Bagian 04 : Roh Setia Menunggu [2/3]

36 27 0
                                        

Nafas Rakka yang terengah-engah itu mengiringi setiap anak tangga yang dilewati. Begitu ia sampai pada anak tangga terakhir, langkahnya mendadak terhenti. Rakka mendapati sosok gadis itu di sana, di antara gerombolan beberapa bongkahan batu.

Gadis itu menghadap searah dengan Rakka, sehingga hanya bagian belakang tubuhnya lah yang terlihat. "Alka ...," ujar Rakka pelan. Lelaki itu memberanikan diri untuk menggerakkan kakinya beberapa kali, berusaha mendekati sosok gadis tersebut.

Tak lama, langkah lelaki itu tiba-tiba berhenti. Ia nampak khawatir dan gelisah. Rakka menatap sosok gadis itu yang pelahan memutar tubuhnya, mulai menampakkan wajah padanya. "Lu ...." Betapa kagetnya Rakka, ketika ia mendapati sosok Alka dengan kedua bola matanya yang merah menyala, serta wajahnya yang sedatar dinding sekolahan.

Tak banyak basa basi lagi, Rakka segera meraih bambu runcingnya. Ia angkat senjatanya itu setinggi pundak, serta ia arahkan lurus pada sosok gadis di hadapannya. "Jangan menodongkan senjata tajam padaku seperti itu, pemuda."

Rakka seketika nampak waspada. Ia melihat dengan kedua matanya sendiri, sosok Alka itu menggerak-gerakkan sudut bibirnya, akan tetapi warna suaranya jelas berbeda dengan Alka yang biasanya.

Tak mau mengambil resiko lebih jauh, Rakka memutuskan untuk mengambil tindakan lain. Ia meriah ponsel di sakunya, lalu segera menelpon seseorang di daftar kontaknya. "Pak Yudis, tolong ke Goa Selomangleng, terjadi keadaan tak terduga, ini darurat," ujarnya lirih, lalu segera memutus sambungan telepon.

Sosok roh yang telah mengendalikan tubuh Alka nampaknya mengamati tindakan Rakka, ia mendengar jelas kalimat lirih yang diucapkan oleh Rakka barusan. "Kau tidak sopan ya? Pada orang yang lebih tua seperti itu."

Rakka tak merasa goyah sama sekali. "Lu yang nggak sopan, masuk ke tubuh orang lain tanpa izin!" ujarnya tegas.

Bukannya membalas kalimat Rakka, sosok Alka yang telah dirasuki oleh roh tersebut justru tertawa. Sungguh tawa menyebalkan yang mulai membuat geram hati kecil Rakka. "Kau salah besar, nak."

Rakka mendadak terdiam, ia mendengar dengan jelas apa yang diucapkan sosok tersebut. Otaknya mendadak berputar lebih cepat, mencoba menganalisis makna dari kalimat barusan.

Tak mau ambil pusing, Rakka lebih memilih untuk mengabaikannya. "Sebelumnya gue minta maaf ... tapi gue nggak ngerti omongan lu!"

Rakka melempar bambu runcingnya, melesat lurus ke arah Alka. Ia yakin sasaran tepat, ia yakin tak akan meleset. Akan tetapi sebuah roh lain mendadak muncul, menghempaskan bambu runcing Rakka semudah itu sebelum sempat menyentuh sosok Alka sedikitpun.

"Jatayu!"

Roh tersebut kini terbang tinggi, melarikan dirinya dari tempat ini. Namun Rakka tak sebodoh itu, ia meraih bambu runcing yang satunya lagi, yaitu bambu runcing milik Alka yang ia bawa bersamanya. Kembali Rakka melesatkan bambu runcing yang ia bawa. Kali ini diluar dugaan roh Jatayu, membuatnya tak sempat menghindar dan harus rela tertusuk tepat di tengah-tengah badannya.

Roh Jatayu terjun bebas bersamaan dengan bambu runcing milik Alka yang tertancap hingga menembus tubuhnya. Begitu ia menyentuh tanah, cahaya terang mulai menyeruak, malam yang gelap pun mulai tergeser oleh sinar yang begitu menyilaukan.

Suara khas Jatayu terdengar kembali, menandakan kehidupannya di dunia ini hendak berakhir. Tak berselang lama, suara dan cahaya itu mulai mereda, dan hanya menyisakan bambu runcing milik Alka di sana. "Pengiriman roh menuju akhirat, selesai," ujar Rakka lirih. Lelaki itu menatap benda tajam yang tergeletak di tanah itu dengan dalam, bahkan tanpa bergerak dari tempatnya sedikitpun.

