10. Pemaksa dan Pemuda Barbar

145 21 10
                                        

Esoknya ketika sarapan ...

   “Liese ... ”

   “Apa?”

   “Aku akan pergi dari sini.”

Ucap Rindou dengan wajah yang datar. Suasana yang tadinya santai menjadi sedikit kelam, Rindou melanjutkan santapan lezat di pagi hari meskipun Liese masih terdiam dengan mulut menganga dan tangan kanan memegangi sendok hingga sedikit bergeming.

   “Serius?”

   “Tentu saja, aku punya tugas yang harus dilakukan dan berdiam diri di Kota Morez hanya menyia-nyiakan waktu ”

   “Mmm ... tugas apa itu?”

Tanya Rindou yang penasaran, sudah cukup lama ia tinggal di penginapan ini namun jalan pikirannya sulit ditebak.

   “Mencari harta karun terpendam yang telah disembunyikan oleh seorang petualang yang hebat bersama dengan para ninja lalu melewati samudera bersama seorang laki-laki yang berjuang melawan Iblis dan mencari cara untuk mengembalikan Adiknya yang menjadi Iblis ke manusia.”

   “Itu ... hebat.”

   “Yah ... semua itu bohong.”

Kemudian Rindou mengunyah roti yang teksturnya agak keras namun bagian dalamnya renyah. Liese yang merasa diberi harapan palsu olehnya, memarahi Rindou yang dengan santainya menikmati sarapan paginya.

   “Jika seperti itu tugasmu, kau akan pergi kapan?”

   “Setelah sarapan.”

Jawaban dari Rindou membuat Liese terdiam kembali, ia tidak menyangka bahwa Rindou akan langsung pergi dari Kota Morez hanya dengan sekejap. Ia tidak ingin Rindou pergi jauh darinya, karena hanya Rindou yang dapat menghubungi Tuan Werewolf itulah yang dipikirkan oleh Liese.

   “Dari pada itu, Liese ... kau harus menyembuhkan luka-lukamu itu.”

Ucap Rindou seraya menunjuk Liese yang tengah menatapnya. Liese baru saja menyadarinya, ia menanggapi ucapan Rindou dengan menunjukkan senyuman kecilnya.

   “Aku tidak tahu jika luka ini dapat disembuhkan. Sihir penyembuhan adalah sihir yang cukup langka, hanya orang-orang yang diberkati yang dapat menggunakannya. Dan satu lagi, jika kau pergi maka aku akan ikut.”

   “Huh? Kau bodoh ya? Membawamu hanya akan merepotkanku. Lagi pula kau anggota Keluarga Forded yang terakhir, lebih baik kau diam di Kota Morez.”

   “Jika seperti itu, aku tidak bisa menemui Tuan Werewolf. Hanya kau yang dapat menghubunginya, bagaimana jika dia berpergian sama sepertimu. Aku tidak tahan hanya dengan menahan perasaan kagumku padanya, dan ... rambut hitam Tuan Werewolf sangat mempesona.”

Di akhir katanya, Liese terlihat bahagia seraya membayangkan makan malam kemarin bersama Werewolf yang merupakan Rindou itu sendiri.

   “Gawat dah, otaknya sudah konslet.”

Pikir Rindou seraya meminum air bening. Peralatan makannya langsung dibereskan oleh pelayan perempuan yang merupakan anak dari pemilik penginapan, Liese masih menyisakan setengah sarapannya karena ia sedikit kesulitan karena hanya dapat melihat dengan mata kanan saja.

   “Kalau begitu selamat tinggal Liese.”

Ucap Rindou seraya beranjak dari tempat duduknya, Liese terkejut akan pernyataannya yang tiba-tiba.

   “Tunggu sebentar! Aku serius untuk ikut berpergian bersamamu!”

   “Tidak mungkin dan mustahil, aku tidak bisa melindungi orang lain. Karena aku lemah bahkan melindungi diri sendiri pun masih lemah, apalagi dengan dua orang. Orang yang ikut denganku hanya orang yang menyia-nyiakan nyawa, peduli amat dengan cinta monyet yang hanya dari kejadian penyelamatan sederhana.”

The Cursed One: CompanionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang