Chapter 7
Hai!!! Ketemu lagi sama athour gaje ini hehehe. Gak banyak sih yang mau dikata, yang penting kalian suka dan baca sampai habis, oiya sekalian di-vote dan dikomen kritik dan sarannya hehehe.
Aku ada satu hal yang harus kalian tahu, kalau aku ini gak suka baca novel kebanyakan non fiksi yang bahasanya belibet jadi kebawa kalau nulis begini, jadi maaf yah. Tolong kalau ada salah dalam penulisan bisa dikasih di kolom komentar, makasih semua!!
HAVE A NICE TIME TO READ!!!
Boruto bangun ketika suara alarm berbunyi bising di dalam kamar Sarada. Matanya mengerjap sembari memaksa tubuhnya untuk bangun dari posisi tidurnya dan segera turun dari ranjang tingkat duanya dengan tangga di sisi ranjang.
Beruntung Sarada punya dua tinkat ranjang walau ia tidur sendiri, jadi Boruto bisa tidur di tingkat atas dan Sarada di bawah.
"Kau tadi malam dengar tidak?" pertanyaan Sarada yang tiba-tiba menyapa indra pendengaran Boruto sontak membuat bocah pirang itu berjengit dan segera berbalik menemukan Sarada yang sudah duduk bersila di atas kasurnya.
Ia diam sesaat berpikir dan akhirnya mengangguk, "Nampaknya mereka menghabiskan malam yang panjang, hm?" Boruto menyeringai senang menangapi pertanyaan Sarada.
Mata hitam yang melihat seringai gembira di wajah Boruto menyipit saat ia menarik dua sudut bibirnya membentuk kurva.
"Bagaimana kalau kita ganggu mereka?" nada jahil terdengar jelas kala Sarada bertanya pada Boruto.
Satu dari dua alis coklat Boruto naik dengan pandangan menggoda, dia tahu persis apa yang dipirkan Sarada.
"Karena mungkin kita akan menjadi saudara, jadi aku terima" jawab Boruto dan terkekeh, begitupun dengan Sarada yang akhirnya menarik Boruto ke kamar Sasuke—tempat Naruto dan Sasuke melakukan hal yang tidak-tidak.
Namun sebelum ke kamar pasangan NaruSasu tentu mereka berdua lebih dulu bersiap seperti melakukan rutinitas pagi masing-masing dan menyiapkan sarapan untuk mereka makan nantinya. Otak mereka tidak semuda umur mereka, kau tahu bukan?
000
Sasuke menggeliat dalam posisi tengkurap ketika merasakan wajahnya disirami cahaya mentahari yang mulai meninggi menyelinap masuk ke dalam kamarnya melalui celah-celah tirai yang tak tertutup sempurna.
Kakinya yang telanjang dan tak tertutup selimut ikut bergoyang kala kaki yang lebih besar menggeser dan mengadu kulit mereka. Sasuke tersenyum.
Kepalanya yang tadi menghadap ke arah jendela sekaran berbalik ke arah sebaliknya, tepat di depannya berbaring sosok pirang yang tadi malam menjadi teman tidurnya. Senyumnya makin melebar bahkan sampai matanya menyipit mengingat momen panas mereka dan kemudian ia meringis kala merasa kalau bagian bokong sampai pinggangnya terasa nyeri.
"Hai" suara serak nan basah menyeruak masuk ke dalam lorong pendengaran Sasuke dan disusul dengan matanya yang mulai melihat netra biru terang yang muncul dari dua kelopak yang sedari tadi menutupinya. Entah kenapa ia semakin betah memandangi batu safir di depannya itu.
"Hai" jawab Sasuke singkat seakan lebih memilih berkomunikasi dengan tatapan. Ia kemudian berusaha membalik posisi tubuhnya dan kemudian bangkit dari tidurnya dengan sedikit ringisan karena merasa pinggangnya dicabik.
Naruto melempar tatapan khawatir pada Sasuke dan si raven sadar akan hal itu.
"Aku tak apa, jangan khawatir" gumam Sasuke menyenderkan tubuh telanjangnya di punggung ranjang kemudian menarik selimut putihnya sampai sebatas dada.

KAMU SEDANG MEMBACA
THE DEVIL WEARS ARMANI
RomanceBercerita tentang Naruto yang bekerja untuk Sasuke Uchiha yang merupakan legenda hidup dalam industri fashion.