27. Dia Mulai Berubah 2

456 84 36
                                        


Sia-sia sudah perjuangan gue mengejar waktu agar sampai kesekolah tepat waktu. Semua ini karena gue bangun kesiangan akibat semalam susah tidur mikirin doi yang makin hari makin goblok.

Gue merosotkan pundak gue kebawah melihat pagar sekolah yang sudah tertutup. Wajar aja sih, sekarang udah mau pukul Delapan. Hal yang mustahil jika gerbang masih terbuka.

Gara-gara lupa gak nyalain alarm alhasil gue bangun telat, ya gimana nggak orang gue tidur pukul Empat pagi. Mana harus siap-siap ini itu, terus masuk sekolah pukul Tujuh pas.

"Percuma juga gue mohon-mohon gerbangnya tetep gak bakalam di buka," gumam gue pelan.

Tiin! Tiin!

Gue menoleh saat mendengar suara klakson motor di belakang gue.

Dan alangkah terkejutnya hati ini begitu menangkap doi yang masih duduk di atas motornya. Ternyata dia juga terlambat. Dan yang membuat hati gue dongkol adalah raut wajahnya yang terlampau biasa. Tidak kah dia merasa bersalah atas kejadian kemarin?

Sehun turun dari motornya lalu menghampiri gue yang masih betah di posisi awal.

"Tadi aku jemput kamu, tapi katanya kamu udah berangkat duluan." Gue menunduk menatap dua pasanga sepatu gue yang bergesekan dengan tanah. Enggan menatap Sehun.

"Btw, kamu kenapa telat?"

"Sehun, apa kamu tidak merasa bersalah?" Dari pada menjawab pertanyaan gue lebih memilih untuk menanyakan hal yang menganggu pikiran gue.

"Aku gak berbuat masalah, jadi untuk apa aku harus merasa bersalah?"

Gue menggeleng lalu tersenyum tipis. Menutupi luka yang menganga di hati gue.

"Gapapa kok."

"Nanggung dah telat, gimana kalo kita bolos aja?"

Gue menimbang-nimbang ajakan Sehun lalu mengangguk. Tak ada alasan bagi gue untuk menolaknya. Kenapa? Karena rasa cinta mengalahkan segalanya. Terserah mau di bilang gue bucin, menurut gue semua orang juga akan seperti gue jika kita berada di posisi yang sama.

"Yuk! Kamu mau ajak aku kemana?"

Sehun berbalik dan menaiki motornya di ikuti dengan gue.

"Ikut aja. Ntar juga kamu tau."

Gue hanya manut-manut aja biar cepet. Kedua tangan gue memeluk pinggangnya erat lalu menyenderkan kepala gue di punggung tegapnya. Bahkan gue bisa merasakan kerasnya otot punggung Sehun yang sandarable atau pelukable.

"Cepetan turun, malah anteng ngedusel." Suara Sehun membuyarkan lamunan gue sedari tadi. Dengan tampang linglung gue menyusuri tempat ini.

"Udah nyampe? Cepet amat."

"Kamu aja yang terlalu terbawa suasana peluk-peluk aku."

"Dih geer."

"Udahlah ayok. Aku laper nih." Sehun menarik tangan gue dia membawa gue memasuki salah satu Mall terbesar di kota ini.

Awalnya gue sempet negosiasi ajak Sehun ke restoran Jepang. Tapi dia milih ke strabuck, yaudah gue nurut aja selagi doi yang traktir.

Sebelum ke starbuck Sehun bawa gue ke toko baju. Dia memilah-milah sendiri potongan baju cewek, awalnya gue ngira mungkin itu buat keluarganya.

"Nih pakek, biar lancar bolosnya masa pakek seragam."

Gue mengambil baju itu lalu segera masuk ke ruangan ganti. Tak lama kemudian gue keluar dengan pakaian yang lebih nyaman untuk di pakek kencan. Begitu juga dengan Sehun yang udah keren dengan baju pilihannya.

SEBATAS INSTAGRAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang