❨✨❩ 손동표 & 이은상
; Dalam Esah ada Harap
Sejatinya, ia bukan anak normal yang
selalu memikirkan dosa-dosanya. Ia
sama sekali tidak normal karena
berani m e n e n t a n g anggapan.
_____________________________________...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❝ Kadang tempat umum bukan tempat untuk membagikan r a h a s i a. karena setan bisa saja membagikanya hingga menjadi rahasia umum ❞
_________________________________
Rasa pening menyambut Eunsang di pagi buta, tepatnya pukul 04.00 pagi hari. Suara adzan berkumandang dari speakermasjid yang letaknya tidak jauh dari bangunan tempatnya meringkuk kediginan saat hujan datang.
Eunsang mengintip sekeliling dengan penasaran. Jujur ia masih terheran ketika dengan ajaib berhasil bangun awal padahal semalam tidur lebih telat. Detik jam peneman tidurnya terasa begitu cepat berlalu, dirasa baru semenit memejamkan mata tahu-tahu pagi tiba.
Eunsang kecewa ia tak berhasil menikmati tidurnya padahal semalam sudah ditemani.
Ditemani? Iya oleh kakaknya yang sudah menghilang dari kamar entah sejak kapan, jelas pergi diam-diam tengah malam tadi, Eunsang sedikit kecewa karena itu. Dikiranya akan ditemani dari terpejamnya mata hingga membuka mata kembali, eh malah ditinggal.
Ekspetasi memang menghancurkan ya.
"Ah.. Kenapa mendadak gak bisa tidur sih," ucap Eunsang menatap sedih jam dinding sambil menghempaskan diri diatas ranjang.
Ia terlalu buta apa bagaimana, jelas ini pertanda bukan? Ia harus beribadah.
Benar.
Eunsang pun bangkit dan masuk kedalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian mulai melakukan sembayang secara khusyuk, berharap dosanya berkurang lagi sebelum nanti siang akan ditambahnya.
— ✦ d e s a h ✦ —
"Semangat sekali," komentar Eunsang ketika baru saja turun dari lantai atas.
Sekarang sudah pukul setengah enam, ia sudah siap dengan seragam hitam-putih, ketika turun pandangan pertamanya mengarah pada seorang pemuda mungil yang sama-sama sudah siap dengan pakaian kerja.
Dongpyo berbalik menatap adiknya, seperti biasa berwajah datar, yang berulang kali menguap.
"Aku sangat bersemangat, lihat! tampan kan?" ujar Dongpyo bersemangat.
Eunsang memutar bola matanya, "Jika maksudmu cantik, aku akan setuju padamu, Kak Randi."
"Hei, aku laki-laki!" protes Dongpyo, mencubit lengan adiknya.