#8 Gala Dinner

23 8 4
                                        

Mau tidak mau, Mai akhirnya menceritakan semua keluh kesah dan kecemasannya yang belakangan ini sering sekali mengganggu pikirannya. Mendengar gagasan tak masuk akal itu, Natanial menghembuskan nafas dengan berat.

"Saya kira kamu orang yang tidak akan peduli apa pendapat orang lain tentang kamu."

"Ini bukan hanya tentang aku. Ini tentang anda juga. Anda ingat kejadian kemarin kan? Semua pertengkaran itu ujung-ujungnya selalu menyeret nama anda."

"Saya gak tahu harus berterima kasih atau malah mengatakan kamu ini bodoh. Kamu pikir saya peduli apa yang mereka katakan?"

"Tapi citra anda di mata mereka-"

"Misaki," Sela Natanial dengan dingin. "Kamu kira semua yang saya perjuangkan di tempat ini adalah hanya untuk sebuah citra?"

Mai terdiam bingung harus mengatakan apa.

Natanial menggeleng dengan kecewa. "Saya tidak sedangkal yang kamu pikirkan."

***

Natanial tidak menyangka dia akan merasa kecewa atas pengakuan Mai tempo hari. Ia harus mengakui ternyata pikiran bahwa Mai hanya menyukai Natanial sebatas citranya saja dan bukan sebagai seorang individu yang berkarakter telah membuatnya kecewa. Seakan aku mengingkinkan lebih saja. Pikirnya kesal pada diri sendiri.

Sementara itu Mai masih memerlukan waktu untuk menenangkan pikirannya, memang benar apapun yang dikatakan orang lain tentang dirinya tidak pernah dan tidak akan pernah mengganggunya sama sekali, tapi akan berbeda halnya jika nama Natanial Rutter ikut terseret karena dirinya.

Mai mengetuk pintu kaca ruangan Natanial sebelum mendorongnya. "Mr.Rutter?"

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nata.

"Manager ingin anda membaca ini," Ucap Mai sembari memberikan beberapa map file kepadanya.

Nata menerima tanpa menoleh pada Mai, tangannya sibuk menjaga ponsel tetap melekat di telinganya. "Terima kasih."

Mai ingin tinggal disitu lebih lama, ada hal yang ingin dia katakan. Sapu tangan Natanial juga telah dia bersihkan, dia ingin mengembalikannya dan mengucapkan terima kasih dengan benar. Namun hal itu tampaknya harus ditunda lantaran pria itu sedang tidak bisa diganggu untuk hal-hal sepele.

"Ada lagi yang lain?" Tanya Natanial saat memperhatikan gerak-gerik Mai.

"Oh, tidak. Tidak ada." Mai cepat-cepat pergi sementara Natanial meliriknya hingga dia keluar dari ruangan itu.

Mai menyadari bahwa sebagaimana dia tidak ingin orang lain untuk menentukan apa yang menganggunya dan apa yang bukan, Natanial pun pasti memikirkan hal yang sama. Mai sekarang yakin bahwa dengan sikap dan perbuatannya beberapa waktu belakangan itu secara tidak langsung telah meremehkan Natanial dengan sengaja.

"Bodoh, bodoh, bodoh." Gumam Mai.

Langit sore itu mendung bagai perasaan Mai, dalam perjalanan pulang dia mengingat bagaimana ekspresi kecewa Natanial di tangga darurat beberapa hari lalu. Aku memang bodoh!

"Mai?"

"Ryuu!" Mai terkejut. "Kamu mengejutkanku."

"Apa yang kau lakukan? Memukul-mukul kepalamu sendiri tidak akan membuatmu pintar."

Mai menatap tajam CEO perusahaannya lalu membuang muka dan terus berjalan. Ryuu membuntuti dari dalam mobilnya. Berkendara perlahan sekali persis disebelah gadis itu.

"Apa maumu?" Bentak Mai.

"Sebentar lagi turun hujan, ayo kuantar kau pulang."

Mai tidak menolaknya, dia membuka pintu mobil dan langsung duduk di samping Ryuu seakan hal itu biasa. Ryuu tersenyum dan mengingatkan Mai agar tidak lupa mengenakan sabuk pengamannya sebelum menginjakkan kakinya pada pedal gas.

GrayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang