29 Desember 2019

20 0 0
                                        

Maaf baru ini bisa mengetik lagi. Aku banyak kehilangan tenaga untuk 2 hari kebelakang haha. Bahkan untuk bernafas saja aku merasa kehabisan energi. Semuanya benar-benar menjadi kacau. Aku bahkan tak pernah membayangkan kalau semua akan berakhir sekacau ini.

Memang benar, disaat-saat seperti ini yang kamu butuhkan hanyalah mengurung diri dikamar, mendengarkan musik sekeras mungkin, sholat dan berusaha menerima kenyataan.

Itu yang kulakukan seharian kemarin. Dan Alhamdulillah berhasil, sekarang aku sudah baik-baik saja.

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa haha. Aku ragu untuk menjelaskan nya. Harus kah?

Kumulai dari mana ya?

Dari awal aku sudah mencoba sekeras mungkin untuk memahami keadaan nya. Dia yang sibuk dan tak punya waktu. Dia yang mencoba fokus untuk hal-hal baik yang diinginkannya. Tentu tak mudah bagi seorang perempuan untuk tidak menerima kabar dari orang yang dia sayang? Iyakan? Tapi alhamdulillah aku mampu. Aku mampu memahami itu. Aku mampu bertahan untuk tidak mengganggu fokusnya.

Hingga suatu hari dia berkata bahwa dia tidak ingin lagi seperti ini, dia tidak ingin fokus nya terbagi, dia tidak suka bila harus terus-terusan bertukar pesan, dan banyak alasan lain.

Mengerti tidak rasanya saat kamu sangat merasa bersalah tapi bingung salahmu dimana?

Aku terus menyalahkan diriku sendiri atas apa yang terjadi, tapi sumpah demi dunia aku tak tahu letak kesalahanku.

Sekeras apapun aku berusaha memahami, itu tak akan pernah cukup dimata nya. itu kesimpulan yang saat ini kudapat.

Nah, untuk baik-baik saja seperti sekarang tidak mudah. Aku melewati titik paling mematikan dihidupku. Hari itu, aku benar-benar rapuh. Bahkan aku tak mengenali diriku sendiri. Bagaimana bisa aku sehancur ini? Menatap ke cermin dan melihat mata itu. Mata sembab dan basah, rambut acak-acakan, dan banyak darah kering bekas mimisan yang kubiarkan begitu saja. Lihat bagaimana berantakan nya aku hanya karna ini.

Aku terus bertanya kenapa semesta bisa sejahat ini? Mempertemukan, mengambil pergi, mengembalikan, kemudian diambil pergi lagi. Aku merasa seperti dipermainkan oleh semesta.

Aku juga benar-benar mengira ini kesalahanku. Sampai aku tak berani cerita ke seorang pun bahkan teman dekatku. Mungkin itu salah satu penyebab aku sekacau ini. Karna aku memendamnya sendiri.

Hingga akhirnya aku memberanikan bercerita ke mama. Satu-satunya manusia yang tak mungkin menyalahkan ku.

Satu kalimat yang menyadarkan ku dari mama adalah

"Ada saat dimana kamu tidak bisa memaksakan sesuatu untuk bertahan. Sekeras apapun kamu mencoba, sesering apapun kamu berharap. Pasti ada sesuatu yang memang ditakdirkan untuk pergi. Begitu juga, sebaik apapun kamu akan ada manusia yang berlaku jahat padamu. Yang harus kamu lakukan adalah menerima itu semuanya. Menyadari bahwa akan selalu ada masa dan orang seperti itu."

Aku benar-benar tersadar bahwa ini bukan salah ku. Semua yang terjadi sepenuhnya bukan salah ku. Bukan salah dia juga. Tapi memang sudah ditakdirkan seperti itu.

Aku mulai bisa menerima segala yang terjadi. Dan berhenti menyalahkan diri sendiri. Meski ada sedikit dari egoku yang berharap dia kembali.

Untuk rencana kedepan nya, aku belum tau pasti. Sempat terfikir oleh ku untuk menghapus cerita ini. Sebab untuk menulisnya aku merasa sudah tidak pantas, begitu pun dengan tokoh didalam cerita ini. Mungkin tak akan ada cerita lagi setelah bab ini selesai.

Tapi itu masih terlintas di fikiranku. Aku belum tau apa keputusan nya nanti. Aku hanya tak ingin dia, dan kalian mengira aku terus menulis cerita ini dengan maksud agar dia kembali padaku lagi. Tidak. Demi apapun tidak. Benar bila aku berharap itu terjadi, tapi aku mengetik setiap bab di cerita ini tulus dari hatiku tidak ada niat apapun selain memberi tahu dunia tentang ceritaku dengan nya.

Juga untuk kamu yang aku sebut "dia" dari tadi.

Maaf bila menurutmu aku mengganggu fokusmu, aku membuat fikiran mu terbagi, atau apapun itu. Demi Tuhan aku tidak pernah ada maksud seperti itu. Setelah ini, mudah-mudahan kamu bisa lebih fokus untuk cita-citamu. Aku tak akan pernah berhenti mendoakan kesuksesan untukmu. Ah iya, aku masih menunggu jawaban darimu tapi aku sudah tidak berharap apa-apa dari jawaban itu.

Sudah itu saja,
Aku senang aku bisa menjadi sekuat ini untuk mengetik bab ini. Meski sebenarnya ada beberapa tetes air mata. Haha. Tapi aku sudah lebih baik daripada hari sebelumnya.

Harapanku,
Semoga aku, dia, dan kalian akan selalu bahagia didalam kehidupan yang fana ini.

Aamiin.






1 Week With You. [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang