25. Awal

538 89 33
                                        


Pagi ini seperti biasa dengan rutinitas gue tiap pagi, gue menyemprotkan minyak wangi sebagai sentuhan akhir.

"Oke, sempurna!" Monolog gue dengan mematut tampilan gue dari cermin.

Seragam abu-abu sudah terpakai rapih, dan rambut yang sengaja gue cepol meningat rambut gue yang mulai panjang dan sering buat gue gerah.

Gue berjalan ke meja belajar gue lalu mengambil tas yang udah gue siapkan tadi malam, dan memakainya.

Saat turun ke bawah gue melihat dua sosok yang paling berhara di hidup gue, Mama dan Papa.

"Pagi sayang." Sapa Mama gue sambil menyiapkan roti selai coklat untuk papa gue yang asik berkutat dengan laporannya.

"Pagi Ma, pagi Pa." Balas gue.

Papa gue hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu melanjutkan pekerjaannya.

"Pa tolong bedain sarapan sama pekerjaan dong, apa-apa pekerjaan mulu yang di urus. Putrinya sendiri malah dicuekin!"

Oke, gue sedang merajuk. Mengingat Papa yang jarang di rumah karena sibuk kerja, sekalinya di rumah malah pekerjaan yang di urus. Anak istri di cuekin.

"Tuh dengerin pah, anaknya merajuk." ucap Mama gue.

"Maap ya, Papa emang gak bisa bagi waktu." Helaan nafas terdengar dari mulut sang papa.

"It's oke dad! Tapi setidaknya hargai waktu sama keluarga, Irene tuh gak bisa di anggurin. Apa lagi mama, ntar kalo mama cari papa baru gimana?"

"Ish sembarangan! Mama tuh type perempuan yang setia loh." kata mama gue.

Papa gue terkekeh pelan. "Iya sayang, papa akan luangkan waktu buat kalian."

"Nah gitu dong! Kan seneng hehe."

"Gimana sekolah kamu?"

"Baik kok pah," jawab gue dengan mulut penuh roti.

"Telen dulu baru ngomong, kebiasaan deh." tegur mama gue.

Gue mengangkat jempol dengan maksud 'oke' lalu meminum segelas susu coklat favorit gue.

"Kamu udah punya pacar?"

Gue tersedak pelan mendengar pertanyaan papa gue.

"Ada pah, ganteng banget pacar Irene. Mama sampe heran kok ada ya cowok yang mau sama modelan anak kita hahaha."

"Ish mama! Ini anak mama sendiri loh jahat banget sih, gini-gini ya banyak yang naksir sama Irene di sekolah." Jawab gue sombong menanggapi candaan mama gue.

"Iya anak papa emang cantik, ngomong-ngomong siapa pacar kamu?"

Gue menunduk malu, rasanya tuh kalo di tanya sama orang tua perihal kasmaran emang bikin malu setengah mati.

"Papa kepo deh." cuman itu yang mampu gue jawab.

"Syukurlah." ucap gue dalam hati ketika mendengar suara bel.

"Biar Irene aja yang buka." Gue segera berjalan ke pintu utama tanpa nunggu jawaban ortu gue.

Siapapun lo yang bertamu makasih udah nyelamatin gue dari pertanyaan papa hehe.

"Lama amat lo! Ayok berangkat cepet!"

Gue menatap heran Kai begitu gue membuka pintu.

"Lo ngapain disini?"

"Pakek nanya, jemput lo lah."

"Tumben banget lo jemput gue, kesambet setan apaan lo semalem?"

SEBATAS INSTAGRAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang