Kilas Balik Madani~

7K 802 45
                                        

-Awali dengan Bismillah dan akhiri dengan Alhamdulillah-

🌼🌼

"Di balik sikap dingin seseorang terkadang tersimpan sesuatu yang tidak pernah kita ketahui dari masa lalunya. Sebab itu, jangan pernah menilai seseorang hanya karena sikapnya yang kurang baik. Karena hati, siapa yang tahu?"
Indahnursf~

🌼🌼

Jika di tanya tentang mimpi saat kamu masih berusia belasan tahun, maka aku akan menjelaskan tentang mimpiku sejak usiaku sepuluh tahun.

Aku lahir di dunia ini dan saat itu juga ibuku pergi meninggalkanku selamanya. Aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya di sayang sama sosok perempuan yang di sebut sebagai bidadari tanpa sayap. Dulu, aku pernah protes pada Tuhan kenapa ibuku di ambil saat aku hadir ke dunia ini. Apa semua itu karena aku anak pembawa sial?! Dulu aku sempat berpikir demikian. Terlalu anak-anak ya, seperti itulah aku dulu. Namun, ayah selalu memberitahuku bahwa hidup ini tidak ada kata sial. Kesialan itu ketika kita tidak dekat dengan Tuhan, baru namanya sial. Aku di didik oleh ayahku sendiri, walau dulu saat kecil juga aku di didik sama adiknya ayah yang kini telah meninggal dunia karena sakit asma dan serangan jantung. Aku sedih sekali, sebab beliau sangat sayang padaku layaknya seorang ibu. Beliau belum menikah sebab sejak muda beliau sudah sering sakit-sakitan dengan berbagai penyakit, sebut saja komplikasi. Beliau baik sekali, Surga insyaa Allah untuk beliau.

Ayah punya bisnis di berbagai macam jenis. Aku suka pada ayah yang pekerja keras. Aku suka dengan ayah yang tidak pernah menunjukkan lelahnya di depanku. Aku suka gaya ayah yang apa adanya walau dia memiliki uang yang lebih jika dia ingin bergaya layaknya lelaki lainnya yang sudah tak beristri. Oh iya, ayah tidak menikah lagi sejak ibu meninggal, bukan karena ayahku tak laku, banyak kok janda-janda dan gadis yang memikat ayah sejak aku kecil. Bahkan menurutku ayah cukup tampan dan manis, ayah juga tipe lelaki idaman karena sikapnya yang lemah lembut dan bertanggung jawab. Namun, lagi-lagi aku di kagumkan dan di buat tercengang dengan sikap ayah yang sangat mencintai ibu. Yaps, ayah menolak banyak perempuan lain hanya karena ibu masih berada di hatinya bukan untuk sekarang, tetapi selamanya. Ayah romantis menurutku, bahkan sangat romantis sekali. Aku masih ingat dulu ada beberapa perempuan yang terang-terangan mau menjadi ibu sambung untukku dan masuk ke keluarga kami. Tetapi, dengan tegas ayah mengatakan kalau ayah tidak ingin berbagi kasih untukku. Ayah tidak ingin ada pengganti ibu di dalam hidupku. Bagi ayah, ibu dalam keluarga kami cuma satu, dan dialah ibuku untuk selamanya.

Ah jika mengingat itu aku rasanya ingin memeluk ayah. Mendekap tubuh rentahnya itu dengan penuh kerinduan. Aku rindu kehangatan darinya. Aku rindu mendengar ocehannya hanya karena sikapku yang selalu manja dengannya. Sebenarnya aku memang suka bersikap manja sebab ayah tak pernah marah padaku. Dengan senyum khasnya beliau akan memelukku seraya menarik hidungku dan mengatakan kalau aku perempuan yang manja dan menggemaskan.

Ayah, Lisa rindu ayah.

Dan untuk kali ini pun aku tetao ambyar jika membahas soal ayah dan kasih sayangnya. Setiap hari ayah tidak pernah lupa mengingatkanku untuk mengirimkan doa-doa terbaik kepada ibu. Ayah bilang, ibu malaikatku tanpa ada yang bisa mengganti posisinya. Ya, benar itu dan aku sangat menyayangi ibuku walau aku tidak pernah merasakan hangatnya pelukan ibu tapi bagiku ibuku malaikat hidupku. Lihatlah,... Ibu rela mengorbankan nyawanya hanya untuk aku. Memang, takdir itu sudah di atur Tuhan, tetapi takdir ibu meninggal karena saat melahirkan aku. Itu membuatku semakin menyayangi ibu.

Dulu, aku pernah berhenti berpikir egois dan memikirkan kebahagiaan ayah yang menurutku tidak lengkap karena tanpa peran seorang istri. Awal-awal dulu aku membenci perempuan-perempuan yang berusaha mengambil hati ayah untuk bisa menjadi ibu sambungku dan menjadi istri ayah. Tetapi saat aku masuk SMA, aku berusaha memahami ayah. Aku sering melihat ayah menangis sendirian di kamarnya, aku rasa ayah merasa kesepian. Ayah selalu bercerita berbagai hal kepadaku, itu pasti. Tetapi, tidak menutup kemungkinan hal-hal kecil dalam hidup ayah harus beliau ceritakan juga, kan padaku? Aku tahu posisi anak dan istri itu berbeda tempat. Aku berusaha untuk memikirkan perasaan ayah dan aku beranikan diri untuk bilang ke ayah kalau memang ayah memerlukan istri aku siap mendapat ibu tiri. Aku tidak keberatan, kataku waktu itu pada ayah. Tetapi, kalian tahu apa yang ayah jawab?! "Hidup ini tidak serta-merta tentang menikah saja, Anakku. Hidup sekali, mati sekali, dan menikah pun sekali. Kalau pun menikah lagi demi agama tidak masalah bahkan itu wajib, demi dakwah Islam, itu berkah. Tetapi, jika ayah ingin menikah lagi dengan alasan karena ayah kesepian, ayah rasa itu tidak pantas untuk ayah lakukan. Ayah tidak merasa kesepian walau ibu sudah tidak ada lagi di samping ayah, sebab sejatinya hidup ini memang selalu sendirian, Nak. Kita lahir dan mati sendirian, di tempat yang gelap, itu sudah kodratnya dan untuk alasan ayah kesepian menurut ayah tidak pantas untuk ayah jadikan alasan ayah berbagi cinta ibumu. Ayah bersedih bukan karena hal itu, tetapi ayah memikirkan dirimu, Sayang.... Apakah ayah akan bisa mendampingimu setiap saat hingga anak ayah ini mendapatkan pendamping yang bisa menggantikan posisi ayah dalam hidupnya. Itu yang ayah pikirkan sekarang. Kita tidak pernah tahu tentang umur, kan?" Aku menangis kala itu mendengar ucapan ayah. Betapa romantisnya ayah. Betapa manisnya ayah memperlakukan perempuannya. Hak yang paling aku syukuri kepada Tuhan, selain aku terlahir sebagai seorang muslim, aku juga bersyukur sebab Allah jadikan aku anak dari seorang lelaki bertanggung jawab, lemah lembut, dan beriman.

Madani (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang