Setelah pulang dari rumah sakit, Ryujin kembali terlibat pertengkaran dengan murid dari sekolah lain hingga membuat Mina dipanggil oleh pihak sekolah.
Chaeyoung murka setelah mendengar cerita tentang kelakuan anaknya di sekolah maupun di luar sekolah. Dan ini untuk pertama kalinya Mina dibuat menangis oleh putri tunggal nya itu.
"Appa sama eomma salah apa sampai-sampai kamu seperti ini? Kami selalu memberikan kasih sayang ke kamu. Kami juga sudah memenuhi tanggung jawab kami sebagai orang tua. Tapi apa yang kamu berikan ke kami? Appa sama eomma tidak pernah menuntut kamu untuk menjadi siswa yang berprestasi. Lalu kenapa kamu jadi seperti ini?"
Tiga anggota keluarga itu sedang berkumpul di ruang keluarga. Ryujin yang pada dasarnya selalu menuruti apa yang dikatakan appa dan eomma nya hanya bisa menunduk diam merasa bersalah.
"Mianhae, appa."
Chaeyoung menghembuskan napas lelahnya. "Naiklah ke kamar mu, kembalilah nanti ketika makan malam."
"Ne."
"Kamu yakin Ryujin akan baik-baik aja setelah tau hal ini?" tanya Mina kepada suaminya setelah Ryujin masuk ke dalam kamarnya.
"Kita sudah terlalu sering memanjakannya. Aku mau dia menjadi anak yang bertanggungjawab agar tidak ada lagi kejadian seperti ini. Lagipula mana mungkin aku membiarkannya menikah dengan laki-laki mengingat kondisinya yang seperti itu."
"Arraseo, aku hanya bisa mendukung keputusanmu."
Malam harinya Ryujin disuruh dandan rapi oleh Mina. Entah apa yang mereka rencanakan, Ryujin pasrah.
Kini keluarga kecil itu sudah berada di dalam mobil yang sama. Sesekali membahas suatu hal yang ringan. Hingga tak terasa perjalanan mereka pun telah usai.
"Eomma, ini rumah siapa?" tanya Ryujin yang berjalan dibantu oleh Mina.
"Rumah teman appa mu."
"Untuk apa kita kemari?"
Belum sempat menjawab, Chaeyoung memanggil mereka untuk berjalan dengan cepat dan mulai memperkenalkan anaknya itu kepada temannya.
Seperti sedang pertemuan antar dua keluarga, Chaeyoung duduk berhadapan dengan Jeongyeon, Mina duduk berhadapan dengan Nayeon, dan Ryujin duduk berhadapan dengan gadis yang Ryujin tebak umurnya tidak jauh berbeda dengannya.
"Hyung, aku rasa tidak perlu ada basa-basi lagi, baiknya kita langsung membahas acara pertunangan kedua anak kita."
Mendengar ucapan Chaeyoung barusan, Ryujin terkejut bukan main. Ia menoleh sedikit ke arah Mina dan memberikan tatapan seolah meminta penjelasan, namun Mina hanya tersenyum menanggapinya. Astaga, rasanya kepala Ryujin ingin pecah sekarang juga.
"Betul juga katamu, Chaeng."
"Bagaimana kalau minggu depan, hyung? Setelah itu, Yuna akan pindah ke sekolah yang sama dengan Ryujin dan mereka tinggal satu atap."
"Ide bagus. Bagaimana nona-nona?" tanya Jeongyeon melirik Nayeon dan Mina bergantian.
"Aku setuju-setuju saja." jawab Nayeon.
"Ne, aku juga."
Malam ini seperti mimpi buruk bagi Ryujin, dan sialnya mimpi buruk itu akan berlanjut entah sampai kapan. Menyedihkan sekali hidup Ryujin setelah ini, terikat dengan sebuah hubungan yang sama sekali bukan keinginannya.
Setelah kembali ke rumah dan bersih-bersih, Ryujin menghampiri Chaeyoung yang berada di ruang kerjanya.
"Ryujin, mengapa kamu belum tidur?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ICY
Fanfiction"Maaf..." -Shin Ryujin. "Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan setiap kesalahan yang kamu perbuat!" -Shin Yuna.
