Salju memasang earphone di telinganya. Ia tidak suka dengan teman-temannya yang hanya bisa menggosip orang seenaknya sendiri tanpa tau itu fakta atau tidak. Apa mereka tidak peduli dengan perasaan orang itu jika suatu saat dia tau? Salju tidak mau ikut campur.
Salju membuka halaman berikutnya pada buku yang sedang ia baca. Bagi Salju membaca buku lebih baik, daripada harus mendengarkan gosip yang selalu itu-itu saja.
Brakkk!!!
"Mana yang namanya Salju Elvaretta!"
Bella yang mendengar nama teman sebangkunya disebut langsung menoleh ke arah Salju yang masih asyik dengan earphone miliknya. Dengan perlahan Bella menyenggol lengan Salju.
Salju menatap Bella dengan raut bingung lalu melepas earphone yang tengah ia kenakan. Salju mengangkat alis kanannya lalu bertanya pelan, "Ada apa?"
Bella menunjuk laki-laki yang sedang berdiri di depan papan tulis dengan wajah yanh sulit diartikan. Sementara teman-temannya yang lain juga sedang memandangnya. Tentu saja semakin membuat Salju heran.
"Tidak ada yang jawab! Gue tanya sekali lagi, mana yang namanya Salju Elvaretta?" suara lelaki itu terdengar semakin lantang.
Bella secara otomatis langsung menunjuk Salju. Dengan terpaksa Salju mengangkat tangannya.
Lelaki itu perlahan mendekati Salju. Salju belum pernah melihat laki-laki ini sebelumnya. Jelas saja karena Salju selalu di kelas bahkan saat jam istirahat.
"Lo mau jadi pacar gue?"
Salju menghela napas panjang. Salju yakin jika lelaki ini pasti sedang taruhan. Sudah berulang kali Salju jadi bahan taruhan, mungkin lebih dari sepuluh kali dalam seminggu terakhir. Salju heran, kenapa ia selalu menjadi objek? Padahal Salju tahu jika banyak yang lebih cantik darinya, lebih terkenal darinya, lebih pintar darinya juga lebih kaya.
Lalu apa yang mereka harapkan dari sosok seperti Salju? Bahkan Salju masih bisa sekolah saja itu sudah menjadi anugrah tersendiri.
"Jadi bagaimana?" tanya lelaki itu lagi sembari mengetuk jarinya di atas meja, menunggu jawaban dari Salju.
Salju berulang kali menolak laki-laki yang menjadikannya bahan taruhan, mungkin sebaiknya kali ini Salju menerimanya. Supaya tidak ada lagi laki-laki yang tiba-tiba menembaknya.
"Oke." Salju mengulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh lelaki itu.
"Mulai hari ini kita pacaran, gue tunggu lo di kantin belakang pas istirahat nanti. See you, Honey."
Begitu lelaki itu pergi semua murid perempuan mengerubungi meja Salju seolah telah terjadi hal yang serius. Namun, Bella langsung mengusir para ratu-ratu pecinta gosip itu.
"Salju, lo hebat banget bisa jadian sama Kak Bara," ujar Bella sembari terus mengguncang-guncangkan tubuh Salju.
"Oh, jadi namanya Bara?"
"Hellow! Lo nggak kenal sama cowok yang nembak lo tadi?"
Salju menggeleng.
"Namanya Adipati Bara Ragana, anak dari pemilik Ragana Property Group. Perusahaan tersukses di Asia tahun ini."
"Hebat dong?"
"Jelas lah hebat, banyak cewek yang tergila-gila sama dia, apalagi wajah dia yang gantengnya setara sama Mario Maurer. Mimpi apa lo semalam bisa pacaran sama Kak Bara."
Salju menampar-nampar keningnya sendiri.
"Lo kenapa nampar kening lo gitu?" heran Bella.
"Gue lagi cari tau semalam gue mimpi apa, soalnya gue lupa," ucap Salju polos sembari nyengir lebar.
Bella menghela napas sambil mengelus dada. Mempunyai teman dengan otak terlalu polos seperti Salju membuatnya harus banyak bersabar.
***
Hai semuanya.
Akhirnya Bara & Salju update.
Gimana kabar kalian?
Tetap jaga kesehatan, ya. Lagi banyak Virus berkeliaran.
Jgn lupa vote+comment.
Bye bye.
😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Bara & Salju
Novela Juvenil(18+) "Lo pacarnya Bara?" tanya Bagas sambil memperhatikan Salju dari ujung kaki sampai ujung rambut. "I ... iya, Kak," jawab Salju gugup. "Cantik." Bagas langsung menyeret Salju ke dalam toilet, tidak peduli jika Salju terus menjerit. Bagas membuka...
