Liese membuka kedua matanya perlahan-lahan, ia menatap atap kayu yang terlihat familiar. Mencoba bangun lalu mengucek kedua matanya pelan-pelan, ia menguap lalu mengangkat kedua tangannya.
“Sudah pagi ... aku harus membantu Fiona dan Maron.”
Pikirnya seraya menoleh ke arah jendela yang ada di samping kanannya. Ia beranjak dari atas kasur lalu merapikan kamarnya terlebih dahulu, mengenakan penutup matanya lalu sarung tangan.
Setelah semuanya selesai, ia pergi dari ruangannya lalu berjalan menuju ruang tengah di mana ruang makan disatukan agar menghemat ruang. Seharusnya Rindou masih tidur di atas sofa, namun sosoknya telah hilang.
“Liese, kau mencari Rindou?”
Tanya Fiona yang tengah membawa beberapa piring lalu meletakkannya di atas meja kayu. Liese menoleh ke arahnya lalu menganggukkan kepala.
“Sejak tadi pagi dia sudah ada di luar, lihat saja.”
“Tidak usah, aku harus membantu kalian karena telah merepotkanku.”
“Tidak perlu, Maron telah membantuku dan lagi pula hampir selesai. Nikmatilah waktu pagi di desa, itu akan menyegarkan pikiranmu.”
Usul Fiona, Liese tersenyum kecil lalu menerima tawaran dari Fiona. Ia pergi menuju ke luar dan terdapat banyak warga yang sudah mengurus kebun, ladang lalu pekerjaan lainnya. Ia terpukau akan keadaan ramah dan saling menghormati para penduduk desa.
Liese terbiasa akan tatapan sinis dari pada bangsawan serta senyuman palsu maupun tawa mereka yang hanya menghargai sebelah mata. Tetapi, para warga di sini menunjukkan kenyataan yang berbanding balik akan ingatan yang ia punya ketika bersama para bangsawan.
Ketika ia sedang memperhatikan para penduduk desa, Rindou tengah berkeliling untuk membantu para penduduk yang kekurangan tenaga kerja fisik. Ia membantu dengan cara mengantar, mengangkat, lalu pekerjaan fisik berat lainnya sebagai porsi tambahan latihan.
Ada kalanya Rindou dijahili oleh para anak-anak, dan ia juga membalas perbuatan mereka dengan cara melempar rumput ke wajah mereka serta membuang mereka ke aliran sungai.
“Liese, bisa kau panggilkan Rindou? Sarapan sebentar lagi siap.”
Ucap Fiona dari belakang Liese dengan langkah kaki yang pelan hingga tidak disadari olehnya. Liese menganggukkan kepala lalu pergi ke tempat Rindou yang tengah membantu seorang tukang bangunan mengangkut beberapa kayu.
“Rindou, sebentar lagi sarapan. Bisakah kau berhenti sejenak?”
“Ngg? Liese? Baiklah, aku akan menyusul pergilah duluan.”
Ucap Rindou seraya menurunkan beberapa papan kayu yang ia bawa sebelumnya. Keringatnya bercucuran karena sudah kerja keras sejak pagi, Liese berniat untuk mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil yang dibawa olehnya namun sudah telat karena Rindou mengelap keringatnya dengan tangan.
“Fuuhh ... lumayan juga, sampai nanti Pak Tua.”
“Ya! Kapan-kapan aku pinjam tenagamu lagi anak muda!”
Rindou pergi dari tempat pembuatan barang mentah bahan kayu. Ia bersama Liese kembali ke rumah bersaudari, namun ia tetap memikirkan perkataan Fiona ketika kemarin malam akan topik pembicaraan mengenai Tuan Werewolf dan Rindou.
“Ngomong-ngomong Rindou ... kenapa kau membantu penduduk desa?”
“Oh ... sebenarnya ... aku berniat untuk lari pagi, namun ada emak-emak yang meminta bantuannya membawa peralatan ladang serta membawa karung berisi bibit. Lalu dilanjutkan dengan penduduk yang lainnya dan terus seperti itu, tanpa sadar ... aku melupakan tujuan awalku dan berakhir dengan membantu mereka.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Cursed One: Companion
FantasyPemuda yang dipanggil oleh Raja Iblis untuk memenuhi ambisinya yang pupus. Pemuda yang menerima ambisinya, diberi perintah untuk membawa kekacauan dan menghancurkan para Pahlawan. Dunia permulaan yang baru baginya, namun kehidupan yang ia miliki tid...
