Part 10

970 34 0
                                    

"Sofia! Sofia...."

Aku merasakan sebuah tangan menggenggamku. Telapak tangan yang lebar, dengan kulit halus nan licin, yang terasa dingin.

Pelan, aku mulai membuka kelopak mata. Apakah aku sedang bermimpi? Mengapa berat sekali rasanya?

Wajah yang pertama kulihat adalah wajah seorang dokter berkacamata. Menenangkan sekali. Seolah semua baik-baik saja, semua bisa teratasi.

Wajah kedua yang kulihat, wajah seorang laki-laki berkulit sawo matang, dengan hidung mancung dan mata sayu. Wajah yang rasanya amat familiar... Siapa dia?

Ah, tentunya itu Arga, laki-laki yang berstatus suamiku. Ya, tenang saja. Aku tidak amnesia. Hanya sedikit pusing, dan seluruh tubuhku sakit. Semoga aku memang baik-baik saja.

"Kamu sudah sadar, Sop?" Arga tersenyum lebar. Dibelakangnya, seorang lelaki paruh baya berbaju hitam, dengan rambut putih dikuncir, berdiri memperhatikan. Siapa dia?

"Siapa...itu, Arga?" Mataku mengarah pada laki-laki itu. Arga menoleh sekilas. "Ini ayahku," jawabnya.

"Oh..." Aku tersenyum malu. Aku sempat berpikir ia malaikat maut yang datang menjemputku. "Aku masih hidup ya?"

"Ada-ada saja kau ini. Kau hanya cedera sedikit. Besok sudah bisa pulang, ya kan, Dok?"

Dokter berkacamata tersebut hanya tersenyum. Tidak membantah, tidak pula mengiyakan.

"Jangan terlalu banyak bergerak dulu, ya. Minum obat rutin, kalau sudah lebih baik, nanti kita lakukan fisioterapi. Sementara ini, Mbak pakai penyangga punggung karena Mbak mengalami cedera tulang belakang."

"Kepala saya pusing, Dok." Aku mengeluh.

"Tidak apa-apa. Bagian kepala hanya tergores sedikit. Yang paling penting tulang belakang. Jangan banyak bergerak."

"Sampai berapa lama, Dok?"

"Tergantung. Bisa seminggu, dua Minggu, atau sebulan."

Ya, Tuhan. Bagaimana dengan pekerjaanku di Jakarta? Mana bisa aku berlama-lama 'liburan' begini?
Namun aku hanya bisa mengangguk-angguk. Bagaimana lagi. Aku belum ada tenaga untuk membantah. Dokter tersebut pun pamit. Tinggallah kami bertiga dalam ruangan itu.

"Syukurlah kau sudah sadar, Sop. Aku cemas sekali."

"Oya?"

Ia mengangguk sungguh-sungguh. "Aku menungguimu semalaman. Kau lihat mataku sembab?"

Aku memperhatikannya baik-baik. "Oh...C'mon, Arga. Masa kau menangis? Aku baik-baik saja. Hanya sedikit..." Aku menggerakkan tubuhku hendak membetulkan posisi. Tapi sedetik kemudian aku refleks mengaduh. Sakit juga.

"Apa aku bilang. Jangan sembarangan. Hati-hati dengan penyanggamu."

Ya, aku kini memakai penyangga punggung yang bentuknya lebih mirip korset terbalik, dengan desain sebatas dada, namun di bagian atasnya seperti mengikat dan menarik bagian bahu.

"Bagaimana dengan sopirnya? Apakah baik-baik saja?" Tanyaku cemas.

"Kondisinya hampir sama denganmu. Hanya saja ditambah gegar otak."

"Ya Tuhan. Kenapa bisa seperti ini? Sudah ada penyelidikan?"

Wajah Arga terlihat resah. "Nanti kita bicarakan. Yang penting kesehatanmu dulu."

"Halo. Sofia?" Ayah Arga menyapaku. Ah, kenapa aku melupakannya?

"Halo, Om."

Mereka berpandangan.

She or He? (Telah dinovelkan)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang