Cokelat.
Warna pekat yang memberikan rasa manis.
Sangking manisnya, bisa buat gigi kamu ngilu gak karuan. Meninggalkan rasa manisnya di lidah, gigi, kerongkongan untuk waktu yang singkat namun memabukkan.
Kalau cokelat dibiarkan lama di ruangan terb...
Cerita ini sebaiknya dibaca saat tidak berpuasa. Pembaca HARUS berumur 17 tahun ke atas. Warning: Mature content Abusive Harsh words
Untuk doa yang tidak pernah selesai.
Amin. ———————
Regina akhirnya datang untuk menonton Dina Enam di salah satu acara festival musik. Seperti yang dijanjikan minggu lalu, dia dapat all access dan sekarang sedang merenung di barikade belakang panggung.
Jarinya sesekali dijentikan karena merasa takut dan hatinya gak enak. Seperti akan ada sesuatu yang menyiksanya.
Sejak pagi tadi, Regina berbohong ke Jevian. Dia meminta izin untuk pulang larut malam dengan alasan kerja. Kerjanya gak bisa ditinggal banget. Bahkan Regina sempat menangis sujud sujud untuk diizinkan. Ini beneran. Gak heran sekarang Regina menggunakan kacamata hitamnya.
Anak-anak Dina Enam awalnya ketawa liat kacamata yang bertengger di hidung cewek itu. Ngakunya sih style biar kece ala anak band. Padahal cewek itu hanya ingin menutupi mata bengkaknya.
Regina berhasil diizinkan dengan alasan kerja. Inget, kerja. Tapi kan kenyataannya bukan kerja. Dia malah nyasar ke acara festival. Yang cewek itu takutin sekarang, Jevian akan muncul di hadapannya. Walaupun presentasenya cuma 0.00001% karena cowok itu gak terlalu suka keramaian.
Brian yang lagi cari udara segar mendapati Regina yang berdiri sendirian. Ia menghampirinya, "diem aja, mbak?"
Cowok itu mengeluarkan satu slop rokok dan mengambilnya satu. Batang itu kemudian diselipkan di antara bibirnya, "lo ngerokok gak?" Brian menyodorkan kotak rokok yang menampilkan deretan batang berwarna putih ke cewek yang berdiri di sebelahnya.
Regina tersenyum simpul waktu sadar bassist Dina Enam berdiri di sebelahnya. Setelah itu membuang mukanya, sibuk dengan pikirannya.
"Nih, gue gak hobi ngelinting kok." Brian menegaskan.
"Haha, sialan. Siapa juga yang mikir lo begitu?"
"Ya, siapa tau lo mikir gitu? Anak band kan dikenal dekat barang gituan." Sekali lagi Brian menyodorkan slop rokoknya. Cewek itu berakhir mengambil sebatang dari kotak yang sedari tadi dipegang oleh Brian.
Cowok itu secara sukarela menyalakan pemantik api dan membakar ujung rokok untuknya serta cewek di sebelahnya. "Lo capek?" Tanyanya.
Cewek itu mengepulkan asap yang berlawanan dari arah asap rokok Brian. Dan kembali menoleh melihat wajah Brian dari samping. Hidungnya yang bangir membuat Regina terkesima, itu hidung atau perosotan yang biasa ia temukan di taman?
Matanya yang kecil membuat perut Regina tergelitik. Matanya hampir mirip dengan mata Jevian. Ujungnya runcing. Terkadang mata itu dapat berubah jadi tajam dan ganas, kadang juga bisa lembut seperti kapas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.