Bagian Alvaro
Sekolah rasanya udah jadi rumah kedua buat gue.
Gimana engga. Di saat anak-anak lain pada pulang ke rumah masing-masing abis jam pelajaran selesai, gue masih betah di sekolah.
Bukannya gabut ataupun gapunya rumah, tapi emang gue orang penting wkwk.
Jadi ketua jurnalis udah lumayan memberatkan buat gue. Tiap hari ada aja urusan yang mengharuskan gue buat bolak balik ke office. Belum lagi ada beberapa guru yang suka pasrahin kerjaannya ke gue. Minta tolong inilah, itulah.
Ditambah lagi sekarang gue diikutin program pertukaran pelajar sama guru gue. Jadinya harus ngikutin beberapa kegiatan abis pulang sekolah.
Tes seleksi udah gue ikutin dua hari yang lalu. Sekarang tinggal pengumuman gue lolos apa engganya.
Gue beserta murid lain yang ikut seleksi disuruh nunggu pengumuman di ruang ICT. Sekitar 5 menit nunggu, akhirnya wakil kesiswaan masuk ke ruangan dan ngasih pengumuman.
"Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih atas partisipasi kalian semua. Yang belum terpilih mohon jangan berkecil hati, masih banyak kesempatan di lain waktu. Dari 40 anak yang ikut seleksi dua hari yang lalu, 2 anak terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar. Untuk Alvaro Rafa Narendra dan Vania Deandini, setelah ini harap ke ruangan saya membahas persiapan pemberangkatan. Yang lain bisa pulang"
Yah kepilih, gajadi pulang cepet deh.
Tapi gapapa, rejeki gue yakan.
Semuanya bubar, gue juga ikut bubar. Tapi ga pulang kerumah pastinya, langsung cus ruangan wakil kesiswaan.
Tok. Tok. Tok.
Kreeekkk.
Gue masuk ke ruangan bapaknya, udah disambut hangat banget sama yang punya ruangan.
"Silahkan duduk Var, Van."
Oh iya, gue lupa ternyata ada satu lagi yang ikut di sini. Dia cewe.
"Gimana? Kalian sudah siap belum?" Bapaknya tanya.
"Insyaallah sudah pak", gue jawab begitu.
"Saya masih ragu pak", itu jawaban cewe yang duduk di sebelah gue.
"Kenapa gitu, Van?"
"Masih ragu pak, saya bisa apa engga hehe"
"Bisa pasti. Kalau ada kesusahan atau apa kamu kan bisa minta tolong sama Alvaro, iya kan, Var?" Gue cuma ngangguk sambil senyum ke bapaknya.
"Iyasih pak. Yaudah deh, kalau gitu saya juga siap"
"Nah begitu dong, sekarang bapak mau jelasin. Karena ini program pertukaran pelajar ke Prancis, bapak harap kalian sudah menguasai bahasa inggris untuk komunikasi di sana"
"Sudah, pak." Kita jawabnya barengan
"Bagus. Untuk persiapannya, yang jelas kalian harus punya paspor sama visa. Tapi tenang, itu semua nanti sekolah yang ngurus. Kalian bapak minta buat mengumpulkan fotocopy akta kelahiran, raport, sama pas foto 3 × 4 tiga lembar. Ok?"
"Siap, pak."
"Udah itu aja, kalian boleh pulang. Dokumennya bapak tunggu besok jam 12 di sini, jangan lupa pakai map"
"Makasih, pak"
"Kita permisi"
Pas keluar dari ruangan, cewe yang tadi tiba-tiba nyegat gue.
"Eh, kita belum kenalan loh. Kenalin, Vania Deandini, XI IPS 2." Dia ngulurin tangannya dan gue sambut dengan senang hati. "Alvaro Rafa Narendra, XI IPA 1."
KAMU SEDANG MEMBACA
Heartbeat
FanficAlvaro sama Aluna itu hampir gapunya kecocokan. Satunya IPA, satunya IPS. Suka fisika, benci fisika. Hobby olahraga, anti olahraga. Alergi udang, pecinta udang. Penikmat susu putih, penikmat susu cokelat. Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi kayanya t...
