Bab 9

149K 8K 332
                                        

Dalam ruangan berpendingin udara dengan jendela kaca menghadap ke jalan raya, ada beberapa orang sedang terlibat diskusi serius. Seorang perempuan cantik dengan rambut kemerahan, memakai setelan putih menatap serius ke arah Nasirin yang sedang memberitahunya sesuatu.

Sementara Aaron berdiri termangu memandang jalan melalui jendela kaca. Di luar mendung, awan menggantung baikan debu hitam di langit. Ia asyik dengan pikirannya sendiri, hingga tak memedulikan beberapa orang yang berbincang di belakangnya.

Sebuah kejutan yang ia dapat saat memasuki tempat ini membuatnya, shock. Orang yang telah menghilang bertahun-tahun, kini ada di hadapan. Sebuah pertemuan yang tak disangka-sangka. Sekian lama ia mencari Nara dan siapa duga akan bertemu di sini.

"Teknologi kami sudah canggih, Nona. Tidak hanya memproduksi air mineral yang sehat tapi juga ramah lingkungan. Aman dari limbah." Terdengar suara Nasirin bicara.

"Ada berapa karyawan?"

"Untuk pabrik di Sukabumi saat ini berkisar seribu orang."

"Untuk tempat ini?"

Nasiri tersenyum. "Bagaimana kalau Nona Rosali saya bawa ke dalam pabrik dan gudang untuk melihat-lihat. Bersama Tuan Aaron kalau berkenan."

Rosali mendongak, memandang Aaron yang sedari tadi terdiam memandang jalan raya melalu jendela kaca. Ia melangkah mendekati laki-laki itu dan menegurnya pelan.

"Aaron, ada apa?"

Aaron menoleh. "Nggak ada, sedang memperhatikan lingkungan sini. Apa kamu mau pergi ke area pabrik?"

Rosali mengangguk. Seulas senyum terkembang di bibirnya. "Jika diizinkan sama kamu. Ayo, kita ke sana."

"Aku tetap di sini, ada sesuatu yang ingin aku lihat."

"Baiklah, aku tinggal dulu." Rosali mengelus sebentar lengan Aaron sebelum meninggalkan ruangan diiringi Nasirin.

Sepeninggal perempuan itu, Aaron berbalik. Menghadap tiga orang laki-laki yang duduk di atas sofa. Mereka adalah kepala pabrik, direktur utama dan manajer. Dari semenjak pabrik ini berdiri, Aaron sudah mengenal mereka.

"Saya ingin melihat laporan penjulan, adakah yang bisa dipanggil kemari? Karyawan yang bertugas?"

"Saya akan membawa laporan itu pada Tuan." Seorang laki-laki bertubuh gempal yang ia ketahui adalah manajer pabrik, bangkit dari sofa dan menghampirinya.

Aaron mengangkat tangan. "Nggak usah, Pak. Kita akan ada meeting khusus untuk itu nanti. Saya hanya ingin tahu penjualan secara garis besar saja. Kalau saya tidak salah ingat tadi, ada staf bernama Nara?"

Ketiga orang itu saling berpandangan, sama sekali tidak menyangka jika sang atasan ingin bicara dengan seorang staf biasa. Mengabaikan perasaan heran, mereka mengangguk.

"Baiklah, Tuan. Saya akan panggilkan Nara."

"Bisakah saya ditinggalkan sendiri hanya dengan staff itu?"

Semua orang yang ada di ruanga lagi-lagi tercengang. Merasa aneh dengan permintaan Aaron tapi tidak berani bertanya.

"Kalau begitu, kami akan menyiapkan dokumen untuk rapat," ucap sang direktur.

Aaron mengangguk, kembali berbalik memunggungi mereka. Menatap awan hitam yang sepertinya lelah bergayut dengan langit karena ini mulai turun rintik hujan. Ia mendesah, merasakan hawa dingin menyelusup masuk melalui jas-nya yang terkancing rapat. Ia tetap bergeming di tempat saat kepala pabrik meninggalkan ruangan untuk memanggil Nara.

***

Ia gemetar, seakan kehilangan tenaga untuk mengangkat sesuatu. Pikirannya berkecamuk dengan hati gundah. Siapa yang tidak gundah jika mendadak bertemu lagi dengan orang yang kita hindari. Selama empat tahun ini, ia menghilang. Dan, kini nasib membawanya berputar ke arah yang tidak ia sadari.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: a day ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ISTRI RAHASIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang