13. Tigabelas

72 5 24
                                    

Perlahan-lahan perasaan akan muncul diantara keduanya, tapi mungkin akan ada seseorang yang akan menghalangi kisah mereka

🥀🥀🥀

Hati-hati mungkin ada typo😹

Delta mulai mengedarkan pandangannya kebeberapa karya abstrak yang menghiasi setiap titik dinding yang berada disitu. Dia mulai takjub dengan sanggar seni ini. Mungkin ia akan sering-sering main kesini untuk sekedar menenangkan pikiran.

Vanessa disibukkan dengan kerjaannya, dia menjadi panitia lomba di sanggar seni ini. Lelah, mungkin itu yang menggambarkan keadaan Vanessa sekarang ini.

"Woi!" Teriak Vanya di telinga Vanessa

"Buset lo Nya! Telinga gue sampai panas dibuatnya"

"Hehe, maapkan"

"Lagian lo ngapain sih?"

"Mata lo bisa lihat kan?!"

"Yaelah, santai aja nyolot teros dari tadi"

"Diem lo!"

Tiba-tiba ada seorang anak kecil mendekati Vanessa.

"Hai kak!"

"Hai, ada apa?" Vanessa mulai menyejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu

"Ini lukisan punyaku kok nggak bisa bagus seperti lukisan kakak sih" rengek anak kecil itu

Vanessa pun tersenyum mendengar perkataan anak kecil tersebut.

"Ini baru awal dek, kalau mau lukisannya cantik, kamu harus pandai berlatih"

"Oh begitu?"

"Iya sayang, oh iya nama adek siapa?"

"Lusi, kak"

"Namanya cantik"

"Kakak juga cantik, yaudah kak, Lusi pulang dulu"

"Oke sayang, hati-hati"

Anak kecil tersebut berjalan menjauh dari tempat Vanessa berada, entahlah dia pulang sendiri atau dijemput orang tuanya tidak ada yang tahu.
Vanessa pun mulai masuk ke dalam sanggar tapi dia urungkan karena melihat Lusi hendak menyeberang jalan, sedangkan disana ada sebuah mobil truk yang akan melintas dengan kecepatan penuh. Vanessa pun berlari sekuat tenaga menuju tempat dimana Lusi berada.

"Lusi awas!" Teriak Vanessa
Tetapi Lusi tidak mendengar suara seorang Vanessa, seakan-akan telinga anak tersebut sudah terkunci.

Vanessa mulai panik tak karuan, ia pun menambah kecepatan larinya. Di satu sisi seorang cowok terheran-heran karna apa? Dia melihat Vanessa berlari menuju ke jalan raya. Vanessa kembali teriak,"Lusi! Awas!" Vanessa pun berteriak sekuat tenaga, Lusi pun tak mendengar teriakan tersebut.

"Nes, Lo harus cepat, nyawa seseorang ditangan lo" Vanessa menyemangati batinnya untuk tidak menyerah

Lusi mulai melangkahkan kakinya menuju tengah jalan, sedangkan truk bermuatan pasir sudah berada 5 meter darinya. Sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi, Vanessa sudah mendorong Lusi ke tepi jalan, sedangkan tubuh Vanessa juga merasa terdorong oleh seseorang tapi siapa?

"Aduhh!" Rintih Lusi mengasuh kesakitan, kakinya tergores aspal

"Dek, kamu nggak papa?"

"Lo nggak papa?" Tanya seseorang di balik punggung Vanessa. Vanessa tercengang, ternyata yang mendorong tubuhnya adalah Delta

DilupakanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang