"God damn it," Suara Natanial menggema di seisi kantor yang sepi.
1.46 AM
Natanial kerepotan menuntun Mai keluar dari kamar mandi, didudukkannya gadis itu diatas sofa ruang kerja Ryuu. Natanial melepas kameja putih yang dia kenakan, melipatnya hingga menutupi bagian yang terkena muntahan Mai.
Dia menyeka muntahan di rok dan lengan baju Mai dengan kameja putihnya sambil berusaha menahan mual dari bau aneh hasil beragam macam bentuk dan variasi makanan tanpa batas yang dikonsumsi Mai seharian itu. Natanial mungkin tidak sadar bahwa dia sudah sangat mabuk karena rela melakukan perbuatan sebaik itu.
"Tunggu disini. Saya akan membersihkan ini dan mengantarmu pulang."
Tapi dia ingat.
"Oh shit! Saya tidak tahu alamat rumahmu!"
Natanial tidak mungkin membawa Mai pulang ke rumahnya. Kebetulan ibu dan adik perempuannya baru saja tiba dari Irlandia dua hari yang lalu, akan ada banyak pertanyaan yang merepotkan. Namun dia juga merasa terlalu mabuk, berbahaya menyetir dalam keadaan itu. Menyewa hotel? Untuk apa? Lagi pula dia harus menyetir jika ingin ke hotel.
Terpaksa hanya ada satu pilihan.
Natanial harus membiarkan Mai tidur di ruangan CEO, karena itu adalah ruangan satu-satunya di lantai 9 yang dindingnya bukan kaca. Jika ingin menginap di kantor, setidaknya dia bisa meminjam ruangan sahabatnya. Mai akan tidur disana, dan dia akan tidur di ruangannya sendiri.
Karena tentu saja Natanial tidak memiliki baju lain, dia terpaksa Topless. Dia membersihkan dirinya di kamar mandi pribadi itu sebelum pergi tidur.
"Apa yang..."
Ketika keluar dari kamar mandi, Natanial sangat terkejut melihat Mai tengah membuka pakaiannya satu persatu. Saat hendak membuka pakaian dalamnya. Nata menghentikan Mai.
"Hentikan! Apa yang kamu lakukan?"
"Bajunya bau. Aku benci itu!"
Natanial segera mencari apapun yang bisa menutupi tubuh gadis itu. Beruntung handuk yang menggantung dibahunya cukup besar untuk bisa dipergunakan.
"Pakai ini dan berbaringlah."
Mai menurut. Dia berbaring diatas sofa dan menyelimuti diri dengan handuk yang tidak sampai menutupi paha mulusnya. Tak lama kemudian matanya mulai terpejam. Natanial lega akhirnya bisa keluar.
Natanial melihat seuntai rambut yang terjatuh keatas pipi Mai. Didekatinya gadis itu, perlahan menyeka rambutnya agar tidak mengganggu. Atau mungkin Nata hanya ingin melihat sejenak wajah polos Mai yang tertidur sebelum pergi ke ruangannya.
Nata menggeleng dan tersenyum. "Kamu yang sadar saja sudah cukup merepotkan."
Tiba-tiba2 Mai menahan lengan Natanial dengan sangat kuat hingga pria itu tidak bisa bergerak kemana-mana.
"Ceritakan aku sebuah dongeng... Papa."
Natanial terdiam. Dia ingat dalam permainan sebelumnya, Mai membenarkan tebakannya. Bahwa ayahnya telah tiada. Genggaman tangan Mai pun semakin kuat tak mau lepas darinya.
Akhirnya Nata duduk di pinggiran sofa, menunggu genggaman tangan Mai agar segera melemah. Alih-alih melemah Mai menarik Natanial ke dalam pelukannya.
"Ceritakan dongeng, pa." Pintanya.
Natanial membeku. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Mai memeluknya erat seakan tidak ingin dia pergi kemanapun. Nata tahu gadis itu mungkin sedang memimpikan ayahnya. Pada akhirnya Nata hanya menatap jendela. Bulan terlihat jelas dari jendela raksasa itu, berbentuk bulat sempurna dan bersinar sangat terang, seakan sedang mengawasi mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gray
Cerita PendekNatanial Rutter adalah pria baik-baik, cerdas, dan tampan maksimal. Misaki Mai mengakui nomor dua dan tiga fakta tak terbantahkan itu. Tapi... Pria baik-baik? Mai memberengut. Belum pernah dia temukan satu pun perlakuan baik dari pria itu sejak pert...
