Dia tidak pernah lupa, bahwa masalah akan terus bergulir tanpa ia duga.
—ווח
MUSIM panas telah berakhir. Lebih cepat dari yang Alice duga. Hari pertamanya kembali ke Foster, ia sudah mengemasi barang-barang sejak pagi. Ross tak akan mengantarnya sampai sekolah, hanya sampai halte bus dan kendaraan berwarna kuning tembaga—ciri khas Foster—akan berhenti untuk menjemputnya.
“Sudah siap?” Wanita berambut cokelat mahoni itu berdiri di ambang pintu kamar, menatap Alice yang masih terdiam di depan koper.
Entah kenapa Alice menjadi gugup. Berulang kali ia katakan pada dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Kemudian sambil tersenyum, Alice menoleh. “Aku siap.”
Embun nampak masih menutupi sebagian kota saat mereka menuju halte bus. Ross sejak tadi terus mengoceh tentang perlengkapan dan apa yang tidak boleh dilakukan Alice, persis ketika ia baru saja pindah ke Foster. Sepertinya semua orang tua memang seperti itu. Alice beberapa kali harus mengangguk atau menjawab singkat, sebelum Ross semakin memperpanjang isi pidatonya pagi ini.
“Hati-hati. Jangan lupa pesan Mom.”
Alice mengangguk dengan mata yang menatap ke dalam mobil. Tepat saat itu bus sekolah datang. Terlihat sudah banyak siswa-siswi Foster yang memenuhi bangku bus. Setelah menyimpan kopernya di bagasi, Alice masuk dan duduk di dekat jendela.
Perjalanan diperkirakan akan berlangsung lama. Jarak dari pusat kota menuju Foster bisa dibilang cukup jauh. Alice memutuskan mengambil buku diarinya yang bersampul hijau dari dalam tas. Buku itu selalu Alice isi dengan kejadian di mimpinya. Di awali dengan Talia dan Seamus, hingga pada lembar-lembar berikutnya, Alice menulis kisah dua orang anak kecil yang ia sendiri masih tak tahu siapa nama mereka.
Musim panas 2017, 01.00 AM
Gadis kecil bermata hijau itu membuat pertemanan dengan anak lelaki misterius. Mereka menghabiskan banyak waktu di tempat terpencil. Bermain seperti dua ekor kelinci di padang rumput. Dan mata cokelat emas sang anak lelaki, selalu membuatnya ingin berjabat tangan, lalu tersenyum senang.
Alice menyadari sesuatu sejak mimpi pertamanya yang menyebut-nyebut anak lelaki itu adalah vampire. Lalu ketika mimpinya terus menyuguhkan warna mata lelaki itu. Tak ada vampire lain yang mempunyai mata cokelat emas selain bangsa Amber. Jika mengingat mimpi Talia dan Seamus, Alice menduga kali ini ada hubungannya dengan sejarah bangsa Amber. Namun ia tak ingin cepat menyimpulkan sebelum benar-benar mengetahui dari mimpi-mimpi Alice selanjutnya.
Bus tak terasa sudah berhenti di depan halaman Foster. Murid yang lain segera turun, berlomba-lomba dengan semangat mengambil koper mereka. Alice membiarkan yang lain keluar lebih dulu dan terakhir dirinya. Gedung-gedung Foster masih tetap sama. Pohon-pohon berjejer memenuhi halaman sampai ke pagar paling depan. Koridornya yang besar seolah menyambut kedatangan Alice ketika menarik kopernya memasuki area sekolah.
“Alice!” Helen berteriak, melambaikan tangannya di dekat ujung koridor menuju asrama. Di sana juga ada Ana dan Lexi.
Mereka mungkin tak tahu seberapa besar Alice merindukan ketiganya. Meskipun Alice sempat menghabiskan waktu dengan mereka ketika liburan musim panas, tapi rasanya itu belum cukup dibandingkan seberapa banyak waktu yang mereka habiskan di Foster.
“Bagaimana kabar kalian?” tanya Alice ketika sampai di depan teman-temannya.
“Liburan yang membosankan!” Helen berseru dramatis. “Kalau saja kita bisa ke villa atau tempat-tempat seperti itu. Argh! Kapan kita bisa melakukannya?! Aku ingin sekali!”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last One
VampireAlice yang baru saja merasa bahagia telah terikat Darah Pertama dengan Sean Black, harus menerima fakta yang selama ini disembunyikan ibunya. Nama Thomas Salvatore telah menjelaskan semuanya, bahwa ia adalah keturunan terakhir yang selama ini diinc...
