Part 8

894 39 0
                                    

"Kita ke hotel saja dulu, aku akan menemui Jena dan Lita disana." Kataku ketika kami menginjakkan kaki di bandara Ngurah Rai, Bali.

"Boleh. Tapi jangan lupa, ayahku sudah menunggu kita."

"Iya." Aku terpaksa mengiyakan. Bagaimana jadinya jika aku terus menolak keinginan mertua? Lagipula Arga terlihat antusias sekali mengenalkanku pada orangtuanya.

Baiklah. Bukankah keluarga Arga juga adalah keluargaku? Mungkin ini saatnya aku lebih mengenal siapa teman hidupku selama ini, dan bagaimana keluarganya. Tidak ada salahnya. Dan mungkin ada baiknya.

Kami naik mobil yang telah menjemput. Mbak Hani benar-benar memberikan servis tak tanggung-tanggung. Dari tiket pesawat, hotel bintang lima, fasilitas antar jemput, makan sehari tiga kali di restoran hotel. Sayang sekali jika dilewatkan.

"Arga, bagaimana jika akhir pekan ini aku akan tetap di hotel, nanti setelahnya, baru akan menginap di rumahmu. Setelah acara selesai. Kita kan masih punya beberapa hari."

Arga terlihat berpikir sejenak. "Baiklah. Tapi kita pulang Minggu depan ya?"

"Apa? Kau pikir uang mengalir dengan sendirinya? Aku banyak sekali pekerjaan di Jakarta!"

"Suruhlah asistenmu mengurusi semuanya. Lagipula, kita masih pengantin baru. Kita kan belum sempat bulan madu."

"Bulan madu apa!" Enak saja ia bilang seminggu. Bagaimana dengan pekerjaanku? Dan tinggal di rumah orangtua Arga, itu artinya kami harus satu kamar selama seminggu?

Mungkin buat Arga tak masalah. Kami terbiasa satu sama lain. Tapi jika harus tidur satu ranjang? Aku tidak takut Arga akan macam-macam denganku. Aku justru takut menghadapi diriku sendiri.

Perjalanan dengan mobil dari bandara Ngurah Rai menuju Ungasan, membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Melewati jalan raya Uluwatu, perjalanan singkat itu betul-betul tak terasa. Banyak sekali pemandangan yang menarik perhatian kami. Salah satunya adalah Taman wisata Garuda Wisnu Kencana.

Ini bukan kali pertama aku ke Bali. Belasan bahkan puluhan kali, klienku mengadakan acara pernikahan di Bali. Berbagai lokasi sudah kuhafal dengan baik. Kadang dalam satu bulan aku harus tiga sampai empat kali bolak-balik.

Bali memang menjadi kota favorit untuk penyelenggaraan pernikahan. Bagaimana tidak, keeksotisannya telah terkenal di seluruh dunia.

Setengah jam kemudian, kami sampai di hotel. Hotel itu tepat berada di pantai dimana lokasi pernikahan akan dilangsungkan. Ini adalah pantai yang sangat private. Pintu masuknya berada di hotel itu sendiri. Dan hanya penghuni hotel yang bisa mengakses pantai Karma Kandara. Boleh saja jika hanya ingin berkunjung ke pantainya. Tapi tentunya akan dikenakan biaya yang lumayan merogoh kocek. Biaya yang per-orangnya adalah setara menginap satu malam di hotel berbintang.

Dan hebatnya lagi, ketika kami sampai, mentari baru akan tenggelam. Sunset yang menakjubkan.

"Wow, kau mendapat view yang luar biasa!" Seru Arga ketika menguak jendela. Arga menemaniku ke hotel, tidak langsung pulang ke rumah orangtuanya di Gianyar. 

Ya. Matahari telah berada di kaki senja. Perlahan...sangat perlahan....semakin turun, seperti mohon diri untuk segera beristirahat.

"Ayo kita ke pantai. Kita tidak boleh melewatkan momen ini!" Arga menarik tanganku antusias.

"Tunggu! Aku ganti baju dulu!"

"Cepatlah!"

"Berbalik!" Perintahku. Aku tahu ia mungkin tak merasakan apa-apa melihatku berbikini ria sekalipun. Tapi tetap saja aku risih.

She or He? (Telah dinovelkan)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang