8. Kejar-kejaran

7 2 4
                                    

Syifa memutar bola matanya “Kamu nyuruh aku cuci jaket kamu lagi?” tanya Syifa.

“Bukan, ini untuk lo pake. Sebentar lagi hujan, gue tau lo pulang pakai motor, dan lo pasti ngak bawa jas hujan.” Ujar Raiyan lembut.

Syifa melongo dibuatnya. Raiyan yang sudah tampan, ditambah lagi berbicara dengan lembut, sungguh manis.

“Yaudah, gue duluan.”

“Kok sekarang jadi manis?” gumam syifa.

“Astaughfirullah, Syifa.” Ujarnya kepada diri sendiri. Cepar-cepat Syifa beristighfar.

Ada yang aneh dari motor yang dikendarai syifa. Syifa memilih berhenti dan mengecek kondisi motornya, ternyata ban motornya bocor.

“Astaughfirullah, kok bisa bocor sih sebentar lagi mau hujan lagi.” Ujarnya panik.

Apalagi disekitar daerah ini sepi, dan tidak ada tempat untuk tambal ban. Perlahan syifa mulai mendorong motornya. Dari kejauhan Syifa melihat
Raiyan bersama seorang perempuan. Motor Raiyan melaju begitu saja saat melewati Syifa.

“Itu bukannya kak Rani, ya? Raiyan kok ngak berhenti sih, bantuin gitu.” Gumam Syifa.

Tiba-tiba saja hujan turun dan membasahinya. Kurang apalagi kesialan Syifa saat ini. Syifa langsung memakai jaket pemberian Raiyan tadi.

“Kenapa dek?” tanya seorang sedikit berteriak ditengah derasnya hujan saat ini, yang memakai seragam sekolah yang sama dengan syifa.

“Kak Naufal? Ban motor Syifa kempes, Kak.”

“Ayo naik.” Ujar naufal yang masih duduk diatas motornya.

“Tapi kak....”

“Nanti kakak suruh orang untuk benerin ban motor kamu. Ayo buruan naik, kita pulang.”

Kita? Aku dan kamu adalah kita? Astaga barusan kak Naufal menyebut kita? Ingin rasanya Syifa menari ditengah derasnya hujan sekarang.

Siapa pun ayolah, tidak akan ada orang yang normal saat kebucinannya terbalaskan.

Meski tak banyak usaha yang dilakukan Syifa. Hanya mampu melihat wajahnya meski hanya sekilas. Semua ini tidak akan terjadi tanpa garis takdir yang telah tertulis untuknya. Saat sebuah ilusi seorang secret admire yang menjadi kenyataan.

“Emang ngak apa-apa kak? Kitakan bukan mahrom. Nanti kalau ada orang yang salah paham gimana?” Tanya Syifa hati-hati.

“Insya allah ngak apa-apa. Inikan keadaanya genting Syifa. Sekarang hujan, motor kamu rusak. Masak ia kakak biarin kamu sendiri disini, tempatnya juga sepi lagi. Ayo naik, hujannya tambah deras nih.”

“I..iyaaa...kak.”

Mereke berdua melaju ditengah derasnya hujan.

“Pelan-pelan kak Syifa takut jatuh.” Teriak syifa dari belakang.

Orang akan mendadak budek saat memakai helm, membawa motor dengan kelajuan di atas rata-rata, di tambah suara hujan yang sangat deras.

“kamu pegangan sama kakak, Syifa.”

“Tapi..kita kan..”

“Pegang bahu kakak!” perintah kak Naufal, saat itu juga ia menambah kecepatan motornya.

Refleks saja syifa langsung memegang pundak kak Naufal, hanya pundak. Selama diperjalanan mereka hanya diam, sampai ka Naufal membuka suara untuk bertanya alamt rumahnya Syifa.

“Makasih ya kak.”

“Sama-sama, oh iya motor kamu sebentar lagi dianter kerumah kok. Kakak pamit dulu.”

Garis TakdirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang