Bab 15 - Pelayan

9.5K 839 220
                                        

Aku akan tetap bersama kalian. Dan ini adalah jalan yang kupilih.

וו×

SEAN mendapat kabar bahwa V01 sudah berada di Foster. Dan berita lainnya yang membuat ia tergesa-gesa melewati lorong asrama, tentang teman sekamarnya yang tak lain adalah saudara kembarnya sendiri, Sam Black. Ketika Sean membuka pintu kamar, Sam sedang berdiri di balkonnya yang terbuka. Sean tahu, lelaki itu menyadari keberadaannya.

Tas hitam di punggung Sean ia simpan di samping ranjangnya. Dilihatnya ranjang di samping yang selama ini tak pernah berpenghuni kini terlihat rapi. Beberapa buku juga nampak memenuhi meja belajarnya.

"Apa rencana Chris kali ini?" Sean menatap punggung kakaknya. Hening sejenak.

"Kau tak punya hak untuk tahu rencana kami." Sam tak berbalik. Seolah pemandangan hutan Howard begitu menarik perhatiannya.

"Aku masih bagian bangsa Rod," ucap Sean dengan nada tajam.

"Tak ada tujuan yang lebih diinginkan Chris selain satu hal, dan kau sendiri tahu apa itu."

"Tapi sudah melebihi batas waktu, Salvatore tidak muncul."

Sam menoleh dengan mata penuh amarah. "Sekalipun penyihir itu tidak ada, bangsa Rod akan tetap menghancurkan para Amber."

Sean tak membalas perkataan kakaknya, membiarkan Sam berangsur-angsur menurunkan emosinya.

"Sepertinya Amber kalah cepat." Sam kembali menatap ke arah hutan. "Mereka tak tahu apa-apa yang tersimpan di Foster."

"Apa maksudmu?"

Sam hanya menoleh, menatap adiknya dengan senyum miring yang terlihat jahat. Lalu kembali menatap ke depan tanpa mau memberikan jawaban.

***

Alice berdiri di halte bus sambil menatap jam yang menunjukkan pukul empat sore. Beberapa menit yang lalu Ross baru saja mengantarnya. Kini Alice sedang menunggu bus Foster tiba. Seharusnya tidak lama lagi, karena bus itu beroperasi dari pukul tiga sore sampai sembilan malam. Dan hanya khusus di hari minggu atau hari terakhir di jadwal liburan siswa-siswi Foster.

Tak lama, bus yang ditunggu datang. Alice segera masuk, memilih tempat duduk yang kosong di bagian tengah, lalu menyimpan tas di kursi sampingnya. Setelah semua murid Foster masuk, bus pun meninggalkan hiruk pikuk kota Ashland. Perjalanan cukup panjang. Bisa memakan waktu tiga puluh menit untuk jalanan yang tergolong sepi. Apalagi ketika memasuki hutan, tak ada kendaraan yang menghambat selain struktur jalannya yang berbelok-belok dan beberapa kali tanjakan serta pudunan panjang.

Alice hanya sibuk menatap ke luar jendela, menatap pepohonan yang silih terlewati. Tadi malam ia tak bisa tidur. Bayangan suara seseorang yang menginginkan dirinya serta Ross mati, terus terngiang-ngiang. Tak membiarkan pikiran Alice lepas dari penat kemarin, hari ini maupun esok. Dan I masih bertanya-tanya, siapakah orang itu? Apa alasannya menginginkan keluarga Salvatore mati?

Tiba-tiba Alice berjengit. Merasakan sesuatu seperti sedang memperhatikannya. Ketika ia memberanikan diri untuk menengok ke arah kursi-kursi di belakang, Alice hanya menemukan beberapa murid yang asik dengan urusan mereka masing-masing dan tak ada satu pun yang terlihat sedang memperhatikannya. Lalu perasaan apa ini? Alice menggeleng, mungkin hanya perasaannya saja. Ia kembali menghadap ke depan, menatap pemandangan di luar jendela.

Ketika akhirnya bus sampai di halaman pintu masuk Foster, para murid pun turun. Alice sengaja membiarkan yang lain lebih dulu meninggalkan bus, hingga tersisa dirinya. Ia melihat lagi ke seisi bus, tak ada siapapun. Hanya pak supir yang terlihat duduk di kursi kemudi. Sambil berusaha mengusir pikirannya, Alice segera membawa tasnya dan pergi dari sana, menuju lorong-lorong sekolah yang masih sepi. Mungkin ia kembali terlalu pagi. Bahkan Ana, Helen dan Lexi pun belum memberikan kabar keberadaan mereka saat ini.

The Last OneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang