Bagian 04 : Roh Setia Menunggu [1/3]

46 30 0
                                        

Museum Airlangga yang setiap hari selalu ramai pengunjung kini menjadi sepi bukan main. Bahkan di sana hanya ada tiga orang siswa, mereka pun hanya menumpang untuk beristirahat. Alka menyandarkan kepalanya pada dinding, berusaha membuat posisi senyaman mungkin. Sedangkan Zazie justru tertidur dengan pulasnya di pojokan ruangan, sama sekali tak terganggu oleh apapun.

Makanan-makanan di hadapan mereka kini sudah tak tersentuh lagi, terlalu banyak stok hingga tak ada yang sanggup memakannya lagi. Mungkin hanya Rakka yang masih sanggup untuk memasukkan berbagai macam sajian ke dalam mulutnya. Entah selebar apa kapasitas perut anak itu.

Selagi Rakka masih sibuk dengan makanan, Alka sama sekali tak memalingkan arah pandangannya. Gadis itu memandangi sosok yang berada di pojokan ruangan, sosok yang tertidur dengan pulas itu.

Perlahan Alka menopangkan dagunya pada tangan kirinya, seakan-akan kedua bola mata gadis itu semakin fokus pada apa yang berada di hadapannya. Tak berselang lama, kini senyumannya juga ikut mengembang, bahkan rona merah di pipinya mulai terlihat.

"Krisnanda?"

Alka mendadak mengalihkan arah pandangannya, kalimat dari Rakka itu membuatnya kabur dari lamunan yang sangat dalam. Gadis itu mendapati Rakka yang menatap ke arah luar, ia pun segera mengikuti arah pandangan lelaki tersebut.

Nyatanya benar, Alka melihat sosok Krisnanda dengan mata kepalanya sendiri. "OSIS kok di sini, kak?" tanya Alka, gadis itu menatap Rakka dengan penuh rasa penasarannya.

"Emm ... Katanya sih mereka mau booking Museum Airlangga sama Goa Selomangleng buat study tour." Alka mengangguk pelan, tanda ia paham pada ucapan Rakka.

"Ugh ... udah waktunya kerja lagi?" ujar Zazie dengan nada suaranya yang begitu pelan, khas dengan orang yang baru saja bangun tidur.

"Belum, Zie. Tidur lagi sana," ujar Rakka seraya mengambil kembali makanan di depannya.

Zazie seolah tak mendengarkan ucapan Rakka, lelaki itu justru bangkit dari posisi tiduran. "Gue mau keluar dulu, suntuk gue di sini." Zazie beranjak meninggalkan Museum Airlangga.

"Pergi-pergi sana!" Rakka sama sekali tak nampak keberatan dengan kepergian Zazie, akan tetapi Alka jelas-jelas ingin menghentikan lelaki itu untuk pergi, namun ia tak memiliki keberanian untuk melakukannya.

Sesaat Alka diam seribu bahasa, ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan setelah Rakka membuka kembali bungkus makanan berkali-kali, gadis itu masih juga terdiam dengan wajah murung.

Rakka melirik Alka sesaat, ia menunjukkan tatapannya yang begitu dalam. "Kalo lu mau keluar juga nggak apa-apa kok, gue mah mau tetep makan di sini," ujarnya dengan nada bicara yang terdengar lembut.

Alka seketika menatap Rakka, ia nampak sangat terkejut. Namun dalam secepat kilat, gadis itu mengangguk dan segera pergi dari Museum Airlangga, "Permisi kak, saya keluar dulu," ujarnya.

Alka melangkahkan dengan tergesa-tesa, ia menatap kanan kiri dengan begitu teliti. Gadis itu sangat berharap ia akan menemukan sosok yang dicari-cari. Dari sisi jalan ke sisi jalan yang lain, ia mengitarinya tanpa lelah.

Namun nihil, ia tak menemukan sosok itu. Alka menghela nafas panjang, "Bodo amat dah, ntar juga orangnya balik," ujarnya pelan pada dirinya sendiri. Alka berjalan pelan kembali menuju Museum Airlangga.

Sebelum Alka memasuki gerbang museum, perhatiannya teralihkan oleh sesuatu yang kecil, mungil, dan terlihat sangat lucu. "Kucing," ujarnya gembira. Alka segera mendekati kucing itu, hewan itu sangat bersahabat, bahkan tak merasa takut sedikitpun ketika Alka mendekatinya.

Alka mengelus-elus bulu kucing itu, sang kucing pun tak menolak sama sekali, bahkan suara mengeongnya terdengar begitu menggemaskan. Masih belum merasa puas, Alka kini mengangkat tubuh kucing tersebut, lalu menggendongnya. Sang kucing justru nampak semakin senang, ia mengusap-usapkan kepalanya pada Alka, sukses membuat gadis itu semakin meleleh karenanya.

Tak berhenti sampai di situ, Alka memberanikan diri untuk melempar sang kucing ke udara, lalu menangkapnya kembali. Sesaat memang nampak mengasyikan, namun di saat yang bersamaan, Alka mendapati pemandangan yang ia rasa cukup aneh.

"Eh, bentar." Alka menatap sebuah warung yang berada di depannya, sosok yang berada di dalamnya mungkin hanya terlihat punggungnya saja, namun Alka yakin betul siapa itu. "Kak Krisnanda?" ujarnya pelan.

