13. Pesaing

121 18 5
                                        

Menggunakan sihir penguat fisik, Rindou dan Liese berlari terus menerus lalu istirahat beberapa kali dan perulangan itu terus dilakukan seraya istirahat di beberapa tempat. Liese memperingatkan Rindou agar tidak menggunakan sihir penguat fisik terus menerus, mana tidak boleh sampai habis karena dapat mengakibatkan tubuh kekurangan mana dan jika terlalu parah akan mengalami kehilangan kesadaran dan tidak dapat bergerak.

Sore hari, mereka berdua sampai di jalur utama yang menuju Kota Yuvin. Dari kejauhan, terlihat benteng kokoh yang mengelilingi Kota Yuvin tersebut.

   “Citadel ya ... baru kali ini kulihat.”

   “Citadel? Apa itu?”

   “Ah, itu istilah mengenai kota benteng. Kota Yuvin ini termasuk dengan citadel.”

Setelah menjawab pertanyaan Liese, Rindou melangkahkan kakinya mendahului Liese lalu berjalan santai di jalan utama yang menuju gerbang Kota Yuvin. Tidak ada seorangpun di depan gerbang, sehingga Rindou dan Liese dapat lebih cepat masuk apalagi mereka berdua langsung dipersilahkan masuk karena melihat dari perlengkapan mereka merupakan seorang pengembara.

Bagian dalamnya seperti kebanyakan kota, hanya saja para petualang lebih banyak di sini dan lebih ramai meskipun baru di depan pintu gerbang utama. Liese menatap Rindou yang terpaku melihat sekeliling, ia berpikir jika Rindou memikirkan sesuatu yang sangat penting. Yaitu ...

   “Lapar cuy.”

Hanya dengan satu kata itu, gambaran Liese tentang Rindou yang tengah memikirkan sesuatu langsung buyar. Ia mulai semakin mengerti bahwa Tuan Werewolf dan Rindou memang orang yang berbeda, mana mungkin tingkah Tuan Werewolf sama dengan Rindou yang seenak jidatnya.

   “Kita pergi Liese.”

   “Ke mana?”

Tanya Liese seraya mempercepat langkah kakinya lalu berjalan di samping kanannya. Rindou tidak menjawabnya sama sekali malahan ia lebih mementingkan perutnya dari pada pertanyaan dari seorang perempuan yang ada di sampingnya.

   “Mungkin daging bakar enak, bagaimana menurutmu Liese?”

  “Ah ... terserah.”

Kata-kata horor akhirnya keluar dari mulut Liese seraya menghela napas. Rindou terdiam sebentar, namun ia segera melupakannya dengan sekejap karena jika ia terlibat lebih jauh akan sangat merepotkan.

   “Sepakat, saatnya pergi.”

   “Tu-tunggu sebentar Rindou!”

* * * * *

   “Huh ... parah sekali, dia seenaknya saja memesan makanan serta penginapan ini.”

Keluh kesah Liese seraya berbaring di ruangannya setelah menyewa penginapan ini. Ia menatap atap kayu dengan desain yang rapi dan tidak ada sambungan sama sekali, sepertinya memang wajar jika para pekerja di Kota Yuvin ini memiliki keterampilan lebih dari Kota Morez.

Perlahan-lahan Liese menutup matanya untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah melakukan perjalanan. Sementara itu, Rindou pergi diam-diam agar keberadaannya tidak disadari oleh Liese dan dia pergi menuju atap rumah orang lain.

Ia melihat sekeliling dan terdapat beberapa rumah mewah dengan jarak yang cukup jauh pada setiap lokasi rumah. Rumah para bangsawan, Rindou berniat untuk melakukan kekacauan sedikit di Kota Yuvin ini meskipun ada banyak petualang.

Ia melepas bajunya dan hawa dingin di malam hari ini langsung menusuk kulitnya. Rindou mengatur napasnya terlebih dahulu, ia juga mendapatkan pencerahan setelah mengendalikan pernapasannya.

The Cursed One: CompanionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang