Bagian 06 : Bertemu Laksmana [3/3]

113 29 5
                                        


Angin berhembus dengan sangat kencang. Cukup untuk membuat debu kembali bertebaran di atas langit. Sesaat mungkin pandangan mata akan terhalangi. Namun hanya dalam beberapa detik Alka sukses mendapati sesuatu yang luar biasa di hadapannya.

Bagian atas roh naga kembali menampakkan diri, dan dalam sesaat keduanya baik Laksmana maupun Alka kembali mempersiapkan senjata mereka. Laksmana mengangkat busur panahnya, serta menarik bambu runcing sebagai anak panahnya itu ke belakang. Sementara Alka, ia sudah mengangkat bambu runcingnya setinggi telinga. Sasaran telah berada di depan mata, kini hanya butuh membidik saja.

Hanya dalam hitungan detik, akhirnya bambu runcing Alka dan Laksmana meluncur secara bersamaan. Karena bambu runcing Laksmana yang memiliki kecepatan lebih tinggi, benda yang semula meluncur di belakang bambu runcing Alka itu perlahan mulai mendekat. Semakin mendekat hingga ia bisa sejajar dengan bambu runcing Alka, dan mendarat bersamaan di atas tubuh roh naga yang tersisa. Bambu runcing Alka menusuk tepat pada leher, sementara milik Laksmana menusuk pada kepala roh naga tersebut.

Cahaya bersinar terang, menyeruak gelapnya malam dari dua buah benda tajam yang menancap dengan dalam. Layaknya apa yang baru saja mereka lakukan beberapa waktu lalu, cahaya yang bersinar tersebut tentu sangat terang dan menyilaukan. Alka bahkan tak hanya menutup kedua matanya rapat-rapat, ia juga perlu mengangkat tangan setinggi mata, berusaha menghalangi sinar yang menyilaukannya itu dengan lebih baik.

Seakan-akan indra penglihatannya dilumpuhkan, Alka saat ini sama sekali tak bisa menatap apapun. Lagi-lagi, ia merasakan ada benda jatuh di sebelahnya. Ia tak tahu pasti apa itu, namun ia juga tak mempunyai kesempatan untuk memastikannya.

Mendadak, sesuatu melingkar pada tubuh Alka, seperti memegangnya dengan erat. Alka merasakannya dengan pasti, dan tak lama gadis itu mulai menyadari bahwa ia mulai terbawa oleh sesuatu tersebut.

"Whoa!" teriaknya. Tentu saja gadis itu begitu kaget, apalagi dengan cahaya terang yang masih menyeruak, ia tak tahu siapa dan kemana ia akan dibawa. Awalnya Alka ingin melawan, namun begitu cahaya mulai mereda, dan ia bisa menggunakan indra penglihatannya kembali, gadis itu justru terdiam dengan kedua matanya yang terbuka lebar. "Kak Laksmana ...," ujar Alka pelan.

Laksmana membawa gadis itu hingga beberapa meter dari candi utama. Ia menurunkan kembali gadis itu, lalu menepuk kedua pundaknya. Laksmana tak mengatakan apapun, bahkan Alka sendiri juga tak memahami tindakan lelaki itu.

Perlahan Laksmana mengalihkan pandangannya dari Alka, menuju ke arah cahaya terang berasal. Melihat tingkah sang senior, Alka akhirnya memutuskan untuk mengikuti arah pandangannya.

Seketika Alka membeku di tempatnya, "Itu ...," ucapnya lirih, seakan-akan tak percaya. Padahal ketika Alka melempar bambu runcingnya beberapa waktu lalu, roh naga masih berada di dekat candi utama. Namun saat ini roh tersebut telah melilit Candi Naga, tempat dimana Alka semula berada. "Sejak kapan ...?"

Walau hanya beberapa detik, roh naga yang telah tertusuk dan bahkan memancarkan sinar, akhirnya menghilang bersamaan dengan cahayanya. Menyisakan dua buah bambu runcing di sana.

"Kak Laksmana," panggil Alka dengan pelan. Laksmana pun perlahan menatap Alka, dengan hanya menolehkan kepalanya ke belakang. "Jangan-jangan tadi saya ...." Alka mengangkat kedua alisnya, ia nampak begitu gelisah. Kedua bola matanya fokus ke arah Laksmana, mencoba membuat lelaki itu berbicara.

"Alka, lu itu ...," ujar Laksmana seraya memutar balik tubuhnya, agar ia dapat memperhatikan adik kelasnya itu dengan lebih baik. "Gue tau lu pindahan dari SMAN Satu Semarang, sekolah dengan extra supranatural yang sangat bagus. Nyatanya lu emang jago, gerakan lu udah lincah dan tepat. Tapi ... lu masih kurang pengalaman."

Jedar!! Mungkin bukan kalimat ejekan maupun makian. Namun dalam seketika Alka merasa seperti sosok yang tak berguna. Gadis itu kembali menunduk dengan pelan, ia sadar betul dimana letak kesalahannya.

"Walaupun roh udah tertusuk, bukan berarti dia udah nggak bisa nyerang."

"Maaf kak ...," ujar Alka lirih. Sudah tak ada kalimat yang bisa ia ucapkan lagi. Entah berapa kali Alka merepotkan Laksmana hari ini.

Di sisi lain, Laksmana nyaris tak mengalihkan pandangan dari gadis di hadapannya. Tatapannya bahkan nampak berbeda. Sedikit, hanya sedikit, ia terlihat lebih lembut. "Maklum juga sih, lagian lu masih kelas sepuluh." Laksmana menepuk pundak Alka, lalu berjalan melewati gadis tersebut. Alka seketika membalikkan badan, menatap punggung Laksmana yang kian menjauh. "Ambil balik bambu runcing kita, gue tunggu di mobil!"

Sesaat gadis itu masih terpaku pada pandangannya, hingga akhirnya sebuah senyuman mengembang secara perlahan, "Siap kak!"

.

To be continue.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 30, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Eunoia RonStories to obsess over. Discover now