Alka masih belum selesai, ia berusaha untuk menggeser posisinya agar lebih ke kiri, mencoba mencari tau apakah ada orang lain disana. Nyatanya Alka mendapati sosok lain disana, yang sangat tak asing baginya. "Kak Zazie ...?!" ujarnya tak percaya. "Kenapa Kak Krisnanda sama Kak Zazie? Ada urusan apa mereka?"

Alka merasa semakin ingin tau. Gadis itu kini berpindah posisi. Ia mendekati warung tersebut, Alka berjalan perlahan menuju garupa warung. Ia berusaha menyembunyikan dirinya di balik garupa tersebut.

Posisi Alka sudah cukup dekat untuk melihat jelas bahkan mendengar percakapan mereka berdua. Zazie nampak sangat riang sekali, senyumannya seakan-akan tak mau mereda sedikitpun. Bahkan sesekali Alka mendapati Zazie yang berusaha meraih tangan Krisnanda, walau gadis cantik itu selalu berhasil untuk menghindar.

Kedua alis Alka berkerut, otaknya berpikir keras untuk mencerna pemandangan di hadapannya. "Krisnanda, liat gue dong. Nggak mau ya ditatap sama cowok ganteng?" Alka mendengar dengan jelas kalimat yang keluar dari mulut Zazie itu, sukses membuatnya semakin berpikir keras. "Tau nggak? ... Gue suka ... sama lu."

Alka seketika membeku dalam posisinya. Mata terbelalak, mulutnya tak sanggup untuk mengatakan sepatah kata pun. Kedua tangannya mendadak menjadi lemas, kucing yang semula masih ia gendong itu perlahan turun karena tangan gadis itu juga turun.

Sang kucing nampak bingung, sekali ia mengeong pada Alka, namun gadis itu tak menggubrisnya sama sekali. Kedua mata Alka perlahan mulai berkaca-kaca, detak jantungnya berpacu sangat cepat, menahan sayatan pisau di hati kecilnya.

Perlahan gadis itu mulai mengepalkan tangannya dengan begitu pelan, namun tenaga yang ia keluarkan sangat kuat. Kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan raut wajahnya. Namun ia sadar betul jika kedua alisnya kian berkerut, sorot matanya begitu tajam, dan kedua giginya ia rekatkan rapat-rapat. Gadis itu sungguh marah.

Bahkan kucing kecil menyadari aura negatif yang mulai memancar dari dalam diri Alka. Sang kucing mengeong dengan nada yang terdengar seperti gelisah, dan tak lama ia pun berlari meninggalkan Alka. Gadis itu sesaat masih terdiam di posisinya. Tak lama, kepalan tangannya itu ia hantamkan pada tanah keras-keras, hingga rasa sakit menjalar di sekujur lengannya.

Di sisi lain, Rakka masih belum beranjak dari Museum Airlangga, ia masih sibuk dengan urusan perutnya yang tak kunjung selesai. Sekilas, ia melihat Alka yang berjalan ke arah barat. "Kemana sih tuh anak? Dari tadi keliling-keliling mulu," ujarnya kesal.

Rakka melihat jam tangannya, kedua jarum itu menunjukkan pukul 17:00, matahari akan segera tenggelam dalam waktu singkat. "Ini kenapa pada nggak balik-balik sih? Bentar lagi udah mau malem Nggak kelar-kelar nanti nih misi!" gerutu Rakka.

Rakka kembali melanjutkan acara makan. Namun entah kenapa otaknya tak berhenti berpikir, seakan-akan ada mengganjal dari semua ini. Mendadak sebuah suara terdengar dengan begitu keras. Seketika Rakka terdiam layaknya patung, ia berusaha mendengarkan suara itu dengan lebih teliti.

Suara tersebut berlangsung cukup lama, hingga perlahan mulai mereda, dan tak kunjung terdengar kembali. "Itu kan suaranya roh Jatayu ...." Rakka kembali terdiam sesaat, otaknya justru berputar dengan semakin cepat. "Apa roh Jatayu udah kembali lagi ya?" ujarnya mengandai-andai.

Rakka perlahan nampak khawatir dan gelisah, pikirannya sudah terbang kemana-mana. "Kok perasaan gue nggak enak sih?" ujarnya dengan nada bicaranya yang terdengar sangat gelisah.

Rakka menggaruk rambutnya dengan gusar, lelaki itu terlihat begitu khawatir. Seketika ingatan beberapa saat yang lalu bangkit kembali, ia ingat betul jika Alka baru saja berjalan ke arah barat, menuju Goa Selomangleng.

Secepat kilat, Rakka menatap ke arah semula dimana Alka duduk saat istirahat, dan sialnya, holster sekaligus rambu runcing milik Alka masih tergeletak di sana. "Jangan-jangan ...!"

Tak mau mengambil resiko lebih jauh, Rakka segera mengenakan holster dan bambu runcingnya, sekaligus membawa senjata milik Alka bersamanya. Rakka segera berlari menuju Goa Selomangleng, langkahnya begitu terburu-buru dan terdengar sangat gelisah.


.

To be continue ...

Eunoia RonStories to obsess over. Discover now