Sehun bangun sangat pagi hari ini, pria itu bahkan sudah rapi dengan stelan jas formalnya, ia keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuruni tangga, bibi Kim yang saat itu kebetulan melintas di area tangga pun terkejut melihat tuannya yang sudah rapi di pagi buta ini.
"Tuan Oh, ini masih sangat pagi, kenapa anda sudah sangat rapi? Kami bahkan belum selesai membuat sarapan untuk anda," ucap bibi Kim saat Sehun sudah sampai bawah.
"Tak apa bi, saya ada urusan pagi ini, jadi nanti saya akan sarapan di luar," ujar Sehun diiringi senyum tipis.
Setelah mengatakan itu Sehun langsung melangkah keluar rumah, bibi Kim hanya menatap bingung, tidak biasanya Sehun mempunyai urusan sepagi ini, bibi Kim mengedikkan bahunya, entahlah ia tak mau ikut campur urusan tuannya.
.
.
.
Naya mengerjapkan matanya, gadis itu menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal, ia melirik ke samping untuk melihat jam, dan ternyata ini masih sangat pagi, bahkan alarmnya belum berbunyi.
Naya mendudukkan diri, mencari keberadaan ponselnya, itu sudah menjadi kebiasaan, buka mata langsung mencari ponsel, padahal tidak pernah ada notif yang masuk, menyedihkan.
Bosan dengan ponselnya gadis itupun beranjak untuk mandi, memang masi terlalu pagi, tapi itu tidak jadi masalah, dengan begitu ia tidak harus terburu-buru.
Butuh waktu 20 menit untuk Naya bersiap-siap, kini gadis itu telah siap dan segera beranjak ke dapur, namun saat baru keluar kamar ia mendengar suara pintu rumahnya diketok.
Toktoktok...
Gadis itu menoleh kearah pintu, "siapa sih pagi-pagi begini sudah bertamu," omelnya
Toktoktok...
"Iya sebentar," ucapnya berteriak agar seseorang yang berada di luar itu mendengarnya, ia berdecak kemudian berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Siap-" ucapan Naya terhenti saat melihat siapa yang datang, "sehun! Apa yang kau lakukan di rumahku sepagi ini?" Tanyanya, dan pria yang berdiri didepan pintu hanya diam.
"Hh, masuklah," Naya menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Sehun masuk.
Sehun hanya memandangi isi dalam rumah Naya, pria itu tampak berjalan-jalan untuk melihat lebih jauh lagi, ia bahkan menyentuh barang-barang yang ada di atas meja.
Naya yang melihat itupun mengedikkan bahunya tidak peduli, lantas gadis itu beranjak ke dapur membuat sarapan untuk dirinya dan juga pria yang saat ini tengah berkeliling didalam rumahnya, entah apa yang dilihat pria itu.
.
.
.
Sarapan sudah siap, hari ini Naya menjadikan telur dadar sebagai menu sarapannya.
Gadis itu meninggalkan meja makannya, ia mencari keberadaan Oh Sehun, ia coba mencari di ruang tv tapi tidak menemukan sosok pria itu, lantas ia beranjak ke ruang tamu, dan yap, pria itu berada di sana sedang tidur, hmm.
Naya berjalan mendekati pria yang sedang terlelap di kursi, berniat untuk membangunkannya, gadis itu berjongkok di depan kursi untuk menyamakan posisi, ia tertegun saat matanya menatap wajah damai Oh Sehun yang sedang terlelap itu, dalam hati ia mengakui bahwa Oh Sehun memang tampan, ia menggelengkan kepalanya, kembali fokus dengan niat awalnya, yaitu membangunkan Oh Sehun.
"Yak! Oh Sehun," panggilnya.
Tidak ada pergerakan dari pria itu, tampaknya pria itu sangat nyenyak, hingga suara Naya tidak membuat tidurnya terusik.
"Oh Sehun!" Panggilnya sekali lagi, dengan sedikit mengguncang tubuh pria itu.
Sehun yang merasakan tubuhnya terguncang lantas membuka matanya, pria itu terlonjak kaget saat mendapati seorang gadis berada tepat di hadapannya, bahkan jarak ia dan gadis itu bisa terbilang dekat.
Naya yang melihat Sehun tampak kaget pun lantas memundurkan badan, ia merasa bingung dengan ekspresi Sehun saat ini, sebab raut wajahnya seperti orang yang habis melihat hantu.
"Hei Oh Sehun, kau kenapa?" Tanyanya.
"Apa yang kau lakukan?" Sehun malah balik bertanya.
Naya pun mengernyit bingung, "apa-apaan pria ini," ucapnya dalam hati.
