Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Apa yang kamu lihat dengan menggunakan mata belum tentu semuanya adalah kebenaran. Kamu dan aku, kita hanya seorang manusia. penglihatan kita terbatas. Hanya sebatas mampu melihat bukan memahami. Seperti matahari yang seakan tenggelam dimakan laut. Hal itulah yang mampu kita lihat dengan mata. Namun cobalah untuk lebih memahami, coblah untuk mengenali, maka kita akan tahu bahwasannya laut tidak sekejam itu. Laut tak pernah memakan sumber cahaya bumi. Karna yang sebenarnya bumilah yang mengelilingi matahri, sehingga separuh permukaan bumi tidak terkena cahayanya.
Begitupun hidup. Tak semua yang tampak dimata adalah sebuah kebenaran. Kita perlu meneliti untuk mendapatkan sebuah bukti. Percayalah seseorang memiliki suatu alasan dari segala tindakannya. Berhentilah men-judge orang lain tanpa mencoba untuk memahami dan merasakan berada diposisinya.
“Lo itu kenapa sih?” tanya Raiyan.
“Ngak kenapa-napa.” Syifa masih terus membaca buku bacaannya, tanpa menoleh sedikit pun kepada Raiyan yang berada disampingnya.
“Trus kenapa lo selalu nghindar? Lo benci sama gue?”
“Ish! Ngak tau.”
“Kalau jawab itu yang jelas Syifa. Jangan abu-abu. Gue tau pasti hidup lo ngak berwarnakan? Ya udah sini dekat-dekat sama gue. Gue akan buat kehidupan lo berwarna.”
Belum sempat menjawab, sebuah suara lembut datang memanggil nama Raiyan. Seorang perempuan cantik, berambut panjang kecoklatan, kulit yang cerah, serta hidung yang mancung sudah berdiri disana.
“Raiyan” sapanya, perlahan kakinya mulai melangkah memasuki kelas yang hanya diisi oleh beberapa murid saja, karena sekarang sedang jam istirahat. Perempuan itu dengan santai memasuki kelas tersebut, diiringi dengan senyumannya.
“Haii.” Sapa Raiyan sedikit kikuk.
Sementara Syifa masih sibuk dengan buku yang dibacanya, ia tahu kehadiran Rani disini namun Syifa lebih memilih untuk berpura-pura seakan tidak tahu, dan tidak peduli.
“Woii tau gak, ternyata nenek moyang manusia itu nabi Adam sama Siti Hawa. Bukan dari monyet.” Teriak Khaira.
“Tapi kata Omah kan dari hewan.” Ujar Aura.
“Agama lo islam kan? Ngapain percaya sama teori yang kagak bener begituan. Makanya baca al-qur’an bukan novel doang.” Sahut Bella.
“Ihhh kalian kok gitu sih sama Aura :’(
“Sadgirl.” Sambung Alana.
“Kekantin yok guys. Ngapain istirahat pada sibuk sama buku, hp. Kita tuh di kasih jam istirahat untuk meringankan beban otak.” Ucap Khaira.
“Sok bener lo jadi orang. Bilang aja pengen modus liat cogan dikantin.” Justin, sang ketua kelas.
“Tau aja lo.”
“Ayo Faa, temanin gue ke kantin.”
“Gue ikut dong.” Pinta Aura.
“Gue juga.” Ujar Alana.
“Guee jugaaa---
Belum selesai mengucapkan kalimatnya Justin sudah terkena semprotan suara toa masjid “Lo ngak boleh ikut! Jagaiin kelas, jangan sampai kemalingan.”
“Tapi kan ada Bella.” Sesaat menyebutkan nama Bella. Ternyata sang Pangerannya telah menjemput di depan kelas.
“Byee, gue duluan.” Ujar Bella.
“Udah sana masuk kelas!”
“Tapi ntar gue jadi nyamuk dong. Nemenin orang pacaran.” Ujar Justin sembil melirik ke arah Raiyan dan Rani yang sedang tertawa.
“Karna itu, lo ngak boleh biarin orang yang bukan mahrom berdua-duan. Sana pergi!” usir Khaira.
Dengan terpaksa Justin pun masuk ke kelas.
~~~~
Di katin Khaira tengah menyantap makanannya bersama Khaira, Aura, dan Alana. Tak ada yang berbicara, mungkin mereka sekarang sangat kelaparan.
“Haii.” Suara bass seseorang memecah keheningan di sela-sela makan mereka.
“Haii juga kak.” Balas Aura. Dasar Aura, tampang doang yang polos, giliran ketemu cogan agresif banget. Entah kenapa Syifa bisa berteman akrab dengan mereka.
“Syifa, boleh bicara sebentar?” tanya kak Naufal hati-hati.
“Boleh kak.” Ujar Syifa.
“Ayo.”
“Ehhh bentar kak, Syifanya mau di bawa kemana?” cegah Khaira.
“Ke luar kantin doang. Ngak jauh-jauh kok. Ayo Syifa.”
Sepanjang jalan Syifa hanya diam sesekali ia menundukkan kepalanya. Baru kali ini, ia berjalan berdua dengan teman laki-laki di sekolahnya. Syifa pun memilih berjalan sedikit di belakang kak Naufal. Entahlah, ia kurang nyaman jika harus berjalan bersampingan.
“Udah sampai.” Kak naufal membuka suara saat mereka telah sampai di depan labor kimia.
“Ada apa kak?” tanya Syifa to the point. Di sini mereka hanya berdua, dan hanya sedikit orang yang lewat disini.
“Ngak tau.” Ujarnya disertai cenggiran.
“Haa?!” Kak Naufal membawanya dari kantin ke sini jauh-jauh, dan tidak mengatakan apa-apa.
Kak Naufal terlihat kikuk sendiri. Baru pertama kalinya ia mendekati perempuan, dan sialnya perempuan yang didekatinya malah tidak peka.
“Eh, Syifa tunggu.”
Syifa memberhentikan langkahnya, “ada apa lagi kak?”
Raiyan menggigit bibir bawahnya, “Hmm minta nomor handphone kamu, boleh?”
“Untuk?” tanya Syifa.
“Menjalin silaturrahim. Sebentar lagikan kaka tamat. Pasti kita bakal terpisah oleh jarak dan waktu.” Jawab Kak Naufal asal.
“Boleh.” Ujar Syifa tersenyum, lalu mengetikan nomor ponselnya di handphone kak Naufal.
“Indahnya ciptaanMu Ya Allah, Masya Allah.” Batin Kak Naufal.
“Udah kak, Syifa pamit dulu ke kantin.” Ujar Syifa pergi meninggalkan Kak Naufal dengan hati berbunga-bunga.
Saat melewati lapangan basket, Syifa dikejutkan oleh seseorang yang mencegah jalannya.
“Mau kemana lo? Darimana?” tanyanya.
“Bukan urusan kamu. Sana minggir!” selalu saja Raiyan merusak moodnya. Cuaca seakan mendung seketika.
Raiyan masih berdiri mematung didepannya, dengan jarak yang cukup jauh. Syifa melangkah kekiri, Raiyan juga ikut melangkah kekiri. Syifa melangkah kekanan, Raiyan pun ikut melangkah kekanan.
“Kalau mau lewat lo harus jawab pertanyaan gue.”
“Apa?!” Syifa memutar bola matanya, malas sekali rasanya jika harus berurusan dengan Raiyan.
“Bahasa Inggrisnya pintu apa?” tanya Raiyan.
“Door.” Balas Syifa, tanpa melihat ke arah Raiyan.
“Arghhh gue ditembak.” Ujar Raiyan sambil memegangi dadanya. Seakan Syifa barusan menembaknya tepat di dada dan mengenai hatinya meski hanya lewat kata-kata.“Apaan sih!” syifa merasa sama sekali tak tertarik dengan yang dilakukan Raiyan barusan.
Raiyan menatap kepergian Syifa. Entah dia sadar atau tidak, bibirnya membentuk lengkungan sempurna saat ini.
Otakku memikirkan dia, tetapi aku menjalin hubungan dengan orang lain.
Entahlah, yang jelas dia benar-benar telah menempati hati ini. Tak peduli dengan siapapun aku dan dia saat ini. Yang penting suatu saat nanti aku harus bersamanya!

KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
RandomKetika jalan hidupku telah diatur oleh-Nya. Aku hanya mampu menjalinanya. Slalu berdo'a untuk baik-baik saja kedepannya. Namun mengapa sekarang semuanya berubah menjadi rumit? Rabu, 25 Maret 2020