Jangan dibaca kalau belum 17 tahun ke atas. Kenapa? Karena aku takut kalian stress.
Aku gak ikutan kalau beneran, karena sudah diingatkan.
Untuk doa yang tidak pernah selesai.
Amin.
———————"Besok kita ke kantor agensinya Jala Prasetya. Lo tau kan? Load load itu?" Geo—manager Dina Enam—menghembuskan asap rokoknya sembarang.
"Kerjaan baru, Ge?" Surya menjentikkan abu rokoknya ke asbak yang terletak di atas meja depan mereka.
"Gue sih kemarin di-whatsapp sama PM—Project Manager—nya. Mau meeting soal iklan gitu."
"Demi apa? Kita bakalan 'agak' kaya lagi dong?" Dewa menggulung lengan bajunya lalu mengibaskan rambutnya yang sudah mengganggu penglihatannya.
"Hahaha, kita juga udah kaya kali, Dew. Kayak monyet." Brian menepuk pundak Dewa dan mengambil satu batang rokok di meja. Ia menyalakannya dan mulai menghisap-menghebus asal. "Eh, jam berapa nih? Gue cabut dulu ya?"
"Bucin bucinnn" Julian mendangak dari layar hpnya, melihat Brian bersiap merapihkan barang-barangnya.
"Siapin kondom dulu lah bro, Indomaret belum tutup jam segini." Keyboardist Dina Enam itu mengingatkan, sewaktu-waktu Brian beneran butuh.
"Mulut lo, njing. Hahaha." Cowok itu menggantungkan tas backpacknya di pundak kanan. "Udah ah, Ayana ngerengek kalau gue telat."
"Duh, udah gak kuat sih kayaknya?"
"Jangan lupa ya, Bri. Besok jam 7 sharp di kantor Load. Gue shareloc besok di grup." Geo mengingatkan Brian untuk gak telat di meeting calon bintang iklannya yang pertama.
"Bangunin gue ya, telfon. Takut beneran ngablu karena mabukin Ayana."
"ANJINGGG!!" Satu studio melemparinya dengan kulit kuaci yang berserakan di atas meja.
Yang dilempari kabur sambil memeletkan lidahnya. Selepasnya keluar dari studio, Ia mengeluarkan hpnya dan mengetik pesan ke manusia yang menyuruhnya untuk cepat menyudahi ngumpul-ngumpul bersama teman bandnya.
Brian: otw
Brian: nitip sesuatu?Ayana: kayaknya lo udah tau lo harus bawa apa kalau ke sini?
Brian: pil?
Ayana: bukan.
Ayana: punya kamu.Maksud Ayana adalah alat yang gak asing bagi hubungan 'dewasa' mereka. Mereka gantian siapa yang akan memakai pengaman, menurut kesepakatan.
Kalau Brian lagi 'mau' berarti dia harus mengalah. Membeli alat kontrasepsi untuknya agar tidak tiba-tiba dapat kabar di siang bolong kalau Ayana hamil.
Dan sebaliknya. Bedanya, Ayana harus menerima hubungannya dengan Brian dengan minum beberapa pil penunda kehamilan yang biasa dikonsumsi keluarga berencana. Baginya ini simbiosis mutualisme.
Asal sama sama enak, mereka berdua gak keberatan. Gak ada yang merasa dirugikan untuk saling teriak ah di ruang yang sama. Menimbulkan suara decitan yang merdu. Hahaha, memabukkan kan?

KAMU SEDANG MEMBACA
Chocolate🍫
FanfictionCokelat. Warna pekat yang memberikan rasa manis. Sangking manisnya, bisa buat gigi kamu ngilu gak karuan. Meninggalkan rasa manisnya di lidah, gigi, kerongkongan untuk waktu yang singkat namun memabukkan. Kalau cokelat dibiarkan lama di ruangan terb...