"Hai, selamat pagi! Bagaimana tidurmu semalam, nyenyak?" Sapaku manis ketika Arga lewat di depanku pagi itu. Ia hanya melirik sekilas, tak menjawab sapaanku. Hah, ternyata ia masih kesal denganku? Semalam, berkali-kali kuketuk pintunya tapi ia tak mau menyahut. Akhirnya terpaksa aku memesan makanan via online lagi.
"Argaaa... Kau marah ya?" Aku berseru, mencoba untuk berkomunikasi dengannya. Jujur aku tak tahu salahku dimana. Apa karena 'latihan kecil' semalam? Masa iya Arga kesal karena itu? Kenapa harus kesal?
Aku menyusulnya ke dapur, dan sekali lagi memanggilnya, "Arga!"
Kulihat ia sedang mencuci wajah di wastafel."Kamu kenapa sih, marah ya?" Aku masih mencecarnya. "Kalau memang marah padaku, jelaskan kenapa. Agar aku tahu salahku dimana."
"Kamu menyebalkan, tahu?" Tiba-tiba ia membalikkan badan.
"Menyebalkan bagaimana?"
"Aku tidak suka caramu semalam." Ia kembali melewatiku, berjalan menuju kulkas.
"Apa? Kenapa memangnya?" Aku mulai merasa tak enak. Apakah aku... Terkesan memainkan perasaannya? Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Apakah Arga merasakan getaran-getaran itu? Apakah ia kecewa karena aku hanya akting? Mungkinkah?
"Aku merasa terjebak. Kamu pikir bagaimana perasaanku? Menghadapi seseorang yang menyukaiku, namun aku tak menyukainya? Aku lemas sekali, tahu. Aku pikir kamu serius."
Ah, bodohnya kau, Sofia. Bagaimana mungkin kau bisa berpikir kalau Arga mengharapkanmu menyukainya? Lihat, ia justru takut kamu memang betul-betul menyukainya! Benar-benar mengenaskan.
"Ya sudah, aku minta maaf. Aku tak akan mengulangi itu jika itu membuatmu takut atau kaget."
"Ya. Jangan ulangi itu. Kecuali kalau kau memang naksir betulan denganku!" Ujarnya sambil meminum air putih dingin langsung dari botolnya. Entah ia serius atau tidak.
"Hah, jangan harap. Aku hanya akan menyukai pria yang memang sudah jelas-jelas mencintaiku. Tidak dengan pria sepertimu. Aku bisa sakit hati berkali-kali." Enak saja dia berpikir seperti itu. Kata-katanya tadi menunjukan kalau ia telah menolakku jauh sebelum aku mungkin menyukainya. Tidak. jangan sampai aku jatuh cinta padanya. Hal itu akan merugikan sekali buatku.
Arga menatapku dengan aneh. "Kenapa begitu?" Tanyanya.
"Ya tidak kenapa-kenapa. Kau pikir enak bertepuk sebelah tangan? Aku hanya mau yang pasti-pasti saja. Dicintai jauh lebih baik daripada mencintai."
"Hmm... Wanita aneh," gumamnya. "Teori aneh."
"Apa?"
"Tidak. Lupakan."
"Memangnya aku tak mendengar apa yang kamu bilang? Kau bilang aku wanita aneh. Apanya yang aneh? Kalau aku menyukai pria yang memang mencintaiku, apa itu salah? Aku ini sangat selektif lho. Aku hanya akan mencintai pria yang mencintaiku. Itupun jika sesuai kriteriaku."
"Oya?" Arga menaruh botol minum dan menutup pintu kulkas. Lalu menghadapku langsung, terlihat dari tatapannya ia tengah mencoba menilaiku. Aku sungguh risih. Seulas tawa sinis tersungging di sudut bibirnya kemudian. Aku seperti melihat tokoh-tokoh jahat namun tampan dalam beberapa film. Pernah tidak kalian menonton film yang pemeran antagonisnya membuat lupa akan pemeran utama? Nah, seperti itu.
"Setahuku, wanita itu mudah berpindah ke lain hati. Tidak bisa melihat yang bagus sedikit, langsung nyosor seperti soang kelaparan."
"Hey! Enak saja! Kau benar-benar melecehkan kaum wanita!" Aku benar-benar marah. Ia pikir bisa seenaknya berkata tentang kaumku seperti itu?
"Ya, setahuku mereka begitu."
"Ooo...makanya kau menyukai pria, karena kau pikir wanita itu murahan?" Aku berkacak pinggang, emosiku mulai naik ke ubun-ubun. Aku menahan diri untuk tak meninjunya. "Kau kenal wanita dimana? Klub malam? Itu semua tergantung pergaulanmu sendiri! Kau tahu tidak, kalau kamu bicara seperti itu berarti kamu menghina ibumu sendiri!"

KAMU SEDANG MEMBACA
She or He? (Telah dinovelkan)
RomanceBagaimana jadinya bila seorang wanita menikah dengan seorang gay? Sofia, seorang pemilik WO terkenal, menikahi Arga yang juga bekerja di bidang pernikahan. Namun sedari awal, Arga sudah berterus terang pada Sofia jika ia adalah gay. Sofia tetap maju...