Sementara Zazie dan Rakka menikmati waktu luang mereka di tengah Taman Kilisuci yang indah nan sejuk ini, Alka justru nampak murung dan tak bersemangat. Ia masih saja mengingat tindakannya beberapa saat yang lalu, "Bego banget sih gue!" pikirnya.
Mendadak sebuah sensasi sentuhan ia rasakan di pundak kirinya, sukses membuat lamunan Alka hancur berantakan dalam seketika. Sontak ia menengok ke arah pundaknya, dan mendapati tangan Zazie bertengger di sana. "Jaga pikiran lu jangan sampe kosong," ujar Zazie dengan ketus dan tanpa menatap ke arah Alka sama sekali.
"Saya nggak nglamun," jawab Alka dengan nada bicara lirih yang terdengar lesu.
"Cheer up, kid. Lu nggak ngelakuin kesalahan kok." Lagi-lagi Zazie masih tak berniat untuk menatap Alka sama sekali, namun nada bicaranya kini terdengar lebih baik, lebih mirip seperti nasehat dari orang berpengalaman.
Kalimat lelaki itu begitu lembut, menggetarkan hati kecil Alka. Ia seketika menatap Zazie. Sorot mata Alka begitu dalam, lebih dari sebelumnya. Wajah murung sang gadis perlahan menghilang, digantikan senyuman kecil di wajahnya, yang membuat pancaran kehangatan kian terasa.
Sayangnya, Zazie sama sekali tak menyadarinya, ia terlalu sibuk menatap ke arah langit, begitu teliti memperhatikan cakrawala yang tak kunjung menampilkan roh elang incaran mereka.
"Wait ...," kalimat ber-Bahasa Inggris yang diutarakan Alka akhirnya sukses mengalihkan perhatian Zazie ke arahnya. "Kid? ...." Alka kini menatap lelaki tersebut dengan geram, entah kemana perginya tatapan penuh perasaannya barusan.
"Iya ... kid. Lu kan anak kecil," ujar Zazie dengan nada meledeknya yang terdengar sangat menyebalkan. Bahkan ia juga menyenggol pipi Alka menggunakan jari telunjuknya.
"Saya bukan anak kecil, kak!" Teriakan Alka sama sekali tak terdengar menyeramkan, apalagi gadis itu notabene mempunyai warna suara yang lucu. Ia mengalihkan pandangannya dari Zazie, merasa muak pada seniornya yang satu ini. Namun Zazie sama sekali tak merasa bersalah, ia justru tertawa lepas menikmati reaksi adik kelas yang digunakan sebagai bahan candaan.
Alka mungkin terlihat geram dan tak mau memandang Zazie, namun sesekali sang gadis melirik sosok itu, dan mendapati senyuman lebar di wajah lelaki tersebut. Tak berselang lama, tanpa sadar sudut bibir Alka perlahan terangkat.
Hingga tawa lepas Rakka membuat Alka tersadar, dan segera mengkondisikan kembali raut wajahnya. "Sabar aja Al kalo sama Zazie mah, suka ngatain orang emang," kata Rakka. "Kalo lu dikatain sama Zazie, jangan dibales pake kata-kata juga. Balesnya tuh gini ...." Rakka meraih bambu runcing dan memukul Zazie tepat di kepalanya.
Tuak!
Alka yang semula harus terpaksa menampilkan wajah murung kini bisa menunjukkan tawanya dengan bebas. Sementara Zazie mendadak terdiam dan menatap Rakka dengan cukup tajam, seakan-akan siap membunuhnya. Namun Rakka sama sekali tak menggubris aura negatif dari Zazie, ia justru menjulurkan lidahnya guna mengejek anak itu lebih jauh lagi.
Riang tawa mereka sempat mengisi suasana Taman Kilisuci yang semula sepi dan suram. Kini taman kecil itu terasa hangat dan menyenangkan, membuat nyaman siapa pun yang mampir di sana.
Akan tetapi, semuanya berubah seketika setelah Zazie mendadak terdiam dan menunjukkan ekspresi wajah yang begitu serius. Lelaki itu beranjak dari kursinya, ia berdiri tegak menatap salah satu sisi langit dengan teliti. "Dia datang ...," ujarnya pelan. Rakka dan Alka segera beranjak pula, mereka menatap lurus ke arah pandang Zazie, serta memperkuat daya kepekaan pada sekeliling.
Kwaaak ...
Lagi-lagi suara bernada tinggi khas elang terdengar, membuat ketiga anggota Candramawa mendadak bersiap akan segala kemungkinan serangan. Tak berselang lama sebelum roh elang kembali menampakkan wujudnya, Rakka sudah terlebih dahulu mengeluarkan bambu runcingnya.
YOU ARE READING
Eunoia Ron
Fiksi Remaja[TELAH TERBIT DI GUEPEDIA] Tak seperti siswa lain yang sibuk memegang gadget, anggota extra Candramawa justru sibuk memegang bambu runcing sebagai alat untuk mengirim roh menuju akhirat. Akan tetapi bagaimana apabila bambu runcing mereka justru men...
