Chanyeol menyantap makan malamnya
bersama dengan Wendy di restoran
mewah tempat mereka biasa meng-
habiskan waktu bersama tanpa selera.
Tapi sungguh, kali ini suasana hatinya
terasa berbeda dari biasanya, mungkin
karena bukan hanya Wendy yang
sekarang di hatinya. Namun, Eunji juga
sudah mulai menempatkan posisinya.
Ah.. seharusnya Chanyeol tidak mencintai Eunji. Tidak disaat masih ada seseorang lain yang dia cintai. Tapi cinta tidak bisa diprediksikan kedatangannya,
bukan? Tidak bisa dipaksa juga
dicegah. Cinta tumbuh dengan sendiri
Hadir begitu saja pada hati siapa pun.
Tidak memandang dengan siapa kita
akan mencintai. Jika hati sudah terpaut
apa yang bisa kita lakukan. Cinta itu
aneh semakin ingin dibunuh cinta
akan tumbuh semakin besar. Berakar
dengan sangat kuat hingga mendarah
daging dan susah untuk dimusnahkan.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?
Sepertinya kau tidak napsu makan,"
tanya Wendy membuyarkan lamunan
Chanyeol.
Chanyeol menatap Wendy lalu ke makanannya yang hanya dia orak-arik tanpa menyantapnya sedikit pun. Chanyeol tersenyum simpul dan mulai menyendok makanannya.
"Tidak ada apa-apa," Jawabnya
tenang. Dia tidak ingin membuat Wendy
menyadari pikiran Chanyeol yang tidak
ikut serta dengan raganya.
"Berapa lama kau akan disini?"
Wendy mengernyitkan keningnya
mendengar pertanyaan Chanyeol,
"Mungkin agak lama. Karena tour
Eropaku sukses jadi aku bisa mendapat
libur untuk waktu yang cukup
lama." Wendy menjeda ucapannya dan
mengamati ekspresi Chanyeol yang datar,
"Kau terlihat tidak senang, Chan?"
Chanyeol kembali mengukir senyum
palsunya, "Tentu saja aku senang.
Aku senang kau akan lama disini
bersamaku," ucap Chanyeol. Lalu dirai-
hnya jemari Wendy dan mengecupnya
lembut.
Wendy tampak sangat senang mendapat
perlakuan manis dari Chanyeol.
Kekasihnya itu memang sangat pandai
menebarkan pesonanya. Dia selalu
bisa membuat Wendy melayang. Merasa
euforia yang luar biasa. Sementara Chanyeol, jauh di dalam hatinya menyimpan kebimbangan yang luar biasa.
***
Chanyeol masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Dia melirik arlojinya sudah pukul satu malam. Dia melangkah masuk.
Berharap Eunji sudah tidur dan tidak
menunggunya. Namun, dia harus mem-
buang jauh-jauh pikirannya saat meli-
hat Eunji tertidur di sofa ruang tengah
tempat dia biasa menunggu Chanyeol.
Chanyeol menghela napas berat dan
mendekati Eunji yang meringkuk. Dia
mengamati wajah Eunji yang tampak
lelah. Chanyeol berjongkok menatap
wajah cantik Eunji lebih dekat.
Disingkirkannya anak rambut yang
menutupi wajah Eunji.
"Maafkan aku, Eunji," Ucapnya penuh
sesal.
Ada rasa bersalah yang luar biasa
dalam hatinya. Dia mengusap wajahnya
gusar. Bagaimana dia bisa membuat
Eunji menunggunya sampai ketiduran
sedangkan dia asyik bersama Wendy.
Chanyeol merutuki kebodohannya.
Dia tidak boleh seperti ini. Dia harus
bisa memantapkan hatinya dengan
siapa dia akan berlabuh. Dia tidak
boleh terus-menerus menyakiti dua
perempuan yang sama-sama memiliki
cintanya.
Eunji membuka matanya saat indra
penciumannya mencium aroma
maskulin yang menusuk hidungnya.
Dia menatap Chanyeol yang tampak gusar.
"Kau baru pulang?" tanya Eunji lirih.
Chanyeol sedikit terkejut saat mendengar
suara Eunji. Dia tidak sadar jika Eunji
sudah bangun. Dia bergumam sambil
menganggukan kepalanya, "Kenapa
kau menungguku? Seharusnya kau
tidur di kamar."
"Aku hanya mencemaskanmu. Kau
sudah makan?"
Chanyeol terdiam mendengar jawaban
Eunji. Cemas? Eunji mencemaskannya
yang sedang sibuk berpacaran dengan
kekasihnya. Suami macam apa dia.
Chanyeol merasa sesak di hatinya, luar
biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because Our Baby
RomanceOriginal from @niuaster97 Park Chanyeol X Jung Eunji 'Because Our Baby'