"Um, maksudku kenapa tiba-tiba kau ada di hadapanku?" Tanya Sehun lagi.
"Membangunkanmu," jawab Naya seadanya, ya karena memang itu faktanya, "ayo sarapan, aku sudah menyiapkan untukmu," ajaknya, lantas ia beranjak menuju dapur.
Sehun pun lantas berdiri dari kursi itu, pria itu merapikan bajunya yang terlihat sedikit kusut akibat tertidur tadi, ia segera menyusul Naya yang memang sudah lebih dulu pergi ke dapur.
Saat tiba di dapur, Sehun langsung mendudukkan dirinya di meja makan.
"Kau mau minum apa? Teh atau kopi?" Tanya Naya saat melihat Sehun sudah duduk di meja makan.
"Kopi," jawab Sehun singkat.
Naya yang mendengar jawaban seperti itu mendengus kesal, lalu ia beralih membuat kopi.
Gadis itu meletakkan secangkir kopi di hadapan Sehun, ia pun ikut mendudukkan diri di hadapan pria itu, dan mulai memakan sarapannya.
Naya melirik Sehun yang masih tampak diam tidak menyentuh sedikit pun makanan yang berada di hadapannya.
"Kenapa tidak dimakan? Tidak suka?" Tanya Naya.
Sehun tidak menjawab, pria itu hanya diam sambil menatap gadis di hadapannya itu, lalu kembali menunduk, dan mulai memakan makanannya.
Naya yang melihat itupun hanya menggeleng kepalanya, ia pun melanjutkan sarapannya.
.
.
.
Saat ini mereka sedang berada didalam mobil, Sehun mengantarkan Naya ke toko bunganya, tanpa tolakan dari sang gadis.
Sehun mengehentikan mobilnya saat sudah sampai di tempat tujuan, pria itu melirik gadis yang saat itu tengah sibuk melepas seat belt.
"Terimakasih tumpangannya," ucap gadis itu saat sudah melepas seat belt nya, dan mulai membuka pintu mobil.
Sebelum Naya benar-benar keluar dari mobil, Sehun langsung menyodorkan ponselnya, Naya pun kembali menarik pintu itu, dan tidak jadi keluar, gadis itu menatap Sehun dengan tanda tanya.
"Catat nomormu," ujarnya.
Naya ber-oh ria, gadis itu baru mengerti, lantas mengambil ponsel itu untuk mencatat nomornya, dan mengembalikan kepada sang pemilik.
Sehun menerima kembali ponselnya, ia melihat layar ponselnya yang saat ini menampilkan nomor dari gadis itu, langsung saja pria itu menekankan tombol panggilan.
📞Kringgg
Ponsel Naya berdering, gadis itu langsung mengambil ponselnya, dan tampak sebuah panggilan masuk dari nomor tidak di kenal.
"Itu nomorku," ujar Sehun.
"O-oh oke, kalau begitu aku keluar sekarang," ujar Naya, segera keluar dari mobil itu.
Setelah Naya keluar, langsung saja Sehun menancapkan mobilnya.
.
.
.
Tidak ada hal berarti hari ini, Sehun sibuk dengan urusan kantornya, dan Naya sibuk dengan toko bunganya, namun hari ini Naya cukup kewalahan, sebab toko bunganya cukup ramai, bahkan lebih ramai dari kemarin.
Naya bisa mengistirahatkan tubuhnya saat hari sudah mulai sore, gadis itu pun mengambil ponselnya yang sedari tadi tidak tersentuh, ia melihat ada sebuah pesan masuk.
Oh Sehun...
Nanti aku akan menjemputmu.
15.20
Ternyata pesan dari Sehun, Naya memutuskan tidak menjawab pesan itu, tubuhnya terlalu lelah hanya untuk mengetik balasan.
.
.
.
Naya sudah tiba di rumahnya sejak 30 menit yang lalu, bahkan gadis itu sudah mandi.
Tadi ia berniat akan membuat makan malam saat selesai mandi, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi, gadis itu terlalu malas untuk keluar dari kamarnya, jadi ia memutuskan tidur saja, dan untuk makan? Ia tunda sampai besok pagi.
TBC....
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Boyfriend-OSH [Completed]
Romance"jadi kekasihku"-ucap pria itu dengan muka datarnya. "Kau gila?"-ucap sang gadis menatap pria di depan nya itu tidak percaya. Oh Sehun, pria dingin yang tak tersentuh menyatakan pada gadis yang untuk pertama kalinya ia temui sebagai kekasihnya. . . ...
![My Cold Boyfriend-OSH [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/209117102-64-k165220.jpg)