–enjoy–
Seokjin mati-matian menahan tangis. Kerumunan werewolf seolah menelan nya. Ruang besar dengan pilar-pilar yang menyentuh langit cukup membantu Seokjin berlindung di balik tatapan mengerikan. Ia berdoa agar ada seorang maid lain menarik nya untuk pergi ke dapur. Tapi nasib Seokjin memang terlahir sial, tidak ada satupun suara yang menyebut nama nya.
Bisikan-bisikan yang tadi Seokjin dengar perlahan mengeras, menunjukan dengan nyata untuk siapa ejekan itu diberi. Kedua tungkai terpaku mati di atas marmer putih bersih sementara logika meneriakan kata pergi berulang kali. Tak lama sebuah suara di balik microphone mengambil alih.
"Selamat malam hadirin sekalian,,,"
Seokjin sungguh tahu suara sang Luna. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi Seokjin secara naluriah merasakan suatu hal yang menakutkan. Dada nya sesak bahkan sebelum Luna melanjutkan kata-kata nya.
",,,hari ini adalah hari yang bahagia untuk kami terutama Namjoon. Tapi ada satu hal yang lebih membahagiakan, malam ini Namjoon akan di nobatkan sebagai Alpha baru di Pack dan juga kami sudah memiliki calon Luna untuk Pack,,,"
Dentum dada semakin bertambah kencang. Senyum kecil tumbuh di sudut bibir mungil nya, mungkinkah Seokjin mulai meraih impian nya. Bersanding dengan Namjoon sebagai Alpha dan ia sebagai Luna. Seokjin perlahan memberanikan diri, keluar dari balik pilar yang tadi bekerja keras menyembunyikan nya.
Tolong kabulkan harapan Seokjin untuk malam ini. Harapan nya yang–
",,,perkenalkan calon Luna Pack, Heo Jangmi"
Seokjin menggeleng tak terima. Dia ingin menyuarakan protes kalau saja Luna tidak melirik nya dan tersenyum sinis.
"Dan kami juga punya pengumuman penting, kalau Namjoon sudah menolak Seokjin sebagai Mate nya"
Keterkejutan bukan hanya milik Seokjin. Namun yang paling tak bisa menerima adalah diri nya. Seokjin nekat menerobos barisan untuk sampai di paling depan, dia ingin meminta penjelasan atas semua ini. Seokjin tahu Namjoon pernah berjanji untuk tidak mereject nya, ia ingat dengan jelas hari itu. Saat musim gugur di pertengahan Juli, saat daun-daun coklat jatuh menerpa rambut hitam Seokjin, bahkan wangi kayu kering masih mampu Seokjin rasa.
Setumpuk kerlingan tanya di layangkan untuk Seokjin. Sebagian tidak perduli dan spontan mengumpati atas kelakuan Seokjin yang menurut mereka tidak tahu malu. Nafas nya memburu dengan wajah merah padam. Ia menatap Luna dibalik kaca-kaca mata merah ruby nya.
"Luna, k–kau t–idak bisa melakukan ini, N–namjoon sudah berjanji u–untuk tidak merejectku" ujung kalimat Seokjin terdengar pilu, mengecil layak nya seorang bocah yang baru saja tertangkap mencuri apel.
Luna tergelak kemudian, terdengar anggun tanpa beban sampai membuat Seokjin ingin menangis dibawah kaki nya. "Berjanji kau bilang?–" Luna menggeleng keras, "–Namjoon-kami tidak pernah berjanji, kau yang memohon padanya dengan syarat Namjoon tidak perlu menyatakan kau sebagai mate, benarkan??"
Lantas Seokjin terdiam seribu bahasa. Iya, dia jelas ingat dirinya lah yang memohon kepada Namjoon kala itu. Bukan Namjoon yang menjanjikan. Tungkai kaki rasanya mendadak seperti jelly, dari balik poni nya yang menutupi dahi, Seokjin melirik Namjoon.
Sesak melanda ketika di wajah tegas sang Alpha tidak ada kepedulian berarti. Melirik ke sekeliling penuh panghakiman dan Seokjin tak tahan untuk tidak terisak. Tidak adakah yang ingin membela nya? Bisakah Seokjin setidaknya dapat satu saja yang menyalahkan penolakan untuk mate?.
Kosong dan nihil jawabannya. Semuanya sama seperti bagaimana mereka membenci Seokjin. Dia bergeming kecil, siapa melarikan diri dari dunia. Seokjin ingin gugur saja seperti daun kering yang ketika itu jatuh di atas kepala nya.
Lalu Seokjin bertemu Chosun karena tak sengaja tertabrak saat ia mencoba menyelinap di antara kerumunan tamu. Kerlingan dengki masih terasa sama, namun satu hal yang Seokjin tangkap jelas.
"Dia tidak pernah mereject mu"
---------------MOONBOW--------------
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trilogy : MOONBOW
FanfictionKim Seokjin nama nya, pria manis dengan pipi gembul yang berona merah seperti musim semi. Dia mensyukuri hidup ketika itu hanya dengan bersama Namjoon, mate nya yang super Alpha. Menjadi berbeda memang menyakitkan. Penolakan mendera dari segala ara...