"Kau bodoh ya, anak muda?"

Rakka mendadak mengalihkan pandangannya, ia menatap sosok Alka yang masih dirasuki oleh roh tersebut. Tatapannya kini berubah, kalimat barusan sukses memancing amarah di hati Rakka. Sorot mata Rakka mendadak menjadi tajam.

"Kau melempar bambu runcingmu pada anak ini?" ujarnya dengan nada meledek yang terdengar sangat menyebalkan.

"Bukan Alka. Tapi lu, roh sialan!"

Roh yang menguasai tubuh Alka itu mendadak tertawa lepas, merasa begitu terhibur oleh ujaran kemarahan Rakka. "Jelas-jelas gadis di depanmu ini lah yang kau serang," ujarnya begitu tawa menyebalkannya itu telah mereda.

"Gue bilang bukan!" Rakka berteriak semakin keras.

Namun sosok roh di dalam tubuh Alka juga kembali tertawa, bahkan dengan lebih lepasnya. Lalu diikuti oleh kalimat ejekannya kembali, "Lucu ya kau ini .... Kedua matamu melihat dengan jelas, 'kan? ... Gadis ini adalah temanmu." Rakka terdiam, lelaki itu masih saja nampak marah, dan tak merasa goyah sedikitpun. "Lagian, apa kau tau bagaimana jadinya jika bambu runcingmu mengenai gadis ini?" lanjutnya.

Rakka nampaknya tertarik dengan kalimat sosok itu, namun ia masih belum juga angkat bicara kembali. Bahkan Rakka justru menatap sosok itu dengan semakin tajam.

Tak mau kalah, roh yang berada di dalam tubuh Alka tersebut kembali berbicara, "Kau tak tau 'kan?" ujarnya dengan nada bicara yang sungguh-sungguh mengejek, serta diiringi oleh tawanya yang semakin memperparah suasana hati Rakka. "Namun kau justru berusaha melukai ... sosok kau cintai ini."

Seketika amarah Rakka benar-benar memuncak, lelaki itu nampak begitu menyeramkan, wajahnya memerah ditambah dengan sorot matanya yang terkesan begitu mematikan. "Lu bukan Alka! ... Balikin dia sekarang!" teriaknya penuh kemarahan.

Langkah kaki sayup-sayup terdengar, dan terasa semakin mendekat. "Rakka!" Sosok guru muda kini datang dari belakang Rakka. Dari teriakannya ia terdengar begitu khawatir. Beliau menatap sosok siswanya yang telah berubah itu, seketika membuat Pak Yudis kaget bukan main, dan nampak semakin khawatir. "Alka, sadarlah!"

Kali ini giliran Pak Yudis yang mencoba memanggilnya, akan tetapi sosok roh di dalam tubuh Alka itu sama sekali tak goyah sedikitpun. Sosok itu justru menghempasnya tangannya dari kiri ke kanan, membuat angin kencang seketika menerpa Rakka dan Pak Yudis.

"Itu Alka?" tanya Pak Yudis pelan pada Rakka.

"Iya, dia dirasuki," jawab Rakka dengan pelan pula.

"Kok bisa?"

"Nggak tau pak, sejak saya dateng udah kaya gini."

Seketika Pak Yudis terdiam, beliau nampak berpikir keras untuk mengatasi masalah di depannya tersebut. "Gawat ini," ujarnya lirih.

Nyatanya roh yang mengendalikan tubuh Alka itu mendengar dengan jelas pembicaraan antara Pak Yudis dengan Rakka, dan ia nampak tak suka dengan hal itu. "Apa-apaan? Tidak seru sama sekali," ujarnya.

Roh itu membuat Alka berjalan ke arah samping, menuju bambu runcing Alka yang semula tertancap di tanah usai digunakan oleh Rakka untuk menusuk roh Jatayu. Perlahan, bambu runcing tersebut ia ambil. Ia angkat menggunakan kedua tangannya, hingga setinggi dada.

Semula sisi runcing bambu itu memang mengarah keluar, akan tetapi ia mendadak membalik bambu tersebut, sehingga sisi runcingnya kini mengarah lurus ke dada Alka.

"Alka!" teriak Pak Yudis dalam seketika.

"Hentikan!" Rakka pun juga berteriak.


.

To be continue.

Eunoia RonStories to obsess over. Discover now