Jika ada kesalahan silahkan kasih kritik dan saran, ya.
Selamat membaca!❤
♤
Kring.
Bel tanda masuk pelajaran ke-5 berbunyi. Semua murid XI Mipa 1 keluar kelas menuju loker untuk mengambil pakaian olahraga, karena sekarang waktunya KBM pelajaran olahraga.
"Kok tadi pas istirahat nggak jadi orang tolol lagi, Ra?" Tanya Tari saat tengah mengambil pakaiannya di dalam loker yang bersebelahan dengan loker Ora.
Sedangkan Ora yang kini menutup pintu lokernya mengehembuskan napas panjang. "Gue gak pernah jadi orang tolol, kok."
Tari berdecih, "Terus itu namanya apa yang kemarin serius mau ngembaliin jaket, tapi gak tahu punya siapa?"
Ora mengedikan bahu.
"Sekarang jaketnya mana Ra?" Mitha ikut bertanya setelah menutup kembali lokernya yang ada di samping kanan Ora.
Ora menyandarkan tubuhnya di loker. "Udah dibalikin."
"Punya siapa emang?"
"Dirga."
Tari dan Mitha terkejut.
Mitha berdehem menetralkan raut terkejutnya, lalu Tari menatap Ora dengan pandangan menyelidik. "Lo gak bohong?"
"Apa untungnya?"
Tari mengembuskan napas panjang, "oke, gue percaya."
"Gue gak minta lo buat percaya, Tar."
Tari berdecak.
"Ketemu pas kapan?" tanya Mitha.
Ora sedikit mengernyit, lalu menggeleng. "Pas pulang sekolah. Dia juga ngajak pulang bareng."
Tari kembali dibuat terkejut, jiwa penasarannya meronta. "Terus lo terima ajakannya?"
Ora menggeleng. "Males."
♤
Panas matahari yang begitu terik tak menyurutkan semangat kelas XI Mipa 1 untuk meneriaki nama Ora, saat Ora tengah bermain basket di lapangan.
Setelah pengambilan nilai praktik permainan bola besar tadi, Pak Abud-guru olahraga kelas 11- membagi kelompok untuk bermain basket. Dan Ora adalah satu-satunya pemain perempuan yang terpilih.
Tak perlu heran sebenarnya jika melihat Ora bermain basket, karena ia memang cukup menguasai, hanya saja sekarang ia adalah pemain perempuan satu-satunya, hingga membuat setiap siswa yang lewat berhenti sejenak untuk menonton.
Jeritan histeris dari semua penonton terdengar saat di menit ke-10 Ora kembali mencetak angka untuk ke-3 kalinya. Ketiganya Three point. Permainan terus berlanjut sesuai waktu yang telah ditentukan.
Di sisi lapangan, terlihat Tari dan Mitha yang tak bisa menahan senyum bahagia melihat permainan Ora.
Lalu keduanya menoleh ke samping saat merasa terik matahari tak lagi menerpa wajahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
AURORA
Novela Juvenil"Aku yang lengah dan kau yang tak mau mengalah." ♤ Melody Aurora. Tidak ada yang tak mengenal Ora. Ora dengan penampilannya yang jarang rapih. Ora dengan wajah juteknya yang sangat menyebalkan. Ora dengan kemalasan yang mendarah daging. Ora dengan u...