sama alurnya, kalau lupa tingg baca ulang bab sebelumnya hihi.
Sampai jumpa di part berikutnya 😆
KAMU SEDANG MEMBACA
Lonely ✔️
FanfictionAku tidak pernah sengaja menginginkanmu, meski bersamamu adalah cara melengkapiku - Shinyeong © Ryn | September 2019